Jakarta, Itech- Dalam rangka mengevaluasi kemajuan penerapan penggunaan mikrobiologi untuk produksi pertanian di lahan gambut, Badan pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT), berkolaborasi dengan ASEAN Sectoral Working Group on Crops (ASWGC), menggelar workshop untuk mendapatkan pemahaman bersama mengenai penggunaan mikroba yang efektif untuk produksi pertanian berkelanjutan di lahan gambut.
Deputy Teknologi Agro Industri dan Bioteknologi Prof. Eniya Listiani Dewi mengatakan pentingnya penggunaan mikroba yang efektif untuk produksi pertanian dengan menggandeng indusri di Pulau Sambu, Provinsi Riau. “Mikroba itu menjadi satu solusi bahwa limbah nanas bisa dijadikan pupuk khusus. Kita menggandeng industry dalam hal ini PT Riau Sakti untuk mendirikan pabrik yang lebih besar dengan kapasitas 4000 ton per tahun dan akan di launching Bulan Oktober ini,” katanya di Jakarta, Senin (31/7).
BPPT telah mengembangkan mikroba yang mampu menaikkan kadar keasaman lahan gambut sehingga mengurangi kebutuhan pupuk serta mencegah pembakaran lahan oleh petani. Penelitian terhadap mikroba tersebut dilakukan selama dua tahun sebelum dikembangbiakkan dan diujicobakan di lahan gambut . “Mikroba yang sudah diujicobakan BPPT ini mampu menaikkan kadar keasaman atau pH. Teknologi baru itu dapat diaplikaskan secara mudah, murah dan cepat oleh petani,” tambah Eniya.
Sementara itu, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT Wimpie Agoeng Noegroho, mengatakan BPPT terus menerus melakukan antisipasi terhadap kebakaran lahan gambut melalui inovasi di beberapa hot spot dengan memasaing berberapa alat di seluruh area restorasi yakni Early Warning System (EWS). “Pemasangan instrument EWS untuk melihat kelembaban di lahan gambut dan muka air kemudian data tersebut dikirimkan saluran telekomunkasi ke pusat kami di Serpong. Selanjutnya kita mulai melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca dengan memindahkan lokasi hujan di tempat lain,” katanya.
Diketahui, Workshop tersebut dihadiri sebanyak 100 peserta yang terdiri dari para ahli, ilmuwan dan dosen Universitas yang berasal dari China dan Indonesia, serta delegasi ASEAN dari Brunei Darussalam, Cambodia, Lao PDR, Malaysia, Philippines, Singapore, Viet Nam dan Indonesia. Masing masing negara akan sharing bagaimana mengelola laham gambut di negaranya masing masing. Hot issue seputar kebakaran lahan gambut juga sempat dibicarakan.Termasuk untuk menyiapkan draft proposal kegiatan di bidang modifikasi tanah gambut menggunakan mikrobiologi untuk pertimbangan dari negara-negara ASEAN dan China.













