Jakarta, ItWorks- Transformasi digital atau melakukan perubahan, pengalihan suatu proses dengan sistem teknologi digital, menjadi kunci penting untuk efisiensi dan daya saing logistik nasional. Konektivitas dan mata rantai logistik yang efisien bisa menjadi motor utama bagi pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh wilayah, bahkan juga menjadi daya tarik masuknya investasi.
Saat ini biaya logistik nasional Indonesia terhadap PDB masih terbilang tinggi. Index kinerja logistik atau Logistics Performance Index Indonesia masih kalah jauh dibandingkan engan negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, hingga Singapura. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.500 pulau, Indonesia masih menghadapi tantangan bidang logistik yang kompleks.
Mata rantai logistik, mulai dari konektivitas antar moda, infrastuktur jalan, layanan kepelabuhanan, kinerja bongkar muat barang, dan aspek terkait lainnya, masih belum optimal, sehingga membuat biaya logistik menjadi tinggi atau mahal.
Padahal daya saing logistik penting untuk pertumbuhan ekonomi, mendukung industri hingga menentukan pemerataan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Daya saing logistik yang baik, dapat meningkatkan kinerja indusri, ekspor, maupun perdagangan antar pulau. Karena itu, pemerintah terus berupaya menurunkan biaya logisitk melalui peningkatan infrastruktur, efisiensi layanan pelabuhan, transportasi multimoda, termasuk pelayaran untuk kinerja yang lebih baik ke depan.
“Secara nasional maupun global, Indonesia sebagai negara kepulauan masih mengadapi berbagai tantangan yang harus kita atasi. Di antaranya biaya logistik yang tinggi yang menyebabkan daya saing ekonomi, bisnis, dan industri yang lemah, terlebih menghadapi pasar bebas di era indutri 4.0. Ketidakmerataan infrastruktur logisik, menimbulkan ketimpangan ekonomi antarwilayah, khususnya antara bagian barat dan timur Indonesia. Karena itu, perlu komitmen dan dukungan semua pihak untuk mengadapi tantangan ini,” ungkap Kepala Sub Direktorat Tatanan dan Perencanaan Pengembangan Pelabuhan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Yan Prastomo Ardi, saat membacakan kata Sambutan Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub Capt Antoni Arif Priyadi, ketika membuka Seminar “Peluang Bisnis Shiping, Kepelabuhanan, Logistik dan Supply Chain 2025,” yang diselenggarakan Indonesia Port Editors Club (IPEC) pada (5/2/2025), di Jakarta.
Ditegaskan bahwa kinerja logistik akan mempengaruhi kemajuan perekonomian dan kesejahteraan bangsa, terutama dari aspek pemerataan infrastruktur untuk kelancaran dan kemudahan distribusi berbagai barang, termasuk melalui mata rantai kepelabuhanan. “Sebagai negara kepulauan, keberadaan moda transportasi laut dan pelabuhan menjadi sangat krusial dalam memperlancar arus barang dan orang dari satu wilayah ke wilayah lain, hingga ke pelosok nusantara,” ungkapnya.
Diakui masih rendahnya daya saing logistik, tidak terlepas dari kinerja layanan pelabuhan. Ia menyebutkan, dalam gambaran umum logistik Indonesia, salah satu tantangan utama adalah tingginya waktu bongkar muat di pelabuhan utama, yang saat ini masih berkisar antara 4 hingga 7 hari, sehingga biaya logistik juga menjadi tinggi.
Ditambahkan, berbagai reformasi juga telah dilakukan untuk mengatasi hal ini, termasuk upaya peningkatan peringkat Indonesia dalam Trading Across Borders (Doing Business 2020) serta upaya penurunan dwelling time dengan tren yang kian positif.
Dikatakan, dalam sektor kepelabuhanan, tantangan lainnya adalah konsentrasi arus peti kemas di empat pelabuhan utama, yang masih memiliki kondisi teknis dan kinerja di bawah standar internasional. Selain itu, jaringan pelayaran juga belum optimal, dengan 77% rute masih bersifat port-to-port, sementara hanya 23% yang membentuk jaringan loop. Hal ini meningkatkan biaya transportasi hinterland hingga 50% dari total biaya logistik, dengan 96% pengiriman domestik masih bergantung pada transportasi darat.

Dalam kaitan ini, konektivitas antar Pelabuhan juga terus diupayakan, di antaranya dengan telah menetapkan Rencana Induk Pelabuhan Nasional guna memperkuat konektivitas logistik dengan jaringan 636 pelabuhan, termasuk 28 pelabuhan utama, serta berbagai pelabuhan pengumpul dan pengumpan.
Smart Port
“Hal lain yang juga mempengaruhi hal ini yakni, sistem logistik nasional masih menghadapi kendala dalam integrasi sistem layanan secara digital. Masih adanya repetisi dan duplikasi untuk proses intergasi pertukaran data dan informasi secara digital yang menyebabkan inefisiensi dan biaya operasional tinggi. Oleh karena itu, transformasi digital dan integrasi sistem logistik nasional menjadi langkah strategis yang harus segera diwujudkan untuk memperkuat daya saing Indonesia di kancah global,” tegasnya.
