ItWorks.id – PT Yesboss Group Indonesia atau Kata.ai memperkenalkan Frontera, platform Agentic AI yang dikembangkan secara internal, untuk mempercepat pengembangan solusi kecerdasan buatan (AI) bagi perusahaan skala besar (enterprise) dan sektor publik. Platform ini dirancang untuk memangkas waktu pengerjaan proyek, sekaligus mendukung penerapan AI yang aman, terukur, dan sesuai kebutuhan bisnis.
Chief Operating Officer & Co-Founder PT Yesboss Group Indonesia, Wahyu Wrehasnaya, mengatakan Frontera menjadi salah satu prioritas pengembangan perusahaan pada tahun ini. Platform tersebut mengintegrasikan AI Agents, workflow, automation, dan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien, termasuk kemampuan percakapan berbasis teks (chat) dan suara (voice).
Menurut Wahyu, pengembangan Frontera dilatarbelakangi kebutuhan perusahaan untuk mengadopsi AI secara lebih cepat tanpa harus membangun seluruh komponen teknologi dari awal.
“Estimasi kami secara internal menunjukkan delivery-nya bisa turun antara 40-60%, menggunakan platform kami dibandingkan dengan klien, enterprise, mengembangkan dengan sendiri,” ujar Wahyu saat sesi penjurian TOP Digital Awards 2026 yang digelar secara daring, Rabu (14/10/2026).
Melalui Frontera, Kata.ai menyiapkan blueprint, AI Agents, dan keterampilan (skills) yang telah dikurasi berdasarkan kebutuhan penggunaan. Komponen tersebut dapat digunakan kembali dan disesuaikan untuk berbagai proyek sehingga proses pengembangan dan implementasi solusi AI diharapkan menjadi lebih efisien.
Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi Kata.ai dalam memperluas pemanfaatan teknologi AI, tidak hanya melalui chatbot, tetapi juga layanan berbasis suara, avatar digital, dan implementasi on-premise sesuai kebutuhan infrastruktur perusahaan.
Kata.ai merupakan perusahaan teknologi asal Indonesia yang berfokus pada Conversational AI dan Agentic AI. Perusahaan ini melayani berbagai sektor, antara lain perbankan, telekomunikasi, barang konsumsi atau FMCG, asuransi, dan layanan publik.
“Prioritas pengembangan kami itu di Agentic dan Sovereign AI melalui produk baru kami, Frontera. Dengan tetap memperhatikan data residency, akurasi, dan juga kesiapan dari talent sendiri,” kata Wahyu yang pada sesi penjurian ini juga ditemani Jaco Prawinda (Chief Technology Officer) dan Berlian Putri (Partnership & Product Marketing Manager) di Kata.ai.
Efisiensi Proyek dan Ekspansi Pasar
Pengembangan Frontera didukung pengalaman Kata.ai dalam membangun solusi sejak 2015. Platform ini dirancang untuk membantu perusahaan mempercepat implementasi, mulai dari penyusunan kebutuhan, pengembangan agen AI, integrasi alur kerja, hingga penerapan layanan kepada pengguna.
Wahyu mencontohkan pengalaman perusahaan mengembangkan kemampuan voice AI untuk Dubai Smart City yang dipresentasikan dalam ajang GITEX 2025. Dalam pengembangan solusi semacam ini, penggunaan blueprint dan komponen AI yang telah dikurasi menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi pekerjaan manual dan mempercepat proses implementasi.
Menurut Wahyu, pengembangan chatbot secara konvensional dapat memerlukan waktu beberapa bulan sebelum siap digunakan. Melalui Frontera, perusahaan berupaya memanfaatkan kembali komponen yang telah tersedia dengan tetap menyesuaikannya terhadap kebutuhan setiap klien.
Untuk layanan pelanggan, teknologi chatbot dan Voice AI Kata.ai dapat membantu menjawab pertanyaan berulang selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Teknologi tersebut juga mendukung analisis interaksi untuk menghasilkan bahan evaluasi kualitas layanan.
Dari sisi komersial, nilai kontrak proyek sangat bergantung pada kompleksitas kebutuhan dan cakupan implementasi.
Kata.ai juga mengarahkan pengembangan bisnisnya ke pasar regional. Indonesia tetap menjadi pasar utama, sementara kawasan ASEAN dan Gulf Cooperation Council (GCC) menjadi sasaran ekspansi.
