Lebih dari 2.400 profesional teknologi dan 150 perusahaan memperingatkan robot pembunuh bisa menjadi faktor yang ‘membahayakan stabilitas dan berbahaya’.
Ribuan ahli teknologi terkemuka di dunia menyerukan larangan global terhadap pengembangan senjata otonom mematikan, memperingatkan bahwa senjata semacam itu bisa menjadi instrumen “kekerasan dan penindasan”.
Lebih dari 2.400 individu dan 150 perusahaan dari 90 negara yang berbeda, berjanji untuk tidak memainkan bagian dalam konstruksi, perdagangan, atau penggunaan senjata otonom dalam sebuah ikrar yang ditandatangani pada hari Rabu pada Konferensi Bersama Internasional 2018 tentang Kecerdasan Buatan di Stockholm, Swedia.
Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla, dan perwakilan dari anak perusahaan Google yaitu DeepMind termasuk dalam pendukung ikrar tersebut.
“Keputusan untuk mengambil kehidupan atau nyawa manusia tidak boleh didelegasikan ke mesin,” kata pernyataan di konferensi internasional tersebut. “Senjata otonom mematikan yang mampu memilih dan mengeksekusi target tanpa intervensi manusia akan membahayakan stabilitas setiap negara dan individu.”

Larangan pre-emptive
Senjata otonom, juga dikenal sebagai robot pembunuh, mampu mengidentifikasi, menargetkan, dan membunuh seseorang tanpa input manusia dalam proses pengambilan keputusannya.
Amerika Serikat, Rusia, Cina, Israel, Korea Selatan dan Inggris memiliki sistem persenjataan otonom sebagian seperti drone bersenjata, menurut Human Rights Watch.
Human Rights Watch yang juga anggota pendiri gerakan Kampanye global untuk Hentikan Robot Pembunuh, dan menyerukan larangan pre-emptive yang menyatakan bahwa senjata tersebut akan bertentangan dengan hukum humaniter internasional yang mengatur penggunaan kekuatan.
Sebelumnya dan terpisah dari acara di Swedia itu, 26 negara telah secara terbuka menyatakan dukungan untuk larangan penggunaan robot otonom untuk melakukan eksekusi, yaitu Brasil, Cina, Kuba, Mesir, Irak, Pakistan, Venezuela dan Zimbabwe.
‘Menjijikan dan dapat membahayakan stabilitas’
Pejabat PBB dijadwalkan bertemu bulan depan untuk membahas kebijakan masa depan sesuai dengan Konvensi PBB tentang Senjata Konvensional Tertentu, yang berusaha untuk membatasi atau melarang penggunaan senjata tertentu.
Max Tegmark, presiden Future of Life Institute, memuji para pendukung pelarangan senjata otononom mematikan yang hadir di Swedia, karena telah “menerapkan kebijakan yang sejauh ini gagal diberlakukan oleh politisi”.
“AI (kecerdasan buatan) memiliki potensi besar untuk membantu dunia – jika kita mencegah penyalahgunaannya. Senjata AI yang secara otonom memutuskan untuk membunuh orang sama menjijikkan dan dapat membahayakan stabilitas sebagaimana senajata biologis, dan harus ditangani dengan cara yang sama,” kata Tegmark.
Sumber: Aljazeera.com