Guna menjawab berbagai tantangan tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut juga telah menginisiasi konsep smart port untuk diimplementasikan di Pelabuhan. Smart port atau pelabuhan pintar merupakan konsep untuk operasional pelabuhan yang menggunakan sistem aplikasi teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan. Pelabuhan pintar dirancang untuk menjadi lebih berkelanjutan dan inovatif.
“Smart Port hadir dengan layanan berbasis web, sistem operasi yang transparan, serta otomatisasi navigasi melalui e-pilotage dan teknologi pendukung seperti VTS, SROP, serta penataan alur pelayaran, sehingga memastikan pelabuhan Indonesia semakin modern, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Ditambahkan, digitalisasi dan otomatisasi pelabuhan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan Smart-Green Port, yang lebih efisien dan berkelanjutan. Penerapan INAPORTNET, penggunaan IoT, serta Big Data memungkinkan transparansi dan kontrol real-time dalam rantai pasok, meningkatkan efisiensi arus kendaraan melalui traffic management systems, serta mengoptimalkan kondisi peralatan dan fasilitas pelabuhan.
Namun demikian diakui, pelabuhan tidak dapat berfungsi secara optimal tanpa adanya dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, operator pelabuhan, transportasi darat, shipping line, eksportir/importir, freight forwarder, asosiasi, serta institusi keuangan dan asuransi menjadi faktor kunci dalam menciptakan rantai logistik yang efisien dan terintegrasi.
Diskusi ini menghadirkan empat pembicara, di antaranya Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Adi Sugiri yang mewakili Direksi PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Djohan, Managing Director Tisco Logistic (Representatif Emirates Shipping Indonesia) Danny Novianto, serta Presdir Ocean Network Express (ONE) Shipping, Keishin Watanabe yang dimoderatori Teguh Basuseto (Samudera Indonesia).
Dalam kesempatan itu, Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Adi Sugiri mengatakan bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) sebagai BUMN telah berupaya maksimal dalam menurunkan cost logistik nasional. Sejauh ini juga terus menunjukkan perbaikan, salah satu indikatornya yakni membaiknya waktu tunggu pelayanan kapal maupun barang, serta dweeling time di pelabuhan. “Pelabuhan sebagai mata rantai logistic memiliki penting dalam upaya penurunan biaya logistik secara nasional. Dalam hal ini, kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentigan untuk mewujudkan hal itu merupakan suatu keharusan,”tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Johan mengatakan untuk memperbaiki system logistic nasional, ALFI mengusulkan empat rekomendasi. Pertama, inetgrasi kelembagaan pemerintah yang membuat regulasi, tata kelola dan implementasi kebijakan tentang rantai pasok dan logistik dengan adanya Badan Logistik Nasional.
Kedua, meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan pelaku usaha logistic secara nasional yang dimulai sejak tingkat sekolah menengah.
Ketiga, pembelanjaan BUMN/BUMD dan lembaga negara dari luar negeri memanfaatkan incoterm ex-work, FCA/FOB agar peran kegiatan swasta logistic nasional lebih optimal dalam importasi barang, begitu juga perbaikan incoterm pada transaksi ekspor.
Kempat, kebijakan yang mendorong pelaku usaha nasional lebih berdaya saing (tidak terjadi praktek monopoli, mengurangi dominasi peran logistik asing) dan system pembiayaan serta perpajakan yang mampu mendorong pelaku usaha nasional berdaya saing global.
Narasumber lain, Danny Novianto mengatakan, di tengah tantangan yang ada Indonesia memiliki peluang besar dalam bisnis shipping dan logistik sejauh mengikuti trend perkembangan industry global. Ia juga sepakat bahwa digitalisasi dan pengembangan infratruktur merupakan faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan usaha. Di samping itu, Dhanny juga mendorong perlunya melakukan kolaborasi dengan pemain global.“Terkait digitalisasi dan pengembangan infrastruktur di sector kepelabuhanan, misalnya, kami mendorong pelabuhan di Indonesia untuk melakukan digitalisasi peralatan-peralatan di pelabuhan. Hal ini bisa meningkakan efisiensi layanan di pelabuhan sehingga bias berdaya saing,”ujarnya.
Hal senada diungkapkan Watanabe yang menyatakan optimisme prospek bisnis pelayaran. Menurutnya, kinerja pelayaran saat ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik dan perang dagang, serta faktor internal seperti kompetisi dan aliansi pelayaran. Namun demikian secara umum, ia menilai prospek shipping company masih menjanjikan, baik untuk domestik maupun rute ocean going atau lintas negara. “Prospek pasar pelayaran di Indonesia menjanjikan. Pasar pelayaran ocean going Indonesia tahun ini akan tetap tumbuh 5-10%,” ujarnya. (AC)














