Jakarta, Itech- Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S. Wisnubroto menyampaikan bahwa Indonesia memamparkan tentang beberapa aplikasi teknologi nuklir bidang lingkungan dan industry pada kegiatan general conference Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) di Wina 14-18 September 2015 silam.
“Saat general conference IAEA, Indonesia memaparkan mengenai aplikasi teknologi nuklir dalam bidang lingkungan dan industry. Dipaparkan juga mengenai metode neutron dalam hal analisis pencemaran udara, apalagi pencemaran lingkungan dewasa ini sudah sangat memprihatinkan, terutama di kota-kota besar ” kata Djarot di sela-sela media gathering Batan di Sentul, Bogor, Kamis (12/11).
Dalam kegiatan temu media tersebut, Djarot juga menjelaskan mengenai teknologi iradiasi yang bertujuan untuk pengawetan pada pangan dapat memberikan kontribusi pada ketahanan pangan nasional. Aplikasi teknik nuklir dalam bidang non energi menggunakan radiasi pengion memang sudah dikenal dan dinikmati masyarakat. Kuantum yang dimiliki radiasi ini mengandung energi yang cukup untuk mengionisasi molekul dari materi yang dilaluinya tanpa menimbulkan kenaikan suhu, proses ini pun dikenal dengan sterilisasi dingin.
Meskipun aplikasi teknologi iradiasi pangan belum populer di kalangan masyarakat, teknologi ini semakin diminati kalangan distributor dan eksprotir pangan di seluruh dunia sejak 10 tahun terakhir.Penggunaan radiasi pengion untuk pengawetan pangan awalnya dikaji oleh Minsch dari Jerman tahun 1896, bersamaaan dengan Becquerel yang menemukan radioaktivitas, setahun setelah von Roentgen menemukan sinar-X tahun 1895.
Pada lapis lain, Djarot juga menjelaskan terkait dengan kebutuhan dukungan tambahan pasokan energi listrik nasional, PLTN belum bisa berkontribusi pada 2019 mendatang. Tapi setelah 2019 pastinya akan berkontribusi karena pembangkit nuklir adalah pilihan terakhir dan termasuk teknologi yang ramah lingkungan. Dia juga menuturkan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan “Go Nuclear”.
Lebih lanjut Djarot menambahkan melalui media gathering ini, pihaknya ingin mengkomunikasikan manfaat dan pentingnya teknologi nuklir, “Salah satu strategi mengkomunikasikan pesan-pesan terkait isu teknologi nuklir adalah dengan menggandeng media atau jurnalis sebagai mitra strategis kami,” yakinnya. “Untuk itu, kami menggelar media gathering dengan mengundang berbagai media guna memperoleh insight mereka. Dengan membangun media relationship seperti ini, kami dapat mensosialisasikan isu-isu teknologi nuklir secara maksimal lewat media,” tutupnya. (ju/red)














