Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengembangkan penerapan teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi untuk meningkatkan kualitas air baku yang tercemar limbah domestik sehingga bisa diolah menjadi air siap minum. Teknologi pengolahan air tersebut sebagai solusi permasalahan ketersediaan air minum yang layak dan bersih di Indonesia.
“Selain teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi, BPPT mengkaji terapkan teknologi online monitoring untuk pengendalian pencemaran air baku, teknologi daur ulang air limbah, serta teknologi pengolahan air gambut, juga air hujan menjadi air baku yang layak digunakan,” kata Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT.Rudi Nugroho di Gedung BPPT, Jakarta, Kamis (17/3).
Rudi yang juga Ketua Tim Air Bersih dan Sanitasi BPPT menambahkan teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi telah diujicoba di PDAM Taman Kota – Jakarta. Pada 2005 PDAM tesebut tidak beroperasi karena air bakunya hitam dan tidak bisa diolah. Selain itu, teknologi ultrafiltrasi pernah dimanfaatkan untuk pengolahan air banjir di Pluit pada 2013. Dengan teknologi ini, masyarakat terdampak banjir bisa mendapatkan air bersih untuk mandi.
BPPT juga menggunakan membran RO (Reverse Osmosis) untuk mengolah air menjadi air siap minum. “Terutama air yang mengandung kadar garam yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara langsung dengan menggunakan teknologi konvensional. Dengan RO garamnya bisa hilang atau turun,” kata Rudi yang juga Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT.
Seerti diketahui, pada 15 September 2015 target Millenium Developments Goals (MDGs) selesai dan masalah air minum atau air bersih masih menyisakan masalah. Akses air minum hingga tahun 2015 di perkotaan baru diakses 72 persen dan perdesaan 65 persen. Sedangkan dalam tujuan jaminan ketersediaan air bersih dan sanitasi dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019 seluruh masyarakat perkotaan dan perdesaan harus sudah memiliki akses 100 persen sumber air minum aman dan fasilitas sanitasi layak “Sumber air saat hujan melimpah tapi tidak bisa langsung dimanfaatkan. Saat kekeringan membuat sumber air sedikit dan perncemaran limbah domestik membuat kualitas air baku berkurang,” katanya.
Belum lagi, PDAM juga memiliki banyak kendala. Banyak PDAM harus menanggung harga produksi yang lebih tinggi dari tarif atau harga air dari masyarakat. Tingkat kebocoran masih cukup tinggi yakni rata-rata 33%. Selain itu banyak masyarakat yang tidak terjangkau sistem perpipaan PDAM yang tinggal di daerah pesisir maupun pelosok yang kualitas air bakunya kurang memadai seperti gambut dan payau/asin.
Untuk air baku atau air sungai yang tercemar limbah domestik, BPPT mengembangkan teknologi Biofiltrasi dan Ultrafiltrasi. Teknologi ini bisa digunakan untuk perbaikan kualitas air baku PDAM. Biofiltrasi ini untuk mengurai polutan-polutan organik dan polutan lain di dalam air dengan proses menggunakan mikroorganisme. Kotoran yang masih ada yang sifat fisiknya melayang-layang difilter menggunakan membran. Proses Ultrafiltrasi ini menggunakan membran dengan lubang 1/100 micron sehingga bakteri yang berukuran 0,5 micron bisa tertahan. (red/ju)















Thanks infonya gan.
Ditunggu postingan2 berikutnya.
Water Chemical Solution
Ultra Filtration