Jakarta, Itech- Prof Bengt Ake Lundvall, pendiri Globelics (sebuah komunitas ilmuwan dari seluruh dunia yang bekerja membangun inovasi dan kompetensi dalam konteks pembangunan ekonomi), berbagi pengetahuan dengan Kementerian Ristekdikti dalam KonferensiI Internasional Globelics ke-14 di Bandung, Kamis (13/10).
Konferensi internasional Globelics berlangsung pada 12-14 Oktober 2016 yang bertujuan mempromosikan penelitian, inovasi, dan pengembangan. Konferensi tersebut akan menawarkan bagaimana keilmuan yang bergantung pada pengetahuan diubah menjadi praktik. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 147 akademisi dari 40 negara. Para akademisi tersebut memaparkan presentasi dengan tema Inovasi, Kreativitas, Pengembangan: Strategi untuk Keinklusifan dan Keberlanjutan.
“Hasil yang didapat dari rountable discussion dengan Prof Lundvall tersebut akan dimasukan bagi kebijakan ekonomi dari masing-masing negara. Korea Selatan misalnya, dalam pengembangan riset sejalan dengan apa dibutuhkan oleh industri.” ujar Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe. Hasil diskusi dengan tema ‘Pengembangan Kapasitas Inovasi’ akan bermanfaat bagi peserta dalam menentukan berbagai kebijakan yang mendukung program prioritas riset dan inovasi.
Lebih lanjut Jumain menambahkan, di Indonesia, agar inovasi menghasilkan dampak yang nyata bagi perubahan, maka diperlukan reformasi tata kelola sains, riset dan inovasi. Selain itu, kolaborasi yang kuat diantara pemangku kepentingan. Namun sayangnya tidak ada kesinambungan antara industri dan institusi pendidikan dalam melakukan penelitian dan pengembangan berdasarkan apa yang diperlukan masyarakat. “Secara khusus, perlu di dorong evidence-bases policy agar kebijakan yang diambil didasarkan data yang disusun lewat riset,” tuturnya.
Prof Bengt Ake Lundvall, adalah profesor pada Universitas AALborg Denmark. Penelitiannya selalu berkaitan dengan sistem inovasi, dan ekonomi pembelajaran. Dalam kerjasama erat dengan Christopher Freeman, pada semester pertama tahun 1980 Bengt-Åke Lundvall mengembangkan gagasan inovasi sebagai proses interaktif, dan di paruh kedua dekade konsep sistem nasional inovasi. Pada awal tahun 90-1n dia bekerjasama dengan Björn Johnson kembangkan gagasan ‘ekonomi belajar.
“Inovasi harus ada bisnis modelnya dan tidak sekedar publikasi saja. Jadi, jangan terlalu mengharapkan pada besarnya institusi pendidikan tinggi. Namun fokus kita untuk mengarahkan pada pembangunan ekonomi pada sektor pangan yang kemudian didukung oleh proses inovasi. Misalnya, di sektor pertanian menjadi lebih maju dan menjadi pendukung bagi produksi nasional Indonesia,” papar Lundvall seraya menambahkan, saat ini sektor pertanian di Indoesia masih dilakukan prosesnya secara konvensional .
Ditempat yang sama, Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Sosial, Budaya dan Ekologi Strategis Kantor Staf Presiden, Yanuar Nugroho, menyebutkan bahwa pertemuan tersebut sangat penting dalam memberikan perspektif baru dalam menentukan arah inovasi nasional sekaligus dalam menyusun kerangka kebijakan inovasi ke depan. (red/ju)













