Jakarta, Itech- Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kementeristekdikti) mengusulkan adanya penyederhanaan pertanggungjawaban anggaran penelitian. Pasalnya, hambatan kegiatan penelitian terdapat dalam struktur penganggaran akun belanja yang menyebabkan pertanggungjawaban keuangan kepada peneliti.
Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangaan Muhammd Dimyati, mengatakan terobosan baru bagi pengembangan riset tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dalam pelaksanaan riset. “Karenanya, kami mengusulkan khususnya terkait dengan anggaran, sehingga para peneliti dapat berkinerja sesuai standar global yaitu melakukan riset dengan baik, mempublikasi hasilnya, mempatenkan, dan bertransaksi lisensi ,” katanya dalam coffee morning, di Jakarta, Jumat (19/2).
Kemenristekdikti menyusun Rencana Induk Riset Nasional sebagai panduan peta kerja teknis bagi seluruh pemangku kepentinngan nasional dalam tahap perencanaan, evaluasi, dan anggaran. Salah satu perhatian khusus yang perlu didukung untuk memperkuat kuantitas dan kualitas penelitian adalah infrastruktur. Indonesia harus mengedepankan infrastruktur mengingat seorang peneliti harus berada dekat obyek penelitian dan dengan komunitas untuk mendiskusikan letak permasalahannya tanpa halangan pekerjaan lain. Terutama terkait penyusunan pertanggungjawabab keuangan yang relatif kaku.
“Saat ini negara-negara tetangga berlomba mengejar kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran penelitian dan pengembangan Tiongkok mencapai 2% terhadp PDB. Jauh melebih Indonesia yang masih pad kisaran 0,09% terhadap PDB. Pada 2013, PDB Indonesia jauh lebih kecil sekitar 868,3 miliar dolar AS, sedangkan PDB Tiongkok 9,24 triln dolas AS. Sekilas melihat data di tahun 2010, Tiongkok berada di posisi 10 besar negara asal peneliti asing di Indonesia yang jumlahnya mencapai 3% terhadap total peneliti asing lainnya.
Pada 2011 jumlah peneliti Tiongkok di Indonesia meningkat menjadi 4%, pada 2012 naik jadi 6%, dan pada 2013 jumlahnya 8%. Riset peneliti Tiongkok di Indonesia, terutama pada bidang oseanografi menempati urutan keenam pada 2014. Peneliti asing terbanyak di Indonesia yaitu Amerika Serikat yang pada 2014 mencapai 23%. Jepanng pada urutan kedua dengan menyumbang 19% penelitinya, diikuti Perancis (14%), Jerman (13%), dan Australias (8%). Idealnya, Indonesia membutuhkan 200 ribu peneliti di berbagai bidang agar dapat bersaing dengan negara lain. (red/ju)














