ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Tentang Teknologi Layar Quantum Dot, Material Mutakhir yang Diadopsi Samsung QLED

Fauzi
13 April 2025 | 11:33
rubrik: Product
Tentang Teknologi Layar Quantum Dot, Material Mutakhir yang Diadopsi Samsung QLED
Share on FacebookShare on Twitter

Pada tahun 2023, penemuan dan sintesis quantum dot telah meraih hadiah Nobel untuk bidang kimia. Penghargaan tersebut merupakan wujud pengakuan Komite Nobel terhadap pencapaian luar biasa para ilmuwan di bidang ini, yang menekankan bahwa quantum dot telah memberikan kontribusi signifikan pada industri layar dan medis, dan diperkirakan akan diterapkan secara lebih luas ke bidang elektronik, komunikasi kuantum, dan sel surya.

“Salah satu alasan Samsung berfokus pada quantum dot adalah karena puncak spektrum emisinya yang sangat sempit,” ujar Sanghyun Sohn, dari Samsung Electronics.

Quantum dot — partikel semikonduktor yang sangat kecil — memancarkan warna cahaya yang berbeda-beda tergantung pada ukurannya, menghasilkan warna yang sangat murni dan tajam. Samsung Electronics, produsen TV terkemuka di dunia, telah menggunakan material mutakhir ini untuk meningkatkan performa layarnya.

Samsung Newsroom berbincang dengan Taeghwan Hyeon, profesor terkemuka di Department of Chemical and Biological Engineering di Seoul National University (SNU); Doh Chang Lee, profesor di Department of Chemical and Biomolecular Engineering di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST); dan Sanghyun Sohn, Head of Advanced Display Lab, Visual Display (VD) Business di Samsung Electronics, untuk mengupas bagaimana quantum dot telah membawa kita memasuki era baru dalam teknologi layar.

Memahami Band Gap
“Untuk memahami quantum dot, kita harus terlebih dahulu memahami konsep band gap,” kata Taeghwan Hyeon, dari Seoul National University.

Pergerakan elektron menghasilkan listrik. Biasanya, elektron terluar — yang dikenal sebagai elektron valensi — terlibat dalam pergerakan ini. Rentang energi tempat elektron ini berada disebut valence band (pita valensi), sementara rentang energi yang lebih tinggi dan belum terisi yang dapat menerima elektron disebut conduction band (pita konduksi).

Sebuah elektron dapat menyerap energi untuk melompat dari valence band ke conduction band. Saat elektron itu melepaskan energinya, ia akan jatuh kembali ke valence band. Perbedaan energi antara kedua band (pita) ini — jumlah energi yang harus diserap atau dilepaskan oleh elektron untuk berpindah di antara keduanya — dikenal sebagai band gap (celah pita).

Perbandingan struktur band (pita) energi pada insulator, semikonduktor, dan konduktor

Insulator seperti karet dan kaca memiliki band gap (celah pita) yang besar, sehingga mencegah elektron bergerak bebas di antara band (pita). Sebaliknya, konduktor seperti tembaga dan perak memiliki valence band dan conduction band yang saling tumpang tindih — memungkinkan elektron bergerak bebas menghasilkan konduktivitas listrik yang tinggi.

Semikonduktor memiliki band gap yang berada di antara insulator dan konduktor — membatasi konduktivitas dalam kondisi normal, tetapi memungkinkan konduksi listrik atau emisi cahaya saat elektron dirangsang oleh panas, cahaya, atau listrik.

BACA JUGA:  Diam-Diam, Samsung Rilis Galaxy Tab S6 Lite (2022)

“Untuk memahami quantum dot, kita harus terlebih dahulu memahami konsep band gap,” kata Hyeon, menekankan bahwa struktur energy band (pita energi) pada suatu materi sangat penting dalam menentukan sifat kelistrikannya.

Quantum Dot – Semakin Kecil Partikelnya, Semakin Besar Band Gap-nya (Celah Pita)
“Ketika partikel quantum dot menjadi lebih kecil, panjang gelombang cahaya yang dipancarkan bergeser dari merah ke biru,” ujar Doh Chang Lee, dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST).

Quantum dot adalah kristal semikonduktor berskala nano yang memiliki sifat listrik dan optik yang unik. Diukur dalam nanometer (nm) — atau sepermiliar meter — partikel-partikel ini hanya seperseribu ketebalan rambut manusia. Ketika ukuran semikonduktor diperkecil hingga skala nanometer, sifat-sifatnya berubah secara signifikan dibandingkan ketika masih dalam ukuran sebelumnya.

Dalam ukuran lebih besar (bulk state), partikelnya cukup besar sehingga elektron dalam bahan semikonduktor dapat bergerak bebas tanpa dibatasi oleh panjang gelombangnya sendiri. Hal ini memungkinkan tingkat energi — keadaan yang ditempati partikel saat menyerap atau melepaskan energi — untuk membentuk spektrum yang kontinu, seperti sebuah perosotan panjang dengan kemiringan yang landai. Dalam quantum dot, pergerakan elektron dibatasi karena ukuran partikel lebih kecil dari panjang gelombang elektron.

