Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan RI (BPPK Kemenkeu) melahirkan Kemenkeu Learning Center (KLC) dengan sejumlah pertimbangan. Satu di antara itu adalah mengatasi keterbatasan kursi pembelajaran di lembaga tersebut.
“Kursi pembelajaran classical 3 di BPPK hanya [bisa menampung] 46% hingga 65% ASN Kemenkeu,” kata Kepala Bagian Teknologi Informasi, Komunikasi dan Manajemen Pengetahuan, Sekretariat BPPK Kemenkeu RI, Arfiansyah Darwin (31/10/2024).
Dalam presentasi melalui jaringan internet untuk Dewan Juri Top Digital Awards 2024, Arfiansyah pun merinci tentang keterbatasan kursi tersebut. Sepanjang tahun 2012 hingga 2016, kursi pembelajaran yang tersedia hanya di kisaran 46% hingga 67%.
Persisnya, untuk 2012 hingga 2016, persentase tersebut yakni sebagai berikut: 60%, 67%, 46%, 59%, dan 65%.
Pertimbangan lain dilahirkannya KLC yang merupakan sarana e-learning tersebut, ada beberapa. Itu antara lain menyelaraskan diri dengan strategi Kemenkeu Corporate University. Dengan KCL, belajar bisa dilakukan di mana saja, serta kapan saja.
Pula, KCL menyediakan platform untuk pengelolaan pembelajaran dan manajemen pengetahuan. “Selain itu, KLC mendukung demokratisasi pembelajaran dengan self learning,” Arfiansyah menjelaskan.
Pertimbangan lain hingga KLC dilahirkan adalah untuk memenuhi target inisiatif transformasi dan reformasi birokrasi Kemenkeu. Dalam hal tersebut, ada target kenaikan pembelajaran berbasis digital. Target pembelajaran berbasis digital naik dari 30% pada tahun 2019 menjadi 50% di tahun 2020, dan 70% pada tahun 2021
KLC pun lahir berkat arahan menteri keuangan RI agar Kemenkeu menjadi ‘Knowledge 4 Institution’. Maka, lahirlah KLC yang memungkinkan pengetahuan dapat diperoleh kapan saja, dan di mana saja.
“Knowledge pengelolaan keuangan negara tidak hanya dibutuhkan oleh SDM Kementerian Keuangan, namun juga masyarakat luas. Sehingga perlu adanya kemudahan akses bagi pihak yang membutuhkan knowledge terkait pengelolaan keuangan negara,” ia menjelaskan lebih lanjut.
Entertaining Factors
Satu kelebihan tersendiri dari KLC adalah keberadaan konten yang menghibur. “Entertaining factors memang jadi kekhasan KLC,” begitulah Arfiansyah menegaskan.
Dan, seperti apa persisnya entertaining factors tersebut? Ia menjelaskan bahwa, yang pertama, adalah konten yang interaktif. Dalam konteks tersebut, KLC mengakomodir aset pembelajaran dalam bentuk SCORM berbasis HTML5 yang memungkinkan pembelajaran menjadi interaktif
Kedua, multimedia integration. KLC mengakomodir aset pembelajaran dalam bentuk video berformat MP4 dan MPG, yang membuat pengguna seperti menonton bioskop.
Keempat, gamification. KLC punya fitur yang menerapkan prinsip gamification dalam proses pembelajaran. Contohnya adalah leaderboard dan badge. Juga, ada kuis dalam bentuk permainan.
Adapun yang kelima adalah user firendly interface. KLC dikembangkan dengan prinsip UI/UX, seperti user journey, competitor analysis, serta pemilihan warna dan desain aplikasi yang segar/menarik.
Di sini, ada visualisasi persentase penyelesaian materi yang diikuti, sehingga peserta dapat memeroleh gambaran seberapa jauh proses yang telah dilewati, serta seberapa jauh perjalanan pembelajaran yang akan ditempuh selanjutnya.
Keamanan Siber
Dalam presentasinya, Arfiansyah juga mengulas tentang implementasi praktik keamanan siber untuk KLC. Ia, antara lain, menjelaskan bahwa BPPK telah menggelar migrasi ke Smart Data Center Pusintek (tier 4). Migrasi tersebut berlangsung di Mei 2023 hingga akhir Oktober 2023.
BPPK pun telah menggelar sertifikasi pen-test (penetration test) dan auditor internal SMKI. Pen-test memungkinkan perbaikan kelemahan sebelum sistem digunakan. “Ada dua pegawai kami yang sudah mendapatkan sertifikat pen-test dari LSP BSSN,” Arfiansyah mengatakan.
Uji kerentanan dan uji beban pun sudah digelar untuk KLC. Uji tersebut mencakup infrastruktur dan aplikasi KCL. Kemudian, uji beban tersebut digelar ke platform KLC. Fungsinya untuk memastikan keandalan penggunaan beban oleh sebanyak 20.000 concurrent users.














