Penulis: Abi Abdul Jabar Siddiq
Salah satu peran strategis Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan Republik Indonesia adalah menyediakan sumber daya manusia yang andal, akuntabel, dan kompeten, serta dapat menyelesaikan tugas dengan efektif dan efisien. Aspek kunci dalam mencetak SDM dengan kriteria tersebut adalah dengan menyediakan pembelajaran yang efisien demi kebutuhan organisasi.
Sejalan dengan hal tersebut, BPPK melakukan transformasi metode pembelajaran dengan mengoptimalisasi peran serta dukungan Teknologi Informasi dalam prosesnya. Hasilnya BPPK mampu menghadirkan modern e-Learning sebagai media pengembangan dan pelatihan SDM.
Demikian seperti disampaikan Kepala Bagian Teknologi Informasi, Komunikasi dan Manajemen Pengetahuan Sugeng Satoto dalam wawancara penjurian Top Digital Awards 2021 yang diselenggarakan Majalah IT Works dan berlangsung secara virtual pada Senin (15/11/2021).
“Modern e-learning masih merupakan salah satu komponen atau produk dari Corporate University (Corpu) yang telah diperkenalkan sejak tahun 2015. Corpu ini hadir untuk mengintegrasikan berbagai metode pembelajaran dengan nilai-nilai dan tujuan organisasi Kemenkeu. Pendekatan Kemenkeu Corpu menjadikan pembelajaran menjadi terintegrasi ke dalam suatu ekosistem, sehingga setiap pegawai tidak hanya memperoleh pembelajaran melalui pelatihan (structured learning), namun juga dapat belajar dari lingkungan sosialnya (social learning) dan dari unit tempat ia bekerja (learning while working),” kata Sugeng
Sugeng mengatakan pada pelaksanaannya, modern e-learning diimplementasikan melalui pembelajaran via platform KLC (Kemenkeu Learning Center), melalui virtual meeting dan knowledge sharing di seluruh unit.
“KLC merupakan media pembelajaran online yang membahas berbagai materi tentang Pengelolaan Keuangan Negara yang dapat diakses oleh seluruh pegawai Kementerian Keuangan dan masyarakat umum. Sebagai portal pembelajaran Keuangan Negara, KLC berfungsi sebagai tools untuk menyampaikan pembelajaran dan juga tools untuk repositori atau pengelolaan pengetahuan,” ujar Sugeng.
“KLC juga telah menjadi rumah bagi ratusan e-learning dan ribuan media pembelajaran keuangan negara, baik berupa artikel, buku, maupun video, yang dapat diakses melalui laman klc.kemenkeu.go.id. Saat ini ada sekitar 5.299 video pembelajaran terkait keuangan negara yang dapat diakses kapan saja, dan dimana saja,” sambungnya.
Ia menambahkan selain pembelajaran yang sudah terprogram, KLC juga bermanfaat sebagai forum diskusi melalui fitur Community of Practice. Di sini, pengunjung KLC dapat berdiskusi terkait keuangan negara dengan rekan sejawat dan dipandu oleh pakar di bidangnya. Sampai saat ini, ada 620 forum diskusi yang bisa diakses, baik secara langsung maupun termoderasi.Portal ini mulai dikembangkan sejak tahun 2016 dan resmi diluncurkan pada semester pertama tahun 2017.
“Seiring dengan meningkatnya jumlah program dan peserta e-learning, pada bulan Februari 2020 KLC lalu dikembangkan menjadi KLC Gen 2.0 dan bisa diakses di laman https://klc2.kemenkeu.go.id/. Pengembangan ini membuat KLC 2 ini punya tampilan lebih user friendly serta telah tersedia di aplikasi smartphone. Berbagai fitur telah dikembangkan, sehingga pengunjung KLC yang ingin belajar dapat menikmati proses pembelajaran yang menyenangkan,” ucapnya.
Platform KLC berbasis aplikasi smarthphone telah support untuk android dan IoS. Aplikasi KLC memiliki lima fitur utama yakni, fitur Pelatihan yang memuat topik pelatihan keuangan negara, fitur Pengetahuan; berisi tentang berbagai video pembelajaran di KLC, fitur Bantuan; untuk mengajukan pertanyaan dan petunjuk jika mengalami kendala, fitur Akun Saya; untuk membuat akun pribadi dan memonitor perkembangan belajar selama mengakses KLC, dan fitur Lencana; dimana user bisa melihat lencana (badge) yang didapatkan setelah menyelesaikan pelatihan tertentu.
Sugeng menuturkan ada tiga alasan utama KLC ini dibangun yakni, pertama; Selaras dengan strategi Kemenkeu Corporate University dalam menyediakan Smart Learning Infrastructure yaitu menghadirkan sarana dan prasarana yang mampu memudahkan proses pengembangan kompetensi. Kedua; Memenuhi target Inisiatif Strategis Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan (ISRBTK) dan ketiga; Menyesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19 sehingga terbentuk New Normal dalam pelatihan di Kementerian Keuangan.
“KLC ini merupakan solusi IT yang kami kembangkan secara internal oleh BPPK untuk aplikasi inti didalam KLC ini ada Learning Management System (LMS) dan Knowledge Management System (KMS) yang disupport oleh modul-modul lain seperti ujian online, sertifikasi, kerjasama program pembelajaran, dashboard pembelajaran yang bisa diakses unit eselon satu untuk memantau pegawainya yang sedang belajar di BPPK. Kemudian digunakan juga untuk olimpiade keuangan Kementerian Keuangan yang pesertanya seluruh pelajar SMA yang ada di Indonesia, ” tutur Sugeng.
Sepanjang tahun 2019, BPPK telah menyelenggarakan 139 program pelatihan full e-learning dengan jumlah peserta sebanyak 142.478 peserta. E-learning tersebut diantaranya, mandatory e-learning Kode Etik yang diselenggarakan dalam 18 angkatan untuk 75.352 peserta) dan mandatory e-learning Cross Function Pengelolaan Keuangan Negara (diselenggarakan dalam 5 angkatan untuk 18.121 peserta). Pelaksanaan mandatory e-learning Cross Function Pengelolaan Keuangan Negara dilanjutkan di tahun 2020, sehingga total peserta menjadi 70.230 dengan 19 angkatan.














