Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ungkap tiga kunci penting yang menjadi bagian penting bagi kelangsungan transformasi digital di Indonesia. Di antaranya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), rantai blok (blockchain), dan penguatan keamanan siber.
Hal tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho dalam kegiatan AI Development Seminar: Technical AI & Blockchain-Based AI Training, belum lama ini. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa adopsi AI bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Ia memproyeksikan bahwa teknologi ini dapat menyumbang hingga 10% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2030, khususnya melalui sektor keuangan, pendidikan, kesehatan, hingga pertanian presisi. “Percepatan adopsi teknologi tidak dapat dilepaskan dari kerja sama lintas sektor, mulai dari kalangan akademisi hingga pelaku usaha. Hal tersebut agar riset dan implementasi berjalan seiring kebutuhan nyata masyarakat,” katanya dirilis Humas BRIN (11/09/2025), di Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Lukas, Dosen Teknik Elektro Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sebagai Ketua Indonesia Artificial Intelligence Society mengulas mengenai perjalanan AI dari tahap Artificial Narrow Intelligence (ANI) hingga menuju Artificial General Intelligence (AGI). “ANI adalah bentuk AI yang hanya menguasai satu domain terbatas, misalnya pengenalan wajah atau sistem rekomendasi. ANI sangat mahir dalam tugas spesifik, namun gagal jika dihadapkan pada konteks di luar rancangan awalnya,” urainya.
Dijelaskannya bahwa AGI yang mulai berkembang pada masa kini menawarkan kemampuan yang lebih umum. “Ia bisa melakukan penalaran lintas topik dan menjawab beragam pertanyaan yang sebelumnya tidak terprogram secara khusus. Namun, AI hanyalah asisten cerdas, manusia tetap harus menjadi pengambil keputusan akhir agar akuntabilitas tetap terjaga,” jelasnya.
Ia juga mengulas bagaimana Large Language Model (LLM) bekerja dengan mekanisme transformer. “Inti dari transformer adalah proses atensi yang memilih bagian penting dari kalimat manusia untuk kemudian diprediksi lanjutannya. Dari sinilah AI bisa merangkai jawaban yang tampak alami,” sambungnya.
Lebih jauh, konsep Retrieval-Augmented Generation (RAG) dibahas sebagai pendekatan yang memungkinkan model tidak hanya mengandalkan data internal, melainkan juga mencari dahulu informasi eksternal sebelum memberi jawaban.“Multimodalitas, yaitu kemampuan AI memahami teks, gambar, dan suara sekaligus. Serta, konsep mixture-of-experts yang menggabungkan pakar-pakar internal model untuk meningkatkan ketepatan penalaran,” terangnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya edge computing yang didukung perangkat internet untuk segala (Internet of Things/IoT) untuk memastikan kedaulatan data dan kecepatan pemrosesan. Ia memberi contoh sistem tilang elektronik (Electronic Traffic Law Enforcement/ETLE), di mana kamera di lapangan memproses data langsung tanpa harus bergantung sepenuhnya pada server pusat.
“Dibalik peluang besar ini, kami ingatkan adanya risiko serius, yaitu bias data, penyebaran disinformasi, potensi manipulasi melalui pemalsuan, hingga ancaman serangan peracunan data. Karena itu, validasi, pengujian ulang, serta pendidikan etika menjadi keharusan dalam membangun ekosistem AI yang sehat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN Zamroni Salim memperkenalkan konsep AGI terdesentralisasi yang dibangun melalui blockchain. “Selama ini pengembangan AI didominasi korporasi besar maupun negara tertentu, sehingga kontrol bersifat sentralistik. “Dengan blockchain, kontrol dapat berpindah ke tangan masyarakat,” tuturnya.
Ia memperkenalkan platform bernama Aigat, yang diklaim sebagai AGI berbasis blockchain dengan kemampuan pembelajaran mandiri. “Artinya, sistem ini mampu belajar dan memperbaiki dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus diperbarui dari luar,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa dengan blockchain, siapa pun dapat berperan bukan hanya sebagai pengguna AI, melainkan juga sebagai pelatih. Sistem ini menggunakan pendekatan useful proof of work. “Energi komputasi yang biasanya hanya dipakai untuk memecahkan algoritma dan menghasilkan koin dalam blockchain konvensional, dimanfaatkan juga untuk melatih AI. Dengan begitu, proses mining tidak hanya menghasilkan mata uang kripto, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan kecerdasan buatan,” rincinya.
Selanjutnya, Dosen Magister Teknologi Informasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Nashrul Hakiem memaparkan ancaman siber di Indonesia kian meningkat. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), hampir 120 juta serangan pada Desember 2024,
“Evolusi keamanan siber kini telah memasuki tahap kelima. Dari sekadar antivirus dan firewall, berkembang menjadi keamanan berbasis AI. Ini mampu beradaptasi secara otomatis dan bahkan menyembuhkan dirinya sendiri,” bebernya.
Ia menggarisbawahi bahwa AI ibarat pedang bermata dua, bisa menjadi pelindung, namun juga bisa dipakai untuk menyerang. “Misalnya, melalui deepfake yang kian sulit dibedakan dari kenyataan. Karena itu, penting menerapkan prinsip zero trust atau selalu memverifikasi setiap akses, serta memperkuat pusat operasi keamanan dan tim respon insiden,” imbuhnya.
Blockchain, lanjutnya, dapat berperan menjaga integritas data karena sifatnya yang tidak mudah diubah. Dengan catatan-catatan transaksi yang permanen, blockchain bisa digunakan sebagai lapisan kepercayaan untuk berbagi informasi mengenai ancaman secara lebih transparan. Terakhir, ia juga menyinggung aspek regulasi dan etika, seraya menegaskan bahwa kebocoran data bukan lagi isu, melainkan kenyataan sehari-hari.














