Penulis: Nurdian Akhmad
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan terus melakukan transformasi digital guna mendukung visi institusi ini sebagai enabler atau penggerak pertumbuhan ekonomi nasional melalui perannya sebagai fasilitator perdagangan dan industri.
Transformasi digital di DJBC sebenarnya mulai dilakukan tahun 1990 melalui CFRS. Sistem IT yang digunakan saat itu adalah COBOL, penerimaan Dok. H/C. Data Input ini dilakukan di lima Kantor BC.
Kemudian tahun 1995, DJBC mulai menggunakan PIB DISKET, di mana data Input diganti modul importir plus disket. Pada 1997, DJBC menerapkan PIB EDII di mana disket diganti EDI dan beberapa perubahan proses bisnis di internal DJBC
Selanjutnya pada 2003, DJBC menerapkan sistem PDE Tahap II. Ada perubahan proses bisnis serta rekonsiliasi pembayaran dengan bank.
Perubahan besar terjadi pada 2007 di mana pemerintah memiliki portal INSW atau Indonesia National Single Window. Portal ini mengintegrasikan 18 instansi dan otomasi proses perizinan di Kementerian/Lembaga.
“Yang menginisiasi dan melahirkan INSW yang menjadi backbone dari G to G ini adalah institusi Bea Cukai pada 2007,” ujar Agus Sudarmadi, Direktur Informasi Kepabeanan Bea dan Cukai DJBC dalam presentasi penjurian TOP DIGITAL Awards 2022 yang dilakukan secara daring, Jumat (19/11/2022).
Hadir pula dalam penjurian ini Sarwo Edhy Teguh Widodo (Kasubdit PLD), Sigit Santosa (Kasubdit PSI), Purwadi (Kasubdit SPSI), Lies Palupi Nuryuhaeni (Kasubbag TU DIKC), Slamet Subur (Kasubbag Seksi MPTI, Misnawi (Kepala Seksi), Koyo Sumantri Adhiguno (Kepala Seksi PMSI), Oky Singgih Nugroho (Kepala Seksi MLTI), Hotmauli Simamora (Kepala Seksi AAKTI), Dartono (Pemeriksa Bea dan Cukai Muda) dan Mugi Ayomi (Pemeriksa Bea dan Cukai Muda).
Seiring dengan berkembangnya digitalisasi, kata Agus, pada 2013 DJBC mengembangkan CEISA yang berfungsi untuk Centralized, Integrated, Interconnected, dan Automated. Saat ini, fungsi dari CEISA antara lain sebagai National Forecast Strategy.
“Data dari kami digunakan untuk kepentingan penegakan hukum di seluruh sektor terkait tindak korupsi, pergerakan uang, dan bahkan terkait kejahatan pidana,” kata dia.
Kemudian, fungsi CEISA lainnya adalah National Logistic Enabler yaitu untuk membangun platform ekosistem logistik nasional. CEISA juga menjadi Smart Targeting System untuk mempromosikan Indonesia Single Risk Management yang saat ini di-attach di sistem National Single Window (NSW).
“CEISA juga berfungsi sebagai Trade Balance Analysis untuk kepentingan penyiapan macro policy dan monetary policy, fiscal policy dan lainnya dalam rangka decision process untuk pembuatan anggaran negara, terutama dari sisi belanja dan penerimaan negara, juga dari sisi finansialnya,” papar Agus.
Saat ini atau pada periode 2018-2024, DJBC mengembangkan CEISA 4.0 yang di dalamnya tidak hanya ICT tapi sudah memasukkan lagi satu unsur ‘C’ menjadi Information, Communication & Collaboration Technology (ICCT). Ini karena fungsi DJBC sebagai Enabling Digital Transformation di Kementerian Keuangan dan juga di sektor logistik Indonesia.
“Saat ini kami dipercaya untuk membuat dan mengimplementasikan platform nasional yang berfungsi sebagai agregator dan collaborator dari ekosistem logistik nasional, yang mengkolaborasikan seluruh sistem TIK terkait logistik dari government to government (G2G), government to business (G2B), dan meng-enabling business to business (B2B),” tuturnya.
