Bertempat di salah satu ruangan di Hotel JW Marriot, Aiven mengungkap sejumlah hal menarik. Aiven sendiri merupakan software as a service provider atau provider untuk teknologi open source data management. Didirikan pada 2016, Aiven memiliki misi memberdayakan para developer dalam mengembangkan aplikasi berbasis infrastruktur open source serta berfokus pada membangun aplikasi-aplikasi penting yang memberi diferensiasi.
”Kami bisa mengambil alih pengelolaan infrastruktur sehingga membuatnya senantiasa available, ter-backup, aman dan semua patches diaplikasikan. Dengan begitu, para developer bisa fokus pada tugas mereka. Sementara bagi perusahaan, kami membantu mereka untuk bergerak lebih cepat dalam menjawab berbagai kebutuhannya di tengah lansekap bisnis yang berubah cepat melalui pemanfaatan data di pusat operasionalnya,” ujar Heikki Nousiainen, CTO & Co-founder, Aiven.
Lebih lanjut, Heikki, mengatakan bahwa pihaknya melihat tantangan dan peluang yang besar, di mana ada tren besar perusahaan memanfaatkan data di core mereka dan dalam pengambilan keputusan.
Menurutnya, mereka yang sukses adalah mereka yang mampu memanfaatkan data dan memverifikasinya, dan membuat keputusan dengan lebih cepat dan lebih lincah, serta mampu menginterpretasikan data dan membangun hipotesis, mengevaluasi hasilnya, dan menerapkannya dalam setiap pengambilan keputusan.
”Perusahaan yang bisa melakukan siklus ini dengan lebih cepat akan bisa bertahan di ekosistem digital saat ini,” tandasnya.
Telah Bekerja Sama dengan Banyak Organisasi
Sebagai provider untuk teknologi open source data management, Aiven telah bekerjasama dengan lebih dari 1000 organisasi/perusahaan dari berbagai benua dan sektor. Aiven menyadari bahwa semua perusahaan sebenarnya sedang mengarah kepada ’software company’.
”Software ada di mana-mana dan setiap bisnis menghasilkan dan memanfaatkan data. Benar sekali bahwa data itu adalah ’bahan bakar’ dalam ekonomi digital dan merupakan ’engine’ dalam mendorong perubahan di berbagai industri,” jelas Heikki.
Adalah hal yang tidak diragukan bahwa peran dan pentingnya data telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir, dan value-nya bagi bisnis sekarang tak bisa diabaikan.
”Dan kita juga melihat pergeseran paradigma bagaimana perusahaan memanfaatkan data untuk reporting dan analitik yang masih tradisional menjadi pemanfaatan data secara real time untuk mendorong keputusan bisnis dan membangun layanan baru yang inovatif dan interaktif,” lanjut Heikki.
Dalam paparannya selanjutnya, Heikki juga mengungkap tren saat ini, di mana berdasarkan perkiraan IDC, ekonomi digital naik dua kali lipat pada 2025. ”Jadi, bisa dikatakan bahwa perusahaan baru akan lahir sebagai digital native dan begitu juga perusahaan yang sudah ada perlu mentransformasi diri mereka agar bisa beradaptasi pada perubahan yang cepat ini,” jelas Heikki.
Selain itu, dengan ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi US$146 miliar pada tahun 2025, Heikki mengatakan bawha kemampuan untuk mengelola aliran data sangat penting untuk memastikan keberhasilan organisasi dan startup.
”Dan karena fokus pada peningkatan pendapatan dari produk dan layanan digital, teknologi cloud akan memainkan peran yang lebih integral dalam kelangsungan dan resiliensi bisnis bagi perusahaan di Asia Tenggara, supaya mereka bisa bersaing di dunia yang mengedepankan teknologi digital,” ungkapnya.
”Tantangannya antara lain, time to market yaitu menghadirkan solusi tepat waktu dan sesuai dengan target dengan mengakselerasi pengembangan aplikasi; lalu reliability, bagaimana memastikan ketersediaan dan performa solusi itu; persiapan masa depan, yaitu apakah vendor saya bisa menyediakan kapabilitas yang diperlukan, bagaimana mencegah vendor lock-in, bagaimana cara menemukan sumber daya dan kompetensi yang dibutuhkan supaya segalanya berjalan lancar? Lalu, Total Cost of Ownership, bagaimana menjaga agar biaya tetap efisien dengan tetap menyeimbangkan dengan performa yang dibutuhkan,” tegasnya.
