Jakarta, Itech- Terwujudnya industri bahan bakar nabati atau biofuel penerbangan dimungkinkan apabila ada sinergi yang positif antara pihak pemerintah sebagai regulator termasuk lembaga penelitian, produser biofuel dan juga para pengguna aviation biofuel (operator penerbangan). Harapan tersebut disampaikan Kemal Prihatman, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Ristekdikti disela Technical Workshop on Aviation Biofuel di Jakarta, Senin (10/4).
Kemal menjelaskan tujuan workshop ini adalah dukungan kebijakan pemerintah dalam pengembangan aviation biofuel termasuk membentuk suatu riset yang dibawah koodinasi tiga kementerian (ristekdikti, Perhubungan dan ESDM). Karena, masih sedikitnya penelitian mengenai bio-avtur. Padahal ketersediaan bahan baku untuk produksi biofuel sangat potensial di Indonesia .”Pengembangan dimaksud antara lain identifikasi, teknologi produksi, feed-stock serta potensi dan kapasitas lembaga penelitian,” tambahnya.
Seperti diketahui, industri penerbangan telah mengambil sejumlah langkah dalam membatasi emisi karbon dioksida dari pesawat untuk mengurangi kontribusi penerbangan terhadap pemanasan global. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional ICAO telah menetapkan target penurunan emisi dari penerbangan internasional pada 2020-2050 pada tingkat 50%. Sementara Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 29% pada 2030. Komitmen tersebut merupakan penyempurnaan dari target sebelumnya yakni 26% di 2020. Data lain menyebutkan, meskipun penerbangan berkontribusi hanya dua persen dari emisi karbon dunia, para ilmuwan berpendapat bahwa gas yang dilepaskan di atmosfer, yang diproduksi dari mesin pesawat, memiliki dampak pemanasan ketimbang sumber-sumber di daratan.
Sementara itu, Wendy Aritenang, Senior National Expert ICAO mencontohkan, salah satu regulasi bagi maskapai yang ingin terbang ke Amerika Serikat adalah menggunakan avtur biofuel. Karena itu, kita harus mendorong agar dunia penerbangan Indonesia menggunakan bahan bakar pesawat berjenis biofuel dalam rangka mengurangi emisi. Beberapa negara yang menjual avtur biofuel adalah Eropa, Brazil dan AS dan lain sebagainya. Karena itu, Wendy mendorong serta mendukung agar Indonesia bisa terus mengembangkan teknologi alternatif yang ramah lingkungan khususnya biofuel penerbangan. (red/ju)