Dari sisi pendanaan, Wahyu menyampaikan bahwa perusahaan telah menghimpun lebih dari US$8 juta dan berada pada tahap pendanaan Series B terakhir. Sementara itu, estimasi valuasi post-money perusahaan berada di kisaran US$25 juta. Adapun informasi anggaran bisnis secara lebih terperinci masih bersifat rahasia.
Keamanan Data dan Tata Kelola AI
Di tengah pengembangan Agentic AI, Kata.ai menempatkan keamanan informasi, tata kelola, dan akuntabilitas sebagai bagian penting dari penerapan teknologi. Perusahaan menilai kemampuan model AI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan organisasi, terutama perusahaan besar dan instansi publik yang memiliki persyaratan ketat terkait data dan operasional.
Wahyu menjelaskan bahwa kontrol perusahaan mencakup empat lapisan, yakni tata kelola proyek, risiko dan kepatuhan, pengelolaan data, serta manajemen layanan.
Penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing klien, termasuk pengaturan kepemilikan data, isolasi tenant, akses berbasis peran (role-based access), penyamaran informasi sensitif melalui AI masking, serta pilihan implementasi di infrastruktur milik klien (on-premise) atau lingkungan lainnya.
Pada tahap delivery, perusahaan juga menjalankan proses peninjauan, pemantauan service-level agreement (SLA), penanganan insiden, dan penyimpanan jejak audit (audit trail). Langkah tersebut ditujukan agar proses pengembangan dan penerapan teknologi dapat ditelusuri serta dievaluasi.
Dalam aspek teknis, Kata.ai menggunakan basis pengetahuan yang telah dikurasi untuk pendekatan retrieval-augmented generation (RAG), mekanisme guardrail, serta evaluasi model sebelum solusi digunakan secara langsung.
Wahyu menegaskan pentingnya kemampuan untuk mengendalikan teknologi AI agar dapat dipercaya.
“Di sini AI yang dapat dipercaya itu harus bisa dikontrol, kami punya mindset seperti itu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi organisasi yang membutuhkan perlindungan informasi, akurasi jawaban, dan mekanisme pengawasan dalam penggunaan AI. Kata.ai juga memasukkan kebijakan privasi, keamanan informasi, Responsible AI, serta pengelolaan risiko vendor ke dalam kerangka tata kelolanya.
Keputusan investasi dan teknologi, menurut Wahyu, dibahas di tingkat manajemen berdasarkan kasus penggunaan (use case), kelayakan bisnis (business case), dan tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI). Sementara itu, peninjauan roadmap Agentic dan Sovereign AI dilakukan secara berkala.
Budaya AI First dan Produktivitas
Selain teknologi dan tata kelola, Kata.ai mengembangkan budaya kerja AI First untuk mendukung produktivitas dan kesiapan sumber daya manusia. Sekitar 70% komposisi tenaga kerja perusahaan difokuskan pada bidang engineering dan produk, sedangkan sekitar 30% lainnya berada pada fungsi manajemen, komersial, dan operasional.
Budaya tersebut dibangun melalui pembelajaran internal, demonstrasi teknologi, peningkatan keterampilan (upskilling) di bidang generative AI dan Agentic AI, serta kolaborasi lintas fungsi. Frontera juga dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan basis pengetahuan dan peningkatan produktivitas internal.
Dalam pelaksanaan proyek, Kata.ai mengedepankan pemahaman terhadap kebutuhan klien melalui lokakarya sebelum menyampaikan proposal. Pendekatan ini bertujuan memastikan solusi yang ditawarkan sesuai dengan persoalan bisnis dan kebutuhan operasional, bukan semata-mata mengikuti perkembangan teknologi.
Wahyu menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kecepatan, kualitas, dan kepatuhan terhadap kesepakatan layanan. Pengelolaan delivery, pemenuhan timeline, serta pemeliharaan SLA menjadi bagian dari tanggung jawab operasional perusahaan.
Ke depan, Kata.ai berharap Frontera dapat menjadi platform yang membantu organisasi mengadopsi AI secara lebih cepat tanpa mengabaikan keamanan dan terukur. Perusahaan juga mendorong penggunaan blueprint, konteks perusahaan yang terintegrasi, serta mekanisme perlindungan seperti penyamaran data pribadi (PII masking), keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan (human-in-the-loop), dan jejak audit.
Dengan menggabungkan efisiensi pengembangan, pengendalian risiko, dan pengalaman implementasi, Kata.ai menargetkan Frontera menjadi salah satu fondasi pertumbuhan bisnisnya di Indonesia maupun pasar regional.














