ItWorks- Pemanfaatan teknologi dan peralatan modern untuk diagnosa dan layanan kesehatan di sejumlah rumah sakit swasta Indonesia yang ditopang dengan keramahtamahan pelayanan, diharapkan bisa menekan melayangnya devisa dari banyaknya warga negara Indonesia yang berobat ke rumah sakit di luar negeri.
Masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, mengakibatkan adanya “kebocoran” devisa ke luar negeri negara yang signifikan, dengan perkiraan mencapai ratusan triliun ruliah per tahaun. Hal ini karena biaya pengobatan, farmasi, dan alat kesehatan yang dikeluarkan oleh WNI di luar negeri, seharusnya dapat menjadi devisa nasional jika hal ini bisa diambil alih oleh rumah sakit di dalam negeri.
“Sekarang ini sudah makin banyak rumah sakit swasta di Indonesia yang memiliki alat medis canggih untuk layanan kesehatan, seperti halnya rumah sakit di luar negeri. Jadi teknologinya sudah sama canggihnya, dokternya juga sama pintarnya. Nah yang saya ingin pesankan adalah hospitality-nya, keramahtamahannya. Supaya mereka yang selama ini berobat ke luar negeri, tertarik beralih ke dalam negeri. Pemerintah mencatat ada sekitar Rp600 triliun dikeluarkan publik untuk berobat ke negara tetangga. Jumlah yang sangat besar, dan apabila dikelola dengan baik, bisa mendatangkan pendapatan yang lebih besar,” ungkap Wakil Menteri Kesehatan prof. dr. Dante Saksono Harbuwono., Sp.PD, Ph.D saat memberikan sambutan pada Pembukaan “Primaya Fair 2025” (15/10/2025), di Jakarta.
Menurutnya, salah satu alasan publik mau berobat ke luar negeri, di antaranya karena faktor keramahan dalam pelayanan. Oleh karena itu pihaknya meminta Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) untuk mengawal adanya upaya meningkatkan aspek keramahtamahan pelayanan RS swasta ini. Ia berharap, Primaya yang sudah berkiprah 19 tahun, dapat terus meningkatkan layanan bidang kesehatan, sehingga juga dapat membantu pemerintah dalam pelaksanaan transformasi kesehatan.
Ditambahkan bahwa rumah sakit swasta bisa membantu pemerintah memperkuat pendekatan kesehatan promotif dan preventif guna mengantisipasi perubahan tren penyakit, mengingat semakin banyaknya penyakit tidak menular pada masa kini. “Dahulu kematian lebih banyak disebabkan oleh penyakit menular, namun kini semakin banyak penyakit tidak menular yang merenggut nyawa, dan hal itu perlu diantisipasi bersama-sama. Ada lebih banyak RS swasta di Indonesia dibandingkan RS milik pemerintah, sehingga bisa menjadi mitra strategis dalam upaya mengubah paradigma kesehatan masyarakat dan melakukan transformasi kesehatan, terutama di bidang promotif dan preventif,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr. Bambang Wibowo mengatakan bahwa lebih dari 60 persen Rumah Sakit di Indonesia adalah milik swasta (RS Swasta). Diakui dengan jumlah yang signifikan tersebut, RS swasta juga memiliki peran penting dalam pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dikatakan dengan berbagai potensi yang dimiliki rumah sakit swasta yang ada di Indonesia, seperti dari Primaya Hospital Group, pihaknya percaya bahwa RS Indoinesia akan mampu bersaing secara global di sektor wisata medis. “Kita harapkan bisa mempertahankan nama baik Kementerian Kesehatan, negara dan bangsa. Dan juga membantu untuk sektor ekonomi. Paling tidak bisa menahan saudara-saudara kita yang akan berpergian ke luar,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, CEO Primaya Hospital Group Leona A. Karnali mengatakan, di usianya yang ke-19 tahun, Primaya terus berupaya menghadirkan berbagai inovasi, contohnya seperti pada Primaya Hospital Kelapa Gading yang dilengkapi teknologi terkini yang akan resmi buka pada 17 Oktober 2025 ini sebagai rumah sakit terbaru di bawah grupnya. “Selama 19 tahun berkiprah, kami berkomitmen terus menghadirkan layanan kesehatan yang aman dan terpercaya,” ungkapnya.














