ItWorks- MSI Institute, bagian dari PT Madani Solusi Internasional (MSI), kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan kapasitas insan pers dengan menggelar pelatihan Artificial Intelligence (AI) untuk jurnalis, Rabu (7/1/2026). Pelatihan ini menghadirkan Totok Sediyantoro, MBA, PhD, dosen sekaligus praktisi ICT, sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Peran dan Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk Praktisi Jurnalis”.
CEO MSI Group, M. Lutfi Handayani, dalam sambutannya menegaskan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, penguasaan AI menjadi kebutuhan mutlak bagi jurnalis. Menurutnya, AI mampu menjadi alat strategis untuk meningkatkan kecepatan, akurasi, dan kualitas kerja jurnalistik tanpa mengesampingkan etika dan kaidah pers.
“Di era sekarang, penggunaan AI adalah keniscayaan bagi jurnalis. Teknologi ini sangat membantu meningkatkan kinerja, terutama dalam menghasilkan karya jurnalistik yang lebih cepat dan berkualitas, terlebih dengan keterbatasan jumlah jurnalis,” ujar Lutfi saat membuka pelatihan yang berlangsung di Kantor MSI Institute, Graha 415, Ciputat, Jakarta Selatan.
Ia menambahkan, MSI Group saat ini tidak hanya menerbitkan majalah cetak, tetapi juga secara rutin menerbitkan e-magazine. Dengan dukungan AI, seluruh proses penerbitan diharapkan dapat berjalan lebih efisien dan tepat waktu. Meski demikian, pemanfaatan AI tetap harus dilakukan secara bertanggung jawab. “Pemanfaatan AI harus tetap memperhatikan kode etik dan kaidah jurnalistik,” tegasnya.
Pelatihan ini diikuti oleh jurnalis, fotografer, dan desainer grafis dari empat media di bawah naungan MSI Group, yakni Majalah TopBusiness, Majalah ItWorks, Madani, dan CoreNews. Peserta dibekali pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar AI, mulai dari big data analytics, proses pengolahan informasi berbasis AI, hingga implementasi praktis AI dalam kerja jurnalistik sehari-hari.
Selain itu, peserta juga didorong untuk menguasai teknik penyusunan prompt yang tepat agar AI dapat dimanfaatkan secara optimal dalam proses peliputan, penulisan, penyuntingan, hingga pengemasan berita yang lebih menarik dan cepat.
Dalam paparannya, Totok Sediyantoro menjelaskan bahwa AI pada dasarnya adalah tools yang dapat digunakan lintas bidang, termasuk jurnalistik. Menurutnya, AI dapat membantu mempercepat proses kerja jurnalis dengan tingkat akurasi yang lebih baik, asalkan digunakan secara bijak.“AI tidak boleh menggantikan peran jurnalis. Wartawan tetap harus melakukan check and recheck, melakukan editing ulang, dan bertanggung jawab penuh atas konten yang dihasilkan,” ujarnya.
Totok juga menekankan dua kunci utama agar penggunaan AI memberikan hasil maksimal bagi jurnalis. Pertama, memiliki rasa ingin tahu dan mental eksplorasi atau gemar “nguklik” dan ngoprek. Kedua, kemampuan editing yang kuat.“Dua hal ini adalah kunci utama keberhasilan penggunaan AI, terutama di dunia jurnalistik,” jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, AI tidak akan bekerja optimal jika penggunanya pasif. AI ibarat mesin super canggih yang akan bergerak sesuai dengan rasa ingin tahu penggunanya. Karena itu, prompt menjadi elemen krusial dalam berkomunikasi dengan AI.“Kualitas hasil AI sangat ditentukan oleh kualitas prompt. Prompt harus jelas, fokus, dan terarah. Tanpa prompt yang baik, AI bisa menghasilkan output ke mana-mana,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini, MSI Institute berharap para jurnalis tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengendali narasi dan penjaga kualitas informasi di tengah derasnya arus digitalisasi dan disrupsi industri media.