Ukuran menentukan band gap dalam quantum dot

Bayangkan Anda sedang menyendok air (energi) dari sebuah panci besar (bulk state) menggunakan sendok (bandwidth yang sesuai dengan panjang gelombang elektron). Dengan sendok ini, Anda dapat dengan bebas mengatur jumlah air dalam panci, dari penuh hingga kosong — ini setara dengan tingkat energi yang berkelanjutan. Namun, ketika ukuran panci menyusut hingga seukuran cangkir teh — seperti quantum dot — sendok tidak lagi muat. Dalam kondisi ini, cangkir hanya bisa penuh atau kosong. Hal ini menggambarkan konsep tingkat energi yang terkuantisasi.

“Ketika partikel semikonduktor direduksi hingga skala nanometer, tingkat energinya menjadi terkuantisasi — mereka hanya dapat eksis dalam langkah-langkah yang terputus-putus,” kata Hyeon. “Efek ini disebut quantum confinement (pembatasan/pengurungan kuantum). Dan pada skala ini, band gap dapat dikendalikan dengan menyesuaikan ukuran partikel.”

Jumlah molekul di dalam partikel akan menurun seiring berkurangnya ukuran quantum dot, menghasilkan interaksi molecular orbital yang lebih lemah. Hal ini memperkuat efek quantum confinement (pembatasan/pengurungan kuantum) dan meningkatkan band gap.

Karena band gap berkaitan dengan energi yang dilepaskan melalui relaksasi elektron dari conduction band ke valence band, maka warna cahaya yang dipancarkan pun akan berubah.

“Saat partikel menjadi lebih kecil, panjang gelombang cahaya yang dipancarkan berpindah dari merah ke biru,” kata Lee. “Dengan kata lain, ukuran nanokristal quantum dot akan menentukan warnanya.”

BACA JUGA:  Seluruh Pabrik dan Kantor Samsung akan Gunakan Energi Terbarukan, Kapan?

Engineering di Balik Film Quantum Dot
“Film quantum dot adalah inti dari TV QLED — bukti keahlian teknis Samsung yang mendalam,” ujar Doh Chang Lee, dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST).

Quantum dot telah menarik perhatian di berbagai bidang, termasuk sel surya, fotokatalisis, medis, dan komputasi kuantum. Namun, industri layar adalah yang pertama berhasil mengkomersialkan teknologi ini.

“Salah satu alasan Samsung berfokus pada quantum dot adalah karena puncak spektrum emisinya yang sangat sempit,” kata Sohn. “Bandwidth yang sempit dan fluorescence yang kuat membuatnya ideal untuk mereproduksi spektrum warna yang luas secara akurat.”

Quantum dot menghasilkan warna merah, hijau, dan biru (RGB) yang sangat murni dengan mengontrol cahaya pada skala nano, menghasilkan bandwidth yang sempit dan fluorescence yang kuat.

Untuk memanfaatkan quantum dot secara efektif dalam teknologi layar, material dan struktur harus mampu mempertahankan performa tinggi dari waktu ke waktu, bahkan dalam kondisi ekstrem. Samsung QLED mencapai hal ini melalui penggunaan lapisan film quantum dot.

“Reproduksi warna yang akurat dalam sebuah layar tergantung pada seberapa baik film itu memanfaatkan sifat optik dari quantum dot,” kata Lee. “Film quantum dot harus memenuhi beberapa persyaratan utama untuk penggunaan komersial, seperti konversi cahaya dan translucence yang efisien.”

Film quantum dot yang digunakan di layar Samsung QLED diproduksi dengan menambahkan larutan quantum dot ke dasar polimer yang dipanaskan pada suhu yang sangat tinggi, lalu menyebarkannya menjadi lapisan tipis dan kemudian mengawetkannya. Meskipun terdengar sederhana, proses manufaktur yang sebenarnya sangat kompleks.

“Ibarat mencoba mencampur bubuk kayu manis ke dalam larutan madu yang lengket tanpa membentuk gumpalan — itu bukan tugas yang mudah,” kata Sohn. “Untuk menyebarkan quantum dot secara merata ke seluruh lapisan film, berbagai faktor seperti material, desain, dan kondisi pemrosesan harus dipertimbangkan dengan cermat.”

Terlepas dari tantangan ini, Samsung mendorong batas teknologi tersebut. Untuk memastikan daya tahan jangka panjang pada layarnya, perusahaan mengembangkan material polimer eksklusif yang dioptimalkan secara khusus untuk quantum dot.

“Kami telah membangun keahlian yang ekstensif dalam teknologi quantum dot dengan mengembangkan barrier film (film penghalang) yang mampu menghalangi kelembapan dan bahan polimer yang mampu menyebarkan quantum dot secara merata,” tambahnya. “Melalui hal ini, kami tidak hanya berhasil mencapai produksi massal, tetapi juga mengurangi biaya.”

Berkat proses canggih ini, lapisan film quantum dot Samsung menghasilkan ekspresi warna yang presisi dan efisiensi cahaya yang luar biasa — semuanya didukung oleh daya tahan terbaik di industri.

