Lanskap ancaman siber di industri manufaktur berkembang dengan cepat, dan serangan rantai pasokan pun kian meningkat.
Laporan Tren Ancaman Jaringan Unit 42 terbaru menemukan antara tahun 2021 dan 2022, terdapat peningkatan sebesar 238% dalam jumlah rata-rata serangan yang dialami oleh masing-masing pelanggan di sektor manufaktur, utilitas, dan energi. Serta peningkatan sebesar 27,5% dalam rasio serangan malware yang menargetkan industri-industri ini secara global.
Untuk memperkuat keamanan siber rantai pasokan, dalam keterangannnya, 24/07/2023, Alex Nehmy, Field Chief Security Officer – Critical Industries, Japan and Asia Pacific membagikan strategi untuk memitigasi risiko ini secara efektif:
Mengidentifikasi berbagai entitas rantai pasokan serta memahami peran dan tanggung jawab masing-masing. Mengkaji lanskap ancaman siber untuk memahami potensi risiko/kerentanan dan memahami pentingnya fungsi masing-masing entitas tersebut
Menerapkan berbagai upaya seperti kontrol akses, enkripsi, segmentasi jaringan, dan sistem deteksi penyusupan untuk melindungi data dan sistem. Menerapkan kebijakan Zero Trust dalam keamanan rantai pasokan dapat menjadi pendekatan yang efektif sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan risiko serangan terhadap rantai pasokan.
Menetapkan prosedur pengelolaan pemasok secara transparan untuk memastikan bahwa kebutuhan akan sistem keamanan tersampaikan dan terpantau dengan baik di seluruh rantai pasokan. Melakukan audit dan penilaian rutin untuk mengidentifikasi dan memitigasi kerentanan yang mungkin terjadi. Serta melakukan kerjasama dengan mitra dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengamanan siber di seluruh rantai pasokan.
Baca: Keamanan Siber Jadi Prioritas Nasional untuk Akselerasi Pengembangan Ekonomi Digital














