Jakarta, ITWorks- Laukita, bisnis kuliner pionir industri ready meals di Indonesia dengan keunggulan dalam menggabungkan cita rasa Indonesia dengan solusi teknologi untuk model bisnis yang berkelanjutan, di bawah naungan Umara Group mendapatkan pendanaan dari PT. Amartha Koru Management (AKM).
“Produk, model bisnis, serta dampak sosial yang telah diciptakan oleh Laukita sejauh ini menjanjikan bukan hanya sebatas makanan siap saji dalam kemasan, namun sebuah gebrakan solusi terbaik makanan masa depan. Kami pun semakin yakin dengan hal ini setelah melihat kemampuan adaptasi tinggi yang Laukita tunjukkan selama masa pandemi ini. Sebagai investor dan rekan kolaborasi, kami siap mendukung Laukita melebarkan sayapnya bahkan hingga ke luar negeri agar nantinya kuliner Indonesia dapat beredar luas di mancanegara,” papar Lisa Iskandar, perwakilan dari AKM dilansir melalui siaran pers hari ini (2/3), di Jakarta.
Kepercayaan pendanaan dari investor ini tak lepas dari performa bisnis Laukita yang sangat positif meski di tengah kondisi pandemi. Selama tahun 2020 lalu, penjualan produk Laukita mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini antara lain didorong oleh inovasi kuliner dan model bisnis unik yang dikenalkan Laukita kepada publik.
“Dengan menggabungkan inovasi resep nusantara dan teknologi, Laukita kami hadirkan sebagai one-stop solution yang menjawab kebutuhan, selera, dan jenis pola makan masyarakat yang beragam. Semua ini dikemas dalam bentuk produk ready meals berkualitas premium tanpa bahan pengawet yang bisa disajikan dengan praktis hanya dalam 3 menit. Laukita pun menjadi yang pertama menggunakan teknologi kemasan vacuum-packed untuk makanan siap saji di Indonesia. Kami bangga dan senang karena inovasi yang kami hadirkan tersebut mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat dan pengakuan dari para investor,”papar Founder Laukita Adhia Absar Arryman.
Co-Founder Laukita Dimas Beck mengungkapkan, bahwa peluangn bisnis ini masih terbuka. PIhaknya akan melakjukan berbagai inisiatif seperti membentuk tim reseller tanpa modal, serta membuka peluang sebagai stockist dengan biaya ringan, sehingga mereka pun dapat lebih mudah untuk mulai berbisnis tanpa harus punya risiko yang tinggi.
Soal peluang, Dimas mengatakan para stockist tidak perlu khawatir apakah tren konsumsi ready meals akan tetap bertahan. Riset dari Grand View Research bertajuk “Ready Meals Market Size, Share & Trends Report” mencatat bahwa, pasar makanan siap saji secara global mencatat nilai USD 159,15 miliar pada 2019 dan diperkirakan akan terus tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 5,5% dari 2020 hingga 2027. Riset tersebut juga mengungkapkan bahwa meskipun dalam kondisi pandemi, konsumen tetap membeli makanan ready meals ini karena umur penyimpanan yang lebih lama dan kemudahan dalam memasaknya. (AC)














