Jakarta, ItWorks- Sudah 1.5 tahun pandemi melanda Indonesia, para tenaga kesehatan, termasuk dokter, tetap tegar dan amanah menjalani kewajibannya untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Dalam kaitan ini, Halodoc mengajak masyarakat untuk mengapresiasi perjuangan para dokter se-Indonesia dengan membagikan cerita dan pengalaman bersama dokter selama pandemi melalui media sosial Twitter hingga 24 Oktober mendatang dengan menggunakan #TerimaKasihDokter.
Adapun seluruh tweet yang masuk dapat pula diakses pada https://health.halodoc.com/doctor-day/. Masyarakat juga dapat melihat tweet terpilih di digital billboard yang ada di daerah Ratu Plaza. Di Hari Dokter Nasional yang jatuh pada Minggu (24/10), Halodoc juga meluncurkan monumen virtual berupa filter Augmented Reality (AR) di Instagram yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Tiap individu dapat menempatkan monumen tersebut di sekitar lokasi tempat tinggal mereka sebagai bentuk apresiasi terhadap dokter.
“Kami tidak bisa bayangkan kondisi pandemi di Indonesia tanpa perjuangan para dokter dan tenaga kesehatan. Gerakan ini kami inisiasi dengan harapan agar dapat terus memberikan semangat para dokter dan menghimbau masyarakat untuk bersama sama perangi pandemi demi masa depan yang lebih baik. Bersama kita bisa wujudkan Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh,” ujar Chief Business Officer & Co-Founder Halodoc, Doddy Lukito dalam pernyataan tertulis kepada pers, baru-baru ini.
Dalam rangkaian hari dokter yang jatuh pada 24 Oktober, Halodoc menyelenggarakan diskusi terkait masa depan ekosistem kesehatan bersama Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).Hadir di acara tersebut, Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI, Setiaji, ST, M.Si, dan Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Daeng M. Faqih, SH, MH.
Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI, Setiaji mengatakan, saat ini Kemenkes telah membentuk Digital Transformation Office dalam rangka mempersiapkan masa depan sistem kesehatan di Indonesia. Dalam beberapa tahun kedepan, masyarakat diharapkan bisa mengakses layanan kesehatan digital mulai dari dalam kandungan hingga menghadapi kondisi kritis, dimana semua rekam medis akan terintegrasi pada satu sistem. Sehingga masing-masing orang nantinya akan memiliki personal health record. “Teknologi seperti telehealth ini tidak hanya membantu para dokter meningkatkan skill, namun juga memperluas jangkauan layanannya,” ujar Setiaji.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Business Officer & Co-Founder Halodoc, Doddy Lukito turut menekankan pentingnya peran dokter dalam ekosistem Halodoc dan kemampuan teknologi dalam memberikan akses pada masyarakat Indonesia yang lebih luas. “Dari sebelum pandemi hingga saat ini pandemi masih berlangsung, layanan Chat Dokter di Halodoc masih menjadi yang paling diminati oleh 20 juta monthly active user (MAU) kami.
Dengan bantuan dari 20.000 mitra dokter, pengalaman pengguna dan kualitas pelayanan konsultasi tetap terjaga meskipun terdapat lebih dari 10x pertumbuhan permintaan dalam platform kami, termasuk dukungan untuk program isolasi mandiri bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan bersama Kementerian Kesehatan RI. Tak kalah penting, kami juga melihat perluasan sebaran pengguna yang telah memanfaatkan layanan Halodoc dengan 25% berasal dari daerah luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Papua, Aceh, Bengkulu,” paparnya.
Di tengah kebutuhan kesehatan yang meningkat signifikan selama pandemi, data dari IDI menyebutkan bahwa terdapat 730 dokter yang gugur dalam peperangan melawan pandemi ini (data per September 2021). Untuk itu, teknologi diharapkan dapat menjadi salah satu jawaban untuk memberikan wadah konsultasi kesehatan yang lebih aman, baik bagi dokter maupun pasien. (AC)














