Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan kajian untuk mencari sumber energi alternatif untuk subtitusi bahan bakar minyak (BBM). Hasilnya ada beberapa alternatif untuk mengurangi pasokan BBM dengan menggunakan sumber-sumber energy Beberapa alternatif untuk mengurangi pasokan BBM tersebut seperti penggunaan bahan bakar nabati (BBN) untuk pengganti solar dan premium, penggunaan gas alam terkompresi (CNG) untuk substitusi premium, dan penggunaan transportasi massal dengan kereta api listrik
Dikatakan Unggul Priyanto, Deputi Teknologi Informasi Energi dan Material, BPPT pada acara konferensi pers pemanfaatan BBN untuk mengurangi impor BBM, konsumsi BBM domestik semakin meningkat sehingga kekurangannya harus dipenuhi dari luar negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, impor minyak dan gas (migas) per Juli 2013 mencapai USD 4,14 miliar dengan volume impor minyak sebesar 4,67 juta ton.
Menurutnya, untuk kegiatan perekayasaan teknologi BBN, yaitu berupa bidiesel, bioethanol dan PPO, produk perekayaan BPPT tersebut diantaranya adalah pilot plant biodiesel sebagai pengganti solar yang berada di Biodiesel Center kawasan Puspiptek Serpong. Teknologi biodiesel karya BPPT tersebut juga telah dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan dan dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, dan produk biodiesel tersebut sudah memenuhi standar yang berlaku yaitu SNI 7182-2012.
BPPT juga sudah lama mengembangkan pilot plant bioethanol sebagai pengganti premium yang dibangun di daerah Sulusuban dan Tulang Bawang, Lampung. Keberhasilan penerapan BBN, khususnya biodiesel dan bioethanol tersebut lebih banyak tergantung kepada kesediaan bahan baku yang murah, karena sekitar 75-80 persen biaya produksi berasal dari biaya bahan baku.
Saat ini, lahan sawit sudah mencapai 9 juta hektar dari keseluruhan potensi kecocokan lahan untuk sawit seluas 45 juta hektar. Jadi peluang masih sangat terbuka untuk budidaya tanaman sawit sebagai bahan biodiesel. Konsep industri terpadu yang bisa menjamin keberlanjutan bisnis secara lebih kompetitif menurutnya perlu segera dipikirkan. Dan sudah saatnya Indonesia dapat merencanakan, dan memastikan kebutuhan energi masa depan dengan kemauan dan kemampuan sendiri.
Begitu juga dengan penggunaan transportasi publik bertenaga listrik yaitu kereta api. Alternatif ini jika diterapkan di banyak kota, menurut Unggul, mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dan berdampak positif bagi masyarakat. Selain mengurangi kemacetan dan ketergantungan pada kendaraan pribadi, konsumsi BBM juga bakal berkurang di masa mendatang. (ju/rep)














