ItWorks.id-Melalui penelitian dan pengembangan teknologi grafting, BRIN berupaya menghadirkan solusi berbasis sains untuk mewujudkan pertanian cerdas, adaptif, dan berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap komoditas hortikultura unggulan nasional.
Kali ini, menyiasati perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan teknologi grafting tomat menggunakan batang bawah terung sebuah inovasi hortikultura yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, sekaligus ketahanan tanaman terhadap cekaman lingkungan ekstrem.
Inovasi ini disampaikan oleh Evy Latifah, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, dalam webinar HortiActive #21 bertema “Inovasi Teknologi Grafting Tomat dengan Menggunakan Batang Bawah Terung untuk Pengelolaan Cekaman Abiotik dalam Upaya Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani”, yang digelar secara daring belum lama ini.
Dalam paparannya berjudul “Teknologi Grafting Tomat Batang Bawah Terung untuk Peningkatan Produksi”, Evy menegaskan bahwa teknologi grafting atau penyambungan tanaman menjadi salah satu solusi efektif untuk menghadapi menurunnya produktivitas tomat akibat faktor biotik dan abiotik, seperti penyakit layu bakteri, banjir, kekeringan, suhu tinggi, serta salinitas tanah. “Ketika risiko produksi meningkat pada musim hujan atau saat off season, penggunaan teknik grafting menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi tomat,” ujar Evy dirilis Humas BRIN (12/10/2025) melalui portal web.
Tomat merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Selain menjadi sumber nutrisi penting seperti vitamin A, B, dan C, serta mineral esensial, tomat juga memiliki permintaan pasar yang stabil sepanjang tahun. Namun, di balik potensi ekonominya, tomat termasuk tanaman yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Faktor-faktor abiotik seperti suhu ekstrem, kelembapan tinggi, dan kekeringan sering kali menghambat pertumbuhan tanaman tomat. Sementara itu, faktor biotik seperti hama dan penyakit tanah memperparah risiko kehilangan hasil. Melalui riset grafting, BRIN berupaya menghadirkan inovasi yang mampu memutus siklus kerentanan tersebut.
Inovasi Grafting: Menyatukan Kekuatan Dua Tanaman
Grafting atau sambung tanaman adalah teknik penyatuan dua spesies tanaman berbeda, di mana batang atas (scion) dari tomat unggul disambungkan dengan batang bawah (rootstock) dari tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem, seperti terung. Hasilnya adalah satu individu tanaman baru yang memadukan produktivitas tomat dengan ketahanan alami terung terhadap stres lingkungan.
“Teknologi ini bukan sekadar metode budidaya, tetapi strategi biologis untuk memperkuat sistem perakaran tomat, meningkatkan daya tahan terhadap penyakit layu, dan menstabilkan produksi di tengah fluktuasi iklim,” terang Evy.
Ia menjelaskan bahwa teknik grafting sebaiknya diterapkan pada kondisi berisiko tinggi, seperti saat musim hujan, banjir, serangan nematoda, atau penyakit tanah. Meski biaya penerapannya lebih tinggi dibandingkan penanaman konvensional, hasilnya terbukti lebih stabil dan efisien untuk jangka panjang.
Sejumlah varietas terung yang terbukti efektif sebagai batang bawah tomat, adalah TS 03, EG 195, EG 219, EG 203, yang dikembangkan dari pusat-pusat penelitian sayur dunia. Sedangkan terung lokal di Indonesia yang bisa digunakan adalah terung gelatik (Solanum melongena), dan takokak (Solanum torvum). Selain itu, varietas tomat tahan penyakit seperti Hawaii 7996 (AVRDC), Gustavi F1 dan Servo F1 (PT East West Seed Indonesia (Cap Panah Merah) juga direkomendasikan untuk mendukung keberhasilan grafting di lapangan.
Langkah Teknis
Dalam paparannya, Evy juga menjelaskan tahapan penting grafting yang memerlukan ketelitian tinggi. “Kunci keberhasilan grafting adalah kesamaan diameter batang atas dan bawah, waktu penyambungan yang tepat, ketrampilan/kemampuan petani untuk menyambung serta kondisi lingkungan yang terkontrol,” tuturnya.
Bibit batang bawah umumnya ditanam di polybag berdiameter 6 cm dan digrafting setelah memiliki 2–3 daun sejati dengan diameter batang sekitar 1,6–1,8 mm. Sebelum proses penyambungan, bibit perlu disiram air beberapa jam untuk mengurangi stres tanaman, namun tidak boleh terlalu dekat dengan waktu pemotongan agar tidak terjadi infeksi.
“Selama proses penyembuhan, bibit hasil grafting ditempatkan dalam grafting chamber bersuhu 25–30°C dengan kelembapan lebih dari 85%. Lingkungan lembap diperlukan agar sambungan dapat menyatu sempurna tanpa risiko kontaminasi penyakit,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa negara seperti Vietnam, dan Filipina teknologi grafting secara luas sejak tahun 2001, bahkan di Taiwan sudah ada pengusaha pembibitan telah menerapkan teknologi grafting mulai tahun 1978 dengan fasilitas grafting chamber otomatis berskala industri. Indonesia mulai mengadopsi pendekatan serupa di beberapa daerah seperti Bali, Blitar, dan Kediri, sebagai bagian dari transfer teknologi hortikultura adaptif.














