Pelaku kejahatan siber semakin canggih dalam setahun terakhir, menggunakan teknik yang membuat mereka lebih sulit dikenali dan bahkan mengancam target yang paling cerdas sekalipun. Demikian laporan tahunan baru, Digital Defense Report, yang mencakup tren keamanan siber dari tahun lalu.
Lalu bagaimana untuk mengalihkan dan mencegah aktivitas berbahaya itu? Tom Burt, Corporate Vice President, Customer Security & Trust, Microsoft, dalam siaran pers, 2/10, menjelaskan, “Kami menggunakan kombinasi teknologi, operasi, tindakan hukum, dan kebijakan.”
“Sebagai ukuran teknis, misalnya, kami berinvestasi dalam kampanye clustering intelligence yang canggih di Microsoft 365 untuk memungkinkan tim pusat operasi keamanan (SOC) mengumpulkan kampanye yang semakin kompleks ini dari fragmen-fragmen yang ada,”
“Kami juga berusaha mempersulit pelaku kejahatan untuk beroperasi dengan menghambat aktivitasnya melalui tindakan hukum. Dengan mengambil tindakan proaktif untuk merebut infrastruktur berbahaya mereka, pelaku kejahatan kehilangan visibilitas, kemampuan dan akses di berbagai aset yang sebelumnya berada di bawah kendali mereka, dan harus dibangun kembali.”
“Juga, sejak 2010, Digital Crimes Unit telah bekerja sama dengan penegak hukum dan mitra lainnya dalam 22 gangguan malware, yang berhasil menyelamatkan lebih dari 500 juta perangkat dari serangan penjahat dunia maya,” ungkapnya.
“Namun, dengan semua sumber daya yang didedikasikan untuk keamanan siber, kontribusi Microsoft adalah sebagian kecil dari apa yang diperlukan untuk mengatasi tantangan tersebut.”
“Jadi, hal ini membutuhkan kontribusi dari pemangku kebijakan, komunitas bisnis, lembaga pemerintah dan, pada akhirnya, individu untuk membuat perbedaan yang nyata, serta memberikan dampak yang signifikan melalui informasi dan kemitraan.”
“Inilah salah satu alasan Microsoft meluncurkan Security Intelligence Report pada tahun 2005, dan itulah salah satu alasan mengapa perusahaan mengembangkan laporan tersebut menjadi Digital Defense Report baru ini. Microsoft berharap kontribusi ini akan membantu kita semua bekerja sama dengan lebih baik untuk meningkatkan keamanan ekosistem digital,” kata Tom Burt.
“Oktober adalah Bulan Kesadaran Keamanan Siber (Cyber Security Awareness Month) di AS dan ini adalah saat yang tepat untuk mempertimbangkan perubahan yang masih perlu dilakukan selama pandemi ini. Kami yakin setiap industri di Indonesia memiliki potensi untuk menjadi data resilient, dan saya berharap alat dan laporan kami dapat membantu memberdayakan bisnis untuk mencapai lebih banyak lagi pada masa depan pasca COVID-19,” tutup Haris Izmee.
Baca: Laporan Mengungkap Meningkatnya Kecanggihan Ancaman Dunia Maya














