Sepanjang 2022, LinkAja berfokus memperkuat fundamental bisnis yang sustainable dengan meningkatkan pendapatan hingga efisiensi biaya. Hasilnya, perusahaan mencatat pendapatan operasional tumbuh hampir 30% di tahun 2022. Sementara beban operasional berhasil diturunkan hampir sekitar 50%.
Pencapaian tersebut merupakan hasil dari strategi perusahaan melakukan shifting menuju profitability dan sustainability secara bertahap semenjak 2021 dengan membaca arah pergerakan industri.
“Salah satunya yakni dengan memperkuat model bisnis B2B2C kami yang berfokus pada ekosistem BUMN,” jelas Direktur Keuangan dan Strategi LinkAja, Reza Ari Wibowo dalam keterangannya, Kamis, 16/02/2023.
Sejak awal tahun 2022, LinkAja memfokuskan diri melalui bisnis model dua sisi (twosided business model) B2B2C (Business to Business to Consumer). Pada segmen B2C, LinkAja mengutamakan low-cost user acquisition & retention.
Sedangkan, fokus segmen B2B berpusat pada end-to-end value chain dari sisi tradisional maupun digital.
Pada tahun 2022, LinkAja masih mengimplementasikan digital financial solutions dengan berfokus pada kolaborasi sinergi BUMN, terutama di dalam ekosistem Telkomsel, Pertamina, dan Himbara (Himpunan Bank Negara).
Baca: Dukung E-Commerce Karya Lokal, LinkAja Hadirkan Solusi Pembayaran Digital
Untuk ekosistem Telkomsel, LinkAja telah mendigitalisasi supply chain tradisional Telkomsel di lebih dari 300 ribu retailer dengan kenaikan pendapatan mencapai hampir 90%. Ke depannya, digitalisasi ekosistem tradisional Telkomsel ini akan berlanjut ke tingkat distributor.
Di ekosistem Pertamina, LinkAja juga memperkuat positioning di aplikasi MyPertamina, yang disertai pertumbuhan pendapatan eksponensial sebesar 1600%.
Sedangkan di layanan Himbara juga memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat signifikan, yakni sebesar 80%.
Dari sisi efisiensi biaya, Reza menjelaskan jika dibandingkan dengan 2021, komponen biaya pemasaran serta operations & maintenance masing-masing mampu diturunkan sebesar lebih dari 90% dan 30%.
Rasio pendapatan terhadap biaya promosi juga bisa ditekan dari 1.3x menjadi 0.1x, yang mengindikasikan penurunan dependensi pendapatan operasional perusahaan terhadap short-term incentive seperti cash-back.
Selain itu, terjadi juga kenaikan kualitas pengguna terlihat dari Average Revenue per User (ARPU) yang meningkat signifikan sebesar 215%, basket size sebesar 55% hingga pencapaian retention rate sebesar lebih dari 70%.
Sebagai hasil, EBITDA loss sepanjang tahun 2022 mampu ditekan sebesar lebih dari 60% dibandingkan dengan 2021, yang memperlihatkan bahwa perusahaan semakin on-track untuk merealisasikan komitmen pencapaian profit dalam waktu dekat.
Baca: Perluas Ekosistem Digital, LinkAja Jalin Kolaborasi dengan Feedloop dan EdenFarm














