Jakarta, Itech – Indonesia secara teknologi sudah mandiri dan siap memproduksi bahan baku obat sendiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang melimpah. Karena itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) siap mendorong dan kerja sama untuk pengembangan industri antibiotik atau farmasi di Indonesia guna mengurangi ketergantungan impor.
Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan, kajian untuk memproduksi bahan baku obat khususnya antibiotika golongan beta laktam sesungguhnya telah di mulai oleh BPPT sejak tahun 1990an. Namun karena kurangnya dukungan dan tidak ada yang mengawal jadi seolah mati suri. BPPT melalui unit kerjanya di Balai Bioteknologi terus melakukan inovasi untuk menghasilkan teknologi produksi bahan baku obat yang efisien.
“Kerjasama tripartit antara BPPT, PT. Kimia Farma Tbk dan Sungwun Pharmacopia merupakan salah satu upaya integrasi hulu-hilir industri farmasi dalam rangka mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat antibiotik khususnya sefalosporin. Dengan adanya kerjasama ini diharapkan mampu mengakselerasi kemandirian bahan baku obat di Indonesia,” kata Kepala BPPT, Unggul Priyanto, seusai penandatangan MoU di Jakarta, Senin (6/6)
Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Rusdi Rosman, menjelaskan nantinya dalam kerja sama ini, akan ada transfer teknologi dan pemanfaatan laboratorium bersama. Terdapat tiga teknologi untuk menghasilkan teknologi ini antara lain fermentasi, enzimatik transfer dan sintetis. BPPT dan Sungwun akan mengkaji studi kelayakannya dalam 6 bulan ke depan.
Lebih lanjut diterangkan, PT Kimia Farma sudah menyiapkan lahan seluas 12 hektare di Cikarang untuk membangun industri antibiotika ini. Sefalosporin dan turunannya adalah jenis antibiotik yang diminati di Amerika Serikat dan Jepang. Saat ini Tiongkok menguasai pasar sefalosporin. Namun, karena mengandalkan teknologi fermentasi, harus berurusan dengan isu lingkungan meskipun harganya murah.
Berdasarkan catatan, saat ini, sekitar 95 persen bahan baku obat untuk kebutuhan industri farmasi Indonesia masih diimpor dari China (60%) dan India (30%). Besarnya nilai ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku obat impor hingga saat ini masih mengkhawatirkan. Pasar produk farmasi Indonesia pada tahun 2015 sebesar Rp. 60 Triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi Rp. 102,05 Triliun pada tahun 2020.
Peluang yang besar akan kebutuhan produk farmasi tersebut tentunya harus diiringi dengan ketersediaan bahan baku obat yang berkualitas dan mandiri. Untuk menangkap peluang pasar yang besar tersebut harus terus dilakukan inovasi yang memanfaatkan semua sumber daya berbasis kekayaan alam Indonesia yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. (red/ju)













