ItWorks.id- Pemerintah Kota Surakarta bertekad mengoptimalkan peran Solo Techno Park sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan teknologi, tetapi juga pelatihan dan penyaluran tenaga kerja. Upaya program ini terintegrasi dalam Asta Cita Surakarta, khususnya melalui inisiatif “Rumah Siap Kerja Bersama”.
Isu paling mendesak khususnya di Kota Surakarta yakni lemahnya link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri. Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto saat memberikan paparan dalam Rilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, pada (24/2/2026) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, yang dirilis Humas BRIN, baru-baru ini.
Respati menekankan bahwa dalam konteks daya saing dan inovasi, terdapat dua pilar krusial, yakni berkaitan dengan dinamika bisnis. Menurutnya, paradoks ketenagakerjaan saat ini sangat nyata: pelaku usaha mengeluhkan sulitnya mencari karyawan, sementara pencari kerja juga mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan. Situasi tersebut, katanya, terjadi karena belum adanya backbone ekosistem yang kuat untuk menjembatani kebutuhan industri dengan suplai tenaga kerja.“Sekolah vokasi masih terpusat di SMK, SMA, dan universitas. Tetapi kita belum punya sistem penyaluran tenaga kerja yang solid. Kalau 2030 kita masuk bonus demografi tanpa ekosistem yang siap, ini akan jadi masalah besar,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kota Surakarta mengoptimalkan peran Solo Techno Park sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan teknologi, tetapi juga pelatihan dan penyaluran tenaga kerja. “Solo Techno Park tidak sekadar menyelenggarakan pelatihan berbasis sertifikasi, melainkan memastikan adanya penempatan kerja yang jelas. Program ini terintegrasi dalam Asta Cita Surakarta, khususnya melalui inisiatif “Rumah Siap Kerja Bersama”, ujarnya.
Respati menekankan bahwa pelatihan tidak boleh berhenti pada sertifikat, tetapi harus menjamin penempatan kerja. Ia mencontohkan peluang kebutuhan 1,5 juta tenaga kerja di Jepang yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi Indonesia.
Selain pelatihan konvensional, Solo Techno Park mengembangkan program berbasis kebutuhan industri seperti CNC untuk manufaktur dan otomotif, pelatihan underwater welding bekerja sama dengan Pertamina Hulu Energi dan SKK Migas, Cyber Security National Hub, hingga AI Experience Center. Untuk pelajar, juga dikembangkan EduBLOX berbasis Roblox sebagai pendekatan adaptif terhadap teknologi digital.
Respati menegaskan, inovasi bukan sekadar membuat aplikasi demi mengikuti lomba, melainkan solusi konkret atas persoalan nyata masyarakat. Ia berharap indikator daya saing daerah tidak hanya menjadi angka administratif, tetapi mampu menghadirkan dampak nyata dalam menekan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.
Dengan penguatan link and match, model bisnis inovasi berkelanjutan, serta keberpihakan pada kelompok rentan, Surakarta menargetkan daya saing sebagai instrumen transformasi sosial-ekonomi yang inklusif dan terukur.














