Jakarta, Itech – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memberikan layanan teknologi di bidang audit energy terhadap empat industri besi baja yakni PT Krakatau Wajatama, PT Bhirawa Steel, PT Ispat Bukit Jaya dan PT Hanil Jaya Steel guna mengurangi emisi dari sektor industri dari sisi penghematan energi. Dalam kegiatan audit tersebut, BPPT menggandeng The Energy and Resource Institute India.
Direktur Pusat Teknologi Lingkungan, BPPT, Rudi Nugroho mengatakan, dengan efisiensi energi, maka akan menurunkan biaya operasional, sehingga akan meningkatkan daya saing. Disamping itu, juga akan mengurangi emisi gas rumah kaca di lingkungan.
“Jika efisiensi energi pada empat indutsri baja tersebut terealisasi, maka kedepan industri-industri lainnya diharapkan juga akan melaksanakan, sehingga produk-produk kita akan meningkat,” paparnya di sela-sela workshop produksi bersih dan peningkatan efisiensi energi untuk industri di Indonesia di kantor BPPT, Kamis (13/10). Dalam kesempatan tersebut, Direktorat Konservasi Energi, Kementerian ESDM, Lembaga Pendanaan Synergy Efficiency Solutions (sebagai Energy Service Company-ESCO) dan TERI masing-masing menyampaikan kebijakan pendanaan dan skema pendanaan ESCO untuk efisiensi energi.
Disebutkan, efisiensi energi ini baru proses di industri. Nanti akan disampaikan oleh industri yang bersangkutan berapa hemat setelah menerapkan efisiensi energi, dan nanti akan ada perhitungannya. Kajian yang menghasilkan idenfifikasi efisiensi energi pada beberapa peralatan maupun proses, seperti reheating furnace, kompresor, pompa, lampu, sistem sirkulasi air, serta sistem kelistrikan.
Dari kajian tersebut, selanjutnya diidentifikasi peluang-peluang penghematan energi yang dapat dilakukan industri sebagai rekomendasi aksi yang sebaiknya dilakukan untuk efisiensi energi, penurunan biaya produksi, dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan daya saing industri. Namun yang perlu diperhatikan juga, adalah bahwa penerapan rekomendasi di industri akan membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Untuk itu pada workshop ini juga disampaikan skema-skema pendanaan yang dapat membantu industri untuk melakukan efisiensi energi.
Kepala Seksi Penerapan Teknologi Industri Badan Litbang Industri Kementerian Perindustrian (Kemperin), Deni Noviansyah, mengungkapkan, selain industri besi dan baja, industri lain yang juga lahap energi yakni semen, pupuk, petrokimia, makanan, keramik, tekstil, pulp dan kertas.
Lebih lanjut dikatakan Rudi, detailed assessment telah dilakukan pada tahun 2016 di mana kegiatan diawali dengan pelaksanaan Trining of Trainers (ToT) bagi industri besi baja dan stakeholders lainnya, pelaksanaan audit energi dan kemudian workshop ini sebagai sosialisasi hasil audit energi.
“ToT dilakukan untuk memberikan pemahaman rinci bagi stakeholders tentang pentingnya penurunan penggunaan energi yang akan berdampak pada penurunan biaya produksi dan akhirnya pada peningkatan daya saing industri,” terang Rudi. Kegiatan detail assessment sudah memasukkan kajian kelayakan secara teknis, ekonomi dan lingkungan yang setara dengan kajian Investment Grade Audit (IGA).
Selain untuk menyosialisasikan hasil detail assessment pemanfaatan energi, workshop ini juga bertujuan untuk memfasilitasi pertemuan antara industri dengan vendor teknologi untuk mendukung implementasi rekomendasi hasil assessment. “Perlu diperhatikan juga bahwa penerapan rekomendasi di industri akan membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit, untuk itu pada workshop ini juga akan disampaikan skema-skema pendanaan yang dapat membantu industri untuk melakukan efisiensi energi,” ungkap Rudi. (red/ju)














