ItWorks- Hutan hujan tropis di negara-negara Asean, khususnya Indonesia menyimpan kekayaan biodiversitas sangat tinggi hingga dikenal dengan Megadiversity Country. Sayangnya, sebagian besar kekayaan biodiversitas ini belum ‘tereksplore’, padahal ia menawarkan peluang yang sangat besar untuk berbagai penemuan ilmiah.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Nurkanto dalam acara Research Collaboration Special Session pada Pertemuan 21st ASEAN Ministerial Meeting on Science, Technology and Innovation (AMMSTI-21) dan 87th Meeting of the Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI-87) yang berlangsung (16/06/2025), di Audiorium B.J. Habibie BRIN, Jakarta dilansir portal web Brin, baru-baru ini.
Dalam paparannya yang bertajuk “Terrestrial Biodiversity Expedition”, Arif menjelaskan tujuan program ekspedisi dan penelitian terkait keanekaragaman hayati hutan hujan tropis Indonesia yang berfokus pada riset biosistematika, evolusi, dan ekologi. Selain itu, menurutnya kegiatan ini juga untuk membangun dan memperkuat kapasitas SDM ilmuwan, khususnya peneliti bidang taksonomi yang kini keberadaannya di Indonesia semakin sedikit.
Ekspedisi dibagi menjadi 2 batch, yaitu batch 1 tahun 2025-2027 berlokasi di Kalimantan Barat dan Sumatra dan batch 2 tahun 2028-2030 di Wallacea area sebagai hot spot megabiodiversity area di Indonesia. Program ekspedisi ini menurutnya erat kaitannya dengan agenda nasional, regional, dan global.
“Mewujudkan kehidupan yang selaras dengan alam untuk memastikan keberlanjutan semua bentuk kehidupan di Indonesia melalui konservasi, pemanfaatan berkelanjutan, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penguatan sumber daya alam seperti yang tercantum dalam Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2025-2045,” tuturnya.
Selain itu selaras juga dengan agenda ASEAN yang tercantum dalam dokumen ASEAN Biodiversity Plan yang bertujuan untuk meningkatkan koordinasi di antara negara anggota ASEAN dalam upaya konservasi, pengelolaan berkelanjutan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, serta pembagian manfaat yang adil dari pemanfaatan sumber daya hayati yang kaya di kawasan ASEAN.
Secara global, program ini untuk memenuhi target Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework tahun 2050, yaitu keanekaragaman hayati dihargai, dilestarikan, dipulihkan, dan dimanfaatkan secara bijaksana, dan memberikan manfaat yang esensial bagi semua penduduk bumi.
Lebih lanjut Arif menjelaskan persiapan Ekspedisi batch 1 yang melibatkan Kementerian Kehutanan dengan beberapa taman nasional seperti TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum serta Universitas Tanjungpura dan Universitas Indonesia.
“Topik penelitian dalam ekspedisi ini dibagi menjadi 3 cluster taksa, yaitu flora, fauna, dan mikroorganisma yang tidak hanya menghasilkan data, namun spesimen ilmiah yang sangat berharga, ” ujar Arif. Selanjutnya ia menyebutkan target yang ingin dicapai pada ekspedisi batch 1 ini per tahunnya yaitu: 20 publikasi ilmiah internasional, 5000 spesimen koleksi yang disimpan di National repository di BRIN, 35 spesies baru (new spesies) atau koleksi baru (new record). Ia juga berharap ekspedisi batch 1 dapat melibatkan 80-100 peneliti serta menghasilkan 20-40 mahasiswa S2 dan S3 per tahunnya.
Dalam sesi tersebut, Arif juga membuka peluang kolaborasi riset yang didanai LPDP ini kepada ASEAN member dalam hal riset bersama (joint research), pendanaan bersama (co-funding), pertukaran peneliti (exchange researcher), program postdoktoral dan peneliti tamu di BRIN (postdoctoral and visiting researcher working at BRIN), pengembangan kapasitas peneliti muda (capacity building for young researcher), dan menghasilkan mahasiswa master dan doktor (master students and doctorate candidate), khususnya untuk bidang taksonomi.














