Kemitraan Indonesia dan Inggris melalui program Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia (MENTARI) memasuki fase kedua dengan fokus memperkuat kesetaraan gender dan inklusivitas dalam proyek energi terbarukan.
Fase Kedua Lebih Inklusif
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani, menyatakan bahwa MENTARI tahap kedua akan lebih mengedepankan pemberdayaan perempuan. “Kami akan memperkuat isu inklusivitas gender untuk menciptakan program berkelanjutan,” ujarnya dalam acara MENTARI Day di Jakarta, 3/07/2925.
Pencapaian Fase Pertama
Pada fase pertama, program ini telah:
- Membentuk 16 usaha kecil, 15 di antaranya digerakkan oleh perempuan.
- Memberdayakan 5 kelompok tani perempuan mengolah 7 hektare lahan tidur menjadi kebun serai dan jahe.
- Melatih 76 orang tentang gender dan inklusi dalam proyek energi.
Investasi Besar untuk Energi Bersih
Sejak 2020, MENTARI telah menyalurkan dana Rp72,7 triliun (3,29 miliar poundsterling) untuk:
- Elektrifikasi daerah terpencil.
- Integrasi energi terbarukan ke jaringan listrik.
- Pendanaan Viability Gap Fund (VGF) untuk proyek berkelanjutan.
Wakil Dubes Inggris untuk Indonesia, Matthew Downing, menambahkan bahwa program ini berhasil menarik investasi hijau senilai Rp19,9 triliun.
Keberlanjutan Jadi Prioritas
Sekjen Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menekankan, MENTARI fase kedua akan lebih efisien secara pendanaan namun berdampak lebih luas, sekaligus memastikan keberlanjutan proyek sebelumnya.
Tujuan MENTARI
Program ini dirancang untuk mendorong kebijakan energi terbarukan yang inklusif, mendukung investasi hijau, dan menciptakan transisi energi yang adil di Indonesia.