Mengutip riset dari Gartner, Heikki mengungkapkan bahwa pasar database management system (DBMS) menunjukkan pertumbuhan yang kuat, 22,3 persen pada 2021, utamanya didorong oleh cloud database platform as a service (dbPaaS), yang mencapai hampir 50 persen dari keseluruhan pasar.
”Studi dari IDC menunjukkan bagaimana pelanggan kami mendapatkan benefit dari penggunaan layanan open source data management, seperti penghematan biaya 37 persen lebih rendah untuk cost operasional 3 tahun. Pelanggan kami juga melaporkan time to deployment yang 4x lebih cepat dengan DBaaS versus opsi self-hosted. Pelanggan juga merasakan peningkatan produktivitas 13 persen saat menggunakan DbaaS, pengurangan DBA load sampai 2x sehingga DB administrator bisa fokus pada application logic ketimbang sekadar menjalankan infrastruktur,” ujar Heikki.
Dengan begitu, lanjut Heikki, Aiven tumbuh dan sudah on track untuk tumbuh dua kali lipat dari tahun ke tahun sejak peluncuran dan sekarang sudah melayani 1.000 pelanggan dari seluruh benua.
Adapun brand-brand besar global yang telah menjalin kerjasama dengan Aiven, termasuk Go To Financial, Vidio, dan Swift Logistics di Indonesia.
”Walaupun pasar terus berubah beberapa tahun terakhir, visi produk kami tetap valid, kami membantu pelanggan membangun aplikasi yang lebih baik dan menggerakkan bisnis mereka. Kami melakukannya dengan menawarkan database yang komprehensif dan streaming service platform, yang telah menjadi pilar bagi tranformasi cloud native bagi pelanggan kami. Portofolio produk kami terus berkembang dan kami terus menghadirkan kapabilitas yang dibutuhkan oleh pasar,” tandasnya.
Siap Dukung Percepatan Transformasi Digital di Indonesia
Sebagaimana diketahui, baru-baru ini Aiven menambahkan ClickHouse, yang memperluas portofolio kami ke market cloud data warehousing. Saat perusahaan tumbuh, begitu juga volume data yang mereka hasilkan sehingga dibutuhkan management yang efisien.
Selain itu ada juga Aiven for Clickhouse yang menawarkan analitik yang real-time dan bisa disesuaikan dengan situasi, saat terjadi volume data yang tinggi dari ’event’ data yang berlevel rendah.
”Solusi ini menawarkan kecepatan kueri yang luar biasa, dashboard yang real time, dan bisa menggabungkan data warehousing ke dalam strategi perusahaan secara keseluruhan dan memanfaatkan open source columnar database yang paling efisien untuk menghasilkan analitik yang pada akhirnya akan melahirkan insight yang akan mendorong pengambilan keputusan bisnis. Kami berharap ClickHouse menarik bagi pelanggan baru Aiven serta lebih dari 1000 pelanggan lama yang kami layani saat ini,” ungkapnya.
Tidak ketinggalan pada presentasinya di hadapan awak media, Heikki juga mengungkap tonggak penting dalam perjalanan Aiven, yaitu hadirnya Kafkawize, yang sekarang berubah menjadi Klaw, ke dalam Open Source Program Office.
”Saya juga ingin berbagi tentang ekosistem Partner kami. Platform Aiven adalah cloud-agnostic dan kami telah berpartner dengan berbagai hyperscaler global dan di Indonesia kami berpartner antara lain dengan Google Cloud,” jelas Heikki.
Tidak dipungkiri bawha cloud merupakan pendorong utama dalam membantu banyak organisasi di seluruh dunia mempercepat transformasi digital mereka. ”Di Aiven, kami ingin menjadi mitra transformasi cloud-native Anda dan ikut berkontribusi dalam percepatan transformasi digital di Indonesia,” tutup Heikki.














