- Kementerian Agama (Kemenag) menekankan pentingnya implementasi digitalisasi di pesantren untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045.
- Pada 2024, Kemenag telah membantu digitalisasi di 250 pesantren. Kemenag juga menyambut baik kolaborasi dengan sektor swasta.
Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktorat Pesantren menekankan pentingnya implementasi digitalisasi di lingkungan pesantren untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikan oleh Basnang Said, Direktur Direktorat Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, dalam acara peluncuran program CSR Huawei di Jakarta Selatan, Selasa, 18/03/2025.
Pesantren dan Potensinya dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Basnang Said menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 42.000 pondok pesantren, dengan jumlah santri mencapai 4,6 juta orang. Jika ditambah dengan madrasah dan sekolah yang berada di bawah naungan pesantren, potensi jumlah santri di Indonesia bisa mencapai 18 juta orang. “Pesantren sudah lama menjadi bagian integral dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka,” kata Basnang.
Namun, Basnang juga mengungkapkan bahwa meski pesantren memiliki sejarah panjang dalam pendidikan, sebagian besar pesantren masih menghadapi keterbatasan dalam akses teknologi dan infrastruktur digital. Oleh karena itu, digitalisasi pesantren sangat diperlukan untuk memajukan pendidikan di sektor ini.
Pentingnya Digitalisasi untuk Meningkatkan Akses Pendidikan di Pesantren
Salah satu fokus utama Kemenag adalah meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di pesantren, khususnya dalam hal akses teknologi digital. Pada 2024, Kemenag telah membantu digitalisasi di 250 pesantren, meskipun jumlah pesantren di Indonesia mencapai ribuan. Ini menunjukkan upaya terus-menerus dari pemerintah untuk mendukung digitalisasi pesantren.
Keterbatasan akses teknologi di daerah pedesaan menjadi tantangan besar bagi pesantren. Namun, melalui berbagai program digitalisasi, Kemenag berharap pesantren dapat memiliki akses yang lebih baik ke dunia digital dan teknologi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas peluang, dan memfasilitasi pengembangan keterampilan santri dalam berbagai bidang.
Kolaborasi dengan Pihak Swasta untuk Meningkatkan Digitalisasi Pesantren
Kemenag sangat mengapresiasi inisiatif dari sektor swasta yang mendukung digitalisasi pesantren. Salah satu contoh nyata adalah program Huawei I Do Care, yang diluncurkan oleh Huawei pada Selasa petang. Program ini bertujuan untuk memberikan dukungan digitalisasi kepada 12 pesantren dan panti asuhan di 16 wilayah Indonesia.
Basnang Said berharap kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta dapat mempercepat transformasi digital pesantren, agar pesantren dapat bersaing di era digital dan memberikan pendidikan yang lebih baik kepada santri. “Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun pesantren yang lebih berkualitas,” ungkapnya.
Harapan untuk Masa Depan Digitalisasi Pesantren
Dengan adanya kolaborasi antara Kemenag, sektor swasta, dan berbagai lembaga lainnya, diharapkan pesantren dapat berkembang menjadi pusat pendidikan yang lebih modern dan berbasis teknologi. Ini merupakan langkah penting untuk mempersiapkan generasi Indonesia yang dapat bersaing di tingkat global, sesuai dengan visi Indonesia Emas 2045.