Beberapa hal yang dilakukan dalam CEISA 4.0 adalah Enabling Digital Transformation yang termasuk di dalamnya penguatan SDM serta menciptakan user-engagement, memasifkan penggunaan perangkat teknologi hingga mentransformasikan proses bisnis dalam suatu environment yang berbasis modern (sistem aplikasi, infrastruktur, data dan AI).
Lalu di Features and Performance Optimization, yaitu mengembangkan fitur-fitur CEISA 4.0 yang diintegrasikan dalam teknologi terkini untuk menciptakan simplifikasi proses kepabeanan dan cukai.
Hal selanjutnya adalah Promoting IT Governance dengan menjalankan System Development Life Cycle sebagai pondasi penguatan tata kelola TIK. Kemudian Promoting Security Awareness dengan melaksanakan sosialisasi tentang security awareness kepada satker lainnya
Lalu ada Utilizing Latest Technology dengan pemanfaatan BigData, AI (Machine Learning, OCR), Data Analytics, Infrastructure, API, Internet of Things, Social Media Analysis, Crawler, Microservices, dan lainnya.
Kemudian facilitating G2G, G2B, B2B. Melalui CEISA 4.0, DJBC berkomitmen dalam menciptakan environment TIK yang memudahkan integrasi dan kolaborasi antar sistem G2G dan G2B bahkan sampai memfasilitasi B2B
“Kami dengan bangga bisa mengatakan bahwa saat ini kami di institusi kepabeanan merupakan salah satu institusi yang pertama kali berani memperkenalkan, kalau di private sector sudah biasa, yakni Omni Channel dengan konsep Seamless Submission,” tutur Agus.
Terkait fasilitasi ini, menurut Agus, di beberapa piloting yang dilakukan berhasil terkolaborasi dengan ekosistem. Selain itu, pengiriman dokumen PIB (pemberitahuan impor barang), dokumen PEB (pemberitahuan ekspor barang) dan dokumen kepabeanan lainnya bisa dilakukan dari mana saja.
“Apakah dari financial sector maupun dari platform-platform logistik lainnya, sehingga kita bisa berbagai kapasitas maupun yang terkait security-nya,” ujar dia.
Fitur-fitur utama dalam CISEA 4.0 adalah; pertama Single Core System. Ini merupakan penyatuan beberapa sistem utama CISEA yang selama ini terpisah, simplifikasi, integrasi, personalisasi, serta menggunakan big data platform untuk memenuhi kebutuhan analisis (Indonesia Customs Data Set, Single Submission, WCO Data Model, Data Driven Base).
Fitur kedua adalah Smart Customs and Excise untuk mengoptimalkan kegiatan pengawasan kepabeanan dan cukai dengan pemanfaatan teknologi (case management, CEISA Search, Smart Devices, Profiling, Artificial Intelligent Technology). Ada pula Fitur Collaboration Platform untuk kemudahan integrasi dan kolaborasi lintas sistem aplikasi.
Fitur utama lainnya adalah Portal Pengguna Jasa yang merupakan fitur kemudahan pengguna jasa untuk berinteraksi dengan layanan kepabeanan dan cukai.
Selain itu ada fitur Mobile Application untuk memperluas aplikasi berbasis mobile. Ada fitur Analytics dengan memanfaatkan data untuk mendukung pengambilan keputusan organisasi. Dan fitur lainnya adalah Support yang digunakan untuk mengotomasi semua proses bisnis DJBC di luar proses bisnis utama.
Menurut Agus, ada beberapa fakta terkait penggunaan CEISA 4.0 ini. Dari sisi karakteristik layanan Time Sensitive, No Delay, dan No Additional Cost. Sistem ini Tersentralisasi, di mana seluruh Kantor Bea dan Cukai terhubung ke CEISA.
