Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2019, perkiraan jumlah pemuda berusia 16-30 tahun di Indonesia sebanyak 64,19 juta jiwa atau seperempat dari total penduduk Indonesia. Menurut Microsoft jika seluruh anak muda Indonesia bersatu memberdayakan Indonesia, maka Indonesia dapat menjadi negara yang maju dan kuat.
Untuk itu, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Microsoft membagi pembelajaran yang didapat dari enam sosok inspiratif muda di Indonesia tentang bagaimana mereka berusaha memberdayakan Indonesia dalam perannya masing-masing.

Arfan Arlanda, CEO dan Founder dari Jejak.in, perusahaan teknologi rintisan yang memiliki misi untuk mempercepat aksi iklim melalui solusi berbasis AI dan IoT. “Keputusanmu hari ini menentukan masa depan kita. Ambil tindakan dan bangunlah dunia yang berkelanjutan. Mari kita mulai selamatkan hari esok,” ujar Arfan Arlanda.
Rahma Utami, Founder dan Konsultan Aksesibilitas Suarise, perusahaan sosial end-to-end yang berfokus pada penyediaan serta promosi akses dan peluang yang setara ke Internet dan digital bagi penyandang disabilitas, terutama bagi penyandang tunanetra.

“Berkarya itu bukan selalu di mulai dari yang kita suka, tapi juga di mulai dari yang kita bisa mumpung badan kita masih punya daya; entah itu waktu, tenaga, dana, ilmu, atau membuka kesempatan. Dan yang paling penting, membawa orang lain untuk berdaya juga, meski caranya bisa jadi gak sama,” pesan Rahma Utami.
Gilang Margi Nugroho, pengusaha kuliner online dengan nama Kepiting Nyinyir. Dengan kekuatan media sosial, ia membangun bisnis kuliner tanpa memiliki restoran dengan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di area tempat tinggalnya. “Jangan perbaiki yang sudah ada. Buatlah hal baru dan kejutkan semua orang. Itulah kunci sukses bersaing di era digital ini,” kata Gilang.

Fashion designer muda Indonesia, Myrna Myura, yang dikenal sangat detail dalam mendesain dan membuat pakaian, terutama kebaya pernikahan. Memulai karir sejak usia 20-an, kini iaa telah memiliki ribuan klien, termasuk para pesohor tanah air. “Bakat saja tidak cukup, perlu komitmen dan dedikasi tinggi terhadap apa yang kita kerjakan. Karena tidak ada jalan pintas untuk menjadi sukses,” kata Myrna Myura.

Bermodalkan minat dan semangat berbagi pengalaman sebagai pengguna teknologi, Ario Pratomo, Content Creator, yang awalnya membuat konten hanya untuk menyalurkan hobi dan ketertarikannya pada dunia teknologi, kini menjadikan hobinya tersebut sebagai sebuah profesi.
“Sumpah Pemuda bukan lagi cuma mengucap berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu saja. Sudah waktunya kita menjadi individu terbaik dengan berdaya di bidang apapun yang kita tekuni, di manapun kita berada dengan bahasa apapun sambil tetap bangga bahwa kita orang Indonesia. Bisa kan?” pesan Ario Pratomo.

Di dunia literasi digital ada Aulia Halimatussadiah, Co-founder & CMO Storial.co, platform untuk membaca novel online dan mengunggah cerita di mana saja dan kapan saja. Di masa pandemi ini. Lia berpesan kepada anak muda Indonesia, “Daripada hilang harapan, hiduplah dengan rasa keingintahuan yang tinggi.”

Sebagai perusahaan teknologi yang memiliki visi untuk memberdayakan Indonesia, Microsoft memiliki budaya “pelajari semua” atau “learn it all” yang bertujuan merangkul keingintahuan, mengambil pembelajaran serta menerapkannya untuk kesuksesan di masa depan.
Microsoft memungkinkan transformasi digital untuk era cloud cerdas dan edge cerdas. Misinya adalah memberdayakan setiap orang dan setiap organisasi di planet ini untuk mencapai lebih.














