Link and Match (menghubungkan dan mencocokkan) talenta digital penting untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia guna menunjang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE / E-government).
Akar masalah yang didapati sekarang adalah dosen dan pengajar belum mengikuti perubahan zaman di era digital dalam hal materi ajar; mahasiswa belum menerima sistem pembelajaran yang proaktif (problem solving, project based learning, dan research based learning); sarana kurang mendukung skill set era digital; hingga prasarana kurang mendukung pembelajaran kolaboratif dan kerja sama tim.
“Untuk itu, sudah saatnya Indonesia memperbaiki sistem penggalian kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja (link and match). Pasalnya, masih ada kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia pekerjaan,” kata Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) sekaligus Anggota Tim Pelaksana Wantiknas Prof. Zainal A. Hasibuan, dalam keterangan pers, Sabtu, 05/02/2022.
“Kita harus memiliki seni tersendiri untuk mempertajam link and match. Pengajar masih lebih dominan daripada siswa dan mahasiswanya,” tambahnya.
“Solusinya bukan hal baru, kita bisa memperkuat simpul pengembangan SDM, memberdayakan kebijakan transformasi digital sebagai playing field SDM SPBE, mendorong kampus untuk mencetak talenta digital secara masif, mendukung Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) sepenuhnya, menerapkan pembelajaran berbasis computational thinking, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi, dan melengkapi ijazah dengan sertifikasi kompetensi,” papar Zainal.
Menanggapi proyeksi World Economic Forum bahwa lima tahun ke depan separuh dari pekerjaan yang ada akan tergantikan oleh mesin, Zainal berpendapat, bahwa apapun jenis pekerjaan yang dimiliki saat ini, membutuhkan keterampilan baru agar bisa berdaya saing.
“Skill set yang baru itulah digital talent atau kecakapan digital. Mari, kita samakan persepsi, sederhananya digital talent adalah kemampuan seseorang beradaptasi dengan teknologi digital,” kata Zainal.
Lalu, memahami tentang keberadaan teknologi Revolusi Industri 4.0, ada Artificial Intelligence (AI), Blockchain, Internet of Things (IoT), Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), 3D Printing, Drones, dan Robotics.
Baca: Terkait Penerapan SPBE, Diperlukan National Chief Information Officer
Baca: Hebat, Target Pelatihan Talenta Digital Tahun 2022 Ditambah