“Ini yang membuat sistem IT DJBC penting untuk ketahanan nasional. Musibah pandemi menjadi blessing indisguise bagi kita untuk lebih meningkatkan performance. Di situ terlihat sekali bahwa layanan Bea Cukai tidak boleh mati sedikit pun atau tidak boleh tidak berjalan karena begitu ada kelambatan, jangankan hitungan hari, hitungan jam saja sudah bisa mengakibatkan kemacetan pergerakan arus uang, orang, barang, dokumen dan transportasi di Indonesia,” kata Agus.
Saat ini, transaksi per hari melalui sistem CEISA mencapai 350 ribu dokumen dengan kurang lebih 5 juta API Hits per hari. Agus mengakui saat ini, sistem CEISA ini memang masih sangat komplek karena ada 84 proses bisnis dan lebih dari 4 ribu menu. “Tapi ini terus kita sederhanakan,” ucapnya.
Menurut Agus, sistem CEISA yang dibangun ini menjadi pendorong transformasi proses bisnis yang ada di DJBC. Ia berharap ke depan tidak ada lagi dokumen-dokumen impor dan ekspor, dokumen BC20, dokumen BC30 dan seterusnya. “Tapi ke depan itu semua terintegrasi dengan pajak. Dengan berbasiskan NPWP akan bisa melihat entitas melakukan aktivitas apa dan sebagainya,” tutur dia.
DJBC saat ini memiliki 20 Kantor Wilayah, 104 KPPBC, 3 KPU BC. Sedangkan jumlah user lebih dari 15 ribu pegawai dan 20 ribu lebih pengguna jasa. “Dari sisi data mereka berada di puncak rantai data di mana keterkaitannya akan mengakibatkan ke jasa lainnya,” kata Agus.
Amankan Penerimaan Negara
Menurut Agus, sistem IT memegang peran yang sangat penting di DJBC, bahkan menjadi backbone dalam mengamankan penerimaan negara. Implementasi CEISA diakui berperan mengamankan penerimaan negara tahun 2021 dari Bea Masuk sebesar Rp 38,8 triliun, Bea Keluar Rp 34,5 triliun, Cukai Rp 195,46 triliun, dan PDRI sebesar Rp 235,2 triliun.
“Jadi yang kami pungut itu seperempat dari total penerimaan negara,” kata Agus.
Dari segi fasilitasi, CEISA juga berperan dalam memberikan fasilitasi perdagangan dan industri melalui layanan TPB (Tempat Penimbunan Berikat), KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor), NLE (National Logistics Ecosystem) untuk ketahanan nasional, serta mendukung kolaborasi Pelayanan KEK Dashboard Komoditas.
CEISA juga berperan mendukung fungsi pengawasan yang dilakukan DJBC. Pengawasan ini sudah terkoneksi dengan sistem penegakan hukum di Indonesia seperti dengan KPK, PPATK, Polri, Bakamla dan lainnya.
Agus menambahkan, CEISA juga mampu mengoptimalkan kegiatan pengawasan dengan pemanfaatan teknologi. Pengawasan ini dilakukan melalui CEISA search, Profiling, Smart targeting, Passenger Risk Management, e-seal, Computer Vision (Face recognition, image recognition). Untuk optimasi berkelanjutan, CEISA sudah memiliki kemampuan fraud detection dan hit rate.
Dari sisi Support, CEISA mampu mengoptimalkan kegiatan operasional DJBC dan juga mengakomodir layanan seperti HRM System Team Collaboration, Office Automation, Digital Workspace, Customer Portal, Electronic Submission (Internet Based) Customer Service, Real Time Clearance, Response dan Mobile Apps.
Terkait anggaran, menurut Agus, pimpinan sangat mendukung transformasi digital di DJBC ini. Terbukti dari belanja modal CEISA 4.0 yang meningkat dari Rp 68,28 miliar pada 2021 menjadi Rp 120,87 miliar pada 2022. Demikian pula anggaran pemeliharaan TIK meningkat dari Rp 88,24 miliar menjadi Rp 145,85 miliar pada 2022 ini. Sedangkan total SDM di Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai saat ini sebanyak 136 orang.














