Ketua Yayasan Pengurus Dompet Dhuafa, Nasyith Majidi mengungkapkan tren yang menarik terkait aktivitas kurban di ruang digital Dompet Dhuafa, “Sepanjang 2019-2020 tercatat peningkatan partisipasi masyarakat untuk berqurban melalui layanan digital Dompet Dhuafa sebesar 50,66 persen.”
Menurutnya hal itu adalah efek pandemi yang di tahun 2020 yang mungkin belum dirasakan sedalam di tahun keduanya yaitu 2021. “Untuk tahun ini, saya belum bisa prediksi untuk terlalu optimis, karena kemampuan ekonomi masyarakat berkurang, dan ekonomi makro kita terdampak luar biasa,” ujar Nasyith, dalam Indonesia Islamic Marketing Festival bertema “Branding Produk Qurban: Meningkatkan Nilai dan Kualitas Produk Qurban Untuk Kemakmuran Ummat”, secara daring, Selasa, 13/07/2021.
Ia pun berpendapat pentingnya menyediakan layanan berbasis digital untuk memenuhi pola perilaku pasar yang berubah dari ranah luring (offline) ke ruang daring (online) di masa pandemi COVID-19, yang membatasi ruang gerak fisik masyarakat.
“Dalam situasi pandemi yang belum selesai kapan ujungnya ini, kami kemudian fokus ke digitalisasi. Sebelumnya, kami hanya antisipasi tren kedepan bahwa semuanya akan melalui sosial media dan digital. Kami tidak menyangka ketika pandemi banyak masyarakat yang lebih memilih keseluruhan transaksi secara digital,” kata Nasyith Majidi.
Baca: Bisa Lho, Kurban dan Daftar Haji Pakai LinkAja
Sementara, H. Nur Efendi, CEO Rumah Zakat, mengatakan selain pendekatan digital, pihaknya juga mengolah daging qurban menjadi produk lain yang dapat diberikan kepada yang membutuhkan.
Ia mengatakan Rumah Zakat memiliki sejumlah produk olahan favorit seperti Superqurban yang merupakan kornet, “Ini menjadi potensi luar biasa berupa program optimalisasi qurban dengan mengelola dan mengemas daging qurban menjadi cadangan pangan dan protein hewani dalam bentuk kornet dan rendang.”
“Distribusinya pun bisa sepanjang tahun, menjangkau pelosok, bisa masuk daerah rawan pangan bahkan bagi pengungsi di daerah bencana,” tegasnya.
Untuk optimalisasi programnya, Rumah Zakat pun menggunakan strategi digital network, people network, dan physical network, Berkolaborasi dengan LSM, stakeholder, Majlis Ta’lim, dan komunitas lainnya untuk menjaga ketahanan pangan,” tutur Nur Efendi.
Dalam acara yang sama, Drh. Tjahjani Widiastuti, Koordinator Substansi Zoonosis, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) RI mengajak masyarakat merayakan Idul Adha dengan memanfaatkan ruang digital di masa pandemi, termasuk dalam berqurban.
“Apabila memungkinkan menggunakan media online, saat pemotongan hewan hanya dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung. Jadi pengkurban, masyarakat, tidak perlu hadir di lokasi tersebut untuk mengurangi kerumunan,” himbaunya.
Ia menjelaskan Kementan melalui Ditjen PKH telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 8017/SE/PK.320/F/06/2021, tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Masa Pandemi Corona Virus COVID-19.
Surat Edaran ini mengatur mitigasi atau meminimalisasi risiko kegiatan kurban, di antaranya memperhatikan tiga hal pokok yaitu kesehatan dari hewan yang akan diqurbankan, proses penyembelihan dan distribusi daging kepada para penerima.
“Pemerintah tetap commit untuk menjaga kesehatan hewan kurban agar tetap ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) dengan menugaskan pemerintah daerah untuk melakukan pemeriksaan sebelum hari kurban dan pada saat kurban,” tegas Thahjani.














