ItWorks- Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi, Organisasi Riset Elektronika dan Informatika, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rezzy Eko Caraka, kembali menorehkan prestasi internasional. Rezzy masuk ke dalam daftar Top 2% Ilmuwan Dunia yang dirilis Stanford University pada 19 September 2025.
Rezzy konsisten tercatat dalam daftar bergengsi ini sejak 2022. Tahun ini, ia masuk dalam kategori kepakaran Artificial Intelligence & Image Processing dengan skor np6024=90. Hingga 23 September 2025, ia telah membukukan 2.286 sitasi di Scopus (h-index 24), 4.591 sitasi di Google Scholar (h-index 33), serta 1.211 sitasi di Web of Science (h-index 16).
Dalam risetnya, Rezzy menitikberatkan penerapan Data Science dan Artificial Intelligence untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan penta-helix collaboration yang melibatkan akademisi, pemerintah, industri, komunitas, dan media. “Seluruh topik SDGs, mulai dari SDG 1 hingga SDG 17, saling terkait dan membutuhkan pendekatan berbasis data agar kebijakan lebih tepat sasaran,” ujarnya, dilansir Humas BRIN (24/09/2025)
Disebutkan, sepanjang 2025, Rezzy aktif menerbitkan hasil riset di jurnal bereputasi internasional seperti Journal of Multidisciplinary Healthcare, IEEE Access, International Journal of Applied Earth Observation and Geoinformation, hingga Universal Access in the Information Society.
Salah satu karyanya yang akan terbit adalah artikel berjudul “Using Kolmogorov–Arnold network and ResNet for marine protein mapping in support of the Prabowo–Gibran MBG program” di jurnal Discover Sustainability. Penelitian ini memetakan potensi protein laut dengan kecerdasan buatan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus berkontribusi pada SDG 2 (Zero Hunger), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 14 (Life Below Water).
Selain itu, riset lain yang sudah resmi terbit adalah artikel “Big Data Analytics for Uncovering Voxel Connectivity Patterns in Attention Deficit Hyperactivity Disorder” di Journal of Multidisciplinary Healthcare. Penelitian ini menganalisis 5.937 brain voxels dari pasien ADHD, memberikan kontribusi pada SDG 3 (Good Health and Well-being) dan SDG 4 (Quality Education).
“Penelitian yang saya mulai sejak 2022 di Seoul National University memberi wawasan baru tentang pola konektivitas otak. Hal ini dapat menjadi dasar intervensi medis maupun kebijakan pendidikan yang lebih efektif,” ungkap Rezzy.
Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi BRIN, Esa Prakasa, mengapresiasi capaian ini. “Prestasi Rezzy diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi periset BRIN serta memperkuat jaringan riset global dan ekosistem riset nasional,” imbuhnya.
Konsistensi Rezzy masuk dalam daftar Top 2% Ilmuwan Dunia sejak 2022 membuktikan kiprah ilmuwan Indonesia di kancah global serta menegaskan peran riset dan inovasi nasional dalam menjawab tantangan dunia.














