JAKARTA, Itech – Sejak 2012 lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus melambat dari 6 % menjadi sekitar 5%. Dampaknya biaya logistik di Indonesia pun menjadi paling mahal di lingkungan ASEAN yakni mencapai 27%. Karenanya, perlu pemikiran dan terobosan yang lebih menyeluruh dalam membenahi permasalahan tersebut dan salah satunya bisa dengan cara melibatkan berbagai pakar ekonomi dan juga teknologi.
Dikatakan Kepala Staf Kepresidenan RI, Luhut Panjaitan, Presiden RI, Joko Widodo mendukung industri dalam negeri guna meningkatkan kemandirian ekonomi bangsa. “Banyak sekali kekayaan alam dan modal intelektual yang dimiliki Indonesia. Semua itu harus kita padukan untuk meningkatkan kemandirian bangsa kita dari pihak asing,” kata Luhut Panjaitan di dampingi oleh Kepala BPPT, Unggul Priyanto saat mengunjungi beberapa Laboratorium BPPT di Puspiptek Serpong, (6/7). Diantaranya laboratorium yang dikunjungi diantaranya yakni Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran, Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur, dan Balai Termodinamika, Motor dan Propulsi.
Sementara itu, Kepala BPPT, Unggul Priyanto mengatakan, BPPT memiliki 17 laboratorium, diantaranya Balai Besar Teknologi Energi, Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi, UPTPengembangan Seni dan Teknologi Keramik dan Porselin. Menurut Unggul, BPPT pun sudah siap untuk menjadi tempat pengujian prototipe yang dihasilkan industri strategis. Ia mencontohkan, untuk pesawat terbang bisa dilakukan uji terowongan angin sirkuit di Laboratorium Aero Gas dan Getaran BPPT di Puspiptek Serpong.
Dalam kesempatan itu, dilakukan penandatanganan naskah kerja sama tersebut dilakukan oleh BPPT, ITB, PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Pindad (Persero), PT PAL Indonesia (Persero), PT Dahana (Persero), dan PT LEN Industri (Persero).Disebutkan, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad telah mampu memproduksi peralatan militer. “Pemerintah ingin industri strategis bersinergi, sehingga tidak perlu impor. Semua kebutuhan militer bisa terpenuhi dari kemampuan sendiri. Dengan adanya sinergi yang kuat antar industri, perguruan tinggi, dan BPPT maka 80 persen hasilnya buatan dalam negeri,” tambah Luhut. (red/ju)
(red/ju)