BACA JUGA:  Ini Jajaran Fitur Baru One UI 8 Watch, Bantu Pengguna Miliki Kebiasaan Hidup Lebih Sehat

“Tingkat kecerahan biasanya diukur dalam satuan nit, di mana satu nit setara dengan terang satu buah lilin,” jelas Sohn. “Sementara LED konvensional menghasilkan sekitar 500 nit, namun layar quantum dot kami dapat mencapai 2.000 nit atau lebih — setara dengan 2.000 lilin — sehingga menghasilkan level baru untuk kualitas gambar.”

Perbandingan gamut warna RGB antara spektrum cahaya yang tampak, sRGB, dan DCI-P3 dalam ruang warna CIE 1931

Dengan memanfaatkan teknologi quantum dot, Samsung telah secara signifikan meningkatkan tingkat kecerahan dan ekspresi warna — menghadirkan pengalaman visual yang belum pernah ada sebelumnya. Faktanya, TV QLED Samsung mampu mencapai tingkat reproduksi warna lebih dari 90% dari ruang warna DCI-P3 (Digital Cinema Initiatives – Protocol 3), yang menjadi tolok ukur akurasi warna dalam sinema digital.

“Meski Anda sudah berhasil membuat quantum dot, Anda tetap harus memastikan stabilitas jangka panjang agar teknologi ini benar-benar berguna,” ujar Lee. “Teknologi sintesis quantum dot berbasis indium phosphide (InP) dan teknologi produksi film Samsung yang terdepan di industri adalah bukti keahlian teknis mendalam dari Samsung.”

TV QLED Sejati Menggunakan Quantum Dot untuk Menciptakan Warna
“Legitimasi dari sebuah TV quantum dot terletak pada apakah TV ini benar-benar memanfaatkan efek quantum confinement atau tidak,” kata Taeghwan Hyeon, dari Universitas Nasional Seoul.

Seiring meningkatnya minat terhadap quantum dot di seluruh industri, berbagai produk telah memasuki pasar. Meskipun demikian, tidak semua TV yang berlabel quantum dot memiliki kualitas yang sama — quantum dot harus benar-benar memberikan kontribusi signifikan terhadap kualitas gambar yang dihasilkan.

“Legitimasi sebuah TV quantum dot terletak pada apakah TV ini benar-benar memanfaatkan efek quantum confinement atau tidak,” kata Hyeon. “Syarat mendasar yang pertama adalah penggunaan quantum dot untuk menciptakan warna.”

“Untuk dapat dianggap sebagai TV quantum dot sejati, quantum dot harus berfungsi sebagai inti dari pengkonversi cahaya atau materi utama pemancar cahaya,” ujar Lee. “Dalam hal quantum dot sebagai pengkonversi cahaya, layar harus mengandung jumlah quantum dot yang memadai untuk menyerap dan mengubah cahaya biru yang dipancarkan oleh unit backlight (pencahayaan latar).”

“Film quantum dot harus mengandung jumlah quantum dot yang cukup agar dapat berfungsi secara efektif,” ulang Sohn, menekankan pentingnya kandungan quantum dot. “Samsung QLED menggunakan lebih dari 3.000 parts per million (ppm) material quantum dot. 100% warna merah dan hijau dihasilkan melalui quantum dot.”

Samsung mulai mengembangkan teknologi quantum dot pada tahun 2001 dan, pada tahun 2015, memperkenalkan TV quantum dot pertama di dunia tanpa kandungan kadmium — TV SUHD. Pada tahun 2017, perusahaan meluncurkan jajaran QLED premium, yang semakin memperkuat kepemimpinannya dalam industri layar berbasis quantum dot.

Tags: Quantum DotSamsungSamsung QLED
Previous Post

OPPO Resmi Buka Pre-order Smartphone Lipat OPPO Find N5

Next Post

Ini Dia Sang Juara Snapdragon Pro Series Mobile Masters MLBB 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • SNPMB 2025

    Cara Daftar SNBP 2025, Dibuka 4-18 Februari 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebanyak 57,8 Juta NIK Telah Terintegrasi dengan NPWP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indibiz Sekolah, Solusi Digital Manajemen Sekolah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peneliti: “GoTo Sudah Penuhi Kualifikasi Perlindungan Data Pribadi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perumda Paljaya Manfaatkan TI untuk Layanan Pelanggan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

BSSN Dorong Penguatan Sandiman Tanggulangi Rantai Kejahatan Siber

BSSN Dorong Penguatan Sandiman Tanggulangi Rantai Kejahatan Siber

Ahmad Churi
2 September 2026 | 10:17

ItWorks.id- Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendorong penguatan peran fungsional sandiman dalam menghadapi kejahatan siber yang semakin kompleks dan...

Kemandirian Teknologi Bertumpu pada Fondasi Open Source

Kemandirian Teknologi Bertumpu pada Fondasi Open Source

Fauzi
31 July 2026 | 16:00

Oleh: Sergio Gago, Chief Technology Officer (CTO), Cloudera Di tengah lanskap teknologi yang semakin terkonsolidasi saat ini, segelintir penyedia teknologi...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto