Hanya dalam beberapa tahun, mobile payment telah menjadi begitu melekat dalam kehidupan orang-orang Cina sehingga mereka berhasil “ memaksa” toko-toko di tujuan wisata luar negeri untuk mengadopsi teknologi itu.
Tiga perempat pasar swalayan dan toko serba ada di Singapura, Malaysia dan Thailand kini menerima mobile payment asal Cina, menurut survei Nielsen yang dirilis Senin. Sekitar 71 persen toko bebas bea dan toko mewah di negara-negara tersebut juga menggunakan metode pembayaran itu.
Dua operator yang dominan adalah Alipay, yang dijalankan oleh afiliasi Alibaba yaitu Ant Financial, dan WeChat Pay, yang terkait dengan aplikasi pengiriman pesan Cina Tencent yang ada di mana-mana, WeChat. Alipay telah menerbitkan laporan yang mencakup 1.244 pedagang dan 2.806 penduduk Cina yang disurvei pada musim gugur 2018.
“Seiring dengan permintaan wisatawan Cina yang semakin personal dan canggih, meningkatkan cakupan global mobile payment adalah proyek jangka panjang (untuk pedagang),” Andy Zhao, presiden Nielsen Cina, mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Tingkat penggunaan pembayaran seluler oleh wisatawan Tiongkok
Thailand menjadi tujuan perjalanan luar negeri paling populer bagi wisatawan Cina selama liburan Tahun Baru Cina di bulan Februari, menurut situs pemesanan perjalanan Ctrip. Jepang, Malaysia, Singapura, dan AS juga masuk dalam peringkat 10 negara teratas yang menjadi tujuan selama liburan mendatang dari 7 juta wisatawan Cina menurut Ctrip.
Dari pedagang di jalanan hingga department store kelas atas, mobile payment asal Cina datang menyerbu seperti badai. Promosi yang dilakukan perusahaan, kurangnya penggunaan kartu kredit dan penetrasi smartphone yang luas membantu mengubah masyarakat berbasis uang tunai menjadi masyarakat yang mana setiap orang memindai kode QR dengan telepon untuk membayar, tanpa memandang usianya. Volume transaksi meroket dari sekitar $5 triliun pada 2016 menjadi hampir $16 triliun pada kuartal pertama tahun 2018, menurut data Analysys yang dikutip dalam laporan Hillhouse Capital.
Ketika turis Cina membawa kebiasaan melakukan pembayaran menggunakan mobile payment ke luar negeri, para pedagang beradaptasi dengan cepat. Dari para pedagang yang ada di Singapura, Malaysia dan Thailand yang menerima mobile payment asal Cina, 88 persennya telah mengadopsi teknologi itu dalam dua tahun terakhir, menurut survei Nielsen. Dari mereka yang menerima metode pembayaran itu, 40 persennya mengatakan keseluruhan pengunjung tokonya meningkat.
Laporan itu juga mengatakan sekitar 60 persen atau lebih dari orang Cina yang disurvei mengatakan mereka menggunakan mobile payment selama perjalanan tahun lalu ke AS, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman atau Italia.
Secara keseluruhan, lebih banyak turis Cina menggunakan mobile payment daripada uang tunai saat bepergian tahun lalu, kata laporan itu. Kartu bank memang tetap menjadi metode pembayaran yang paling umum, sementara belanja, akomodasi, dan makan tetap menjadi tiga kategori pengeluaran teratas.
Namun, peningkatan dukungan luar negeri untuk teknologi mobile payment tidak selalu berarti penduduk setempat akan menggunakannya dalam waktu dekat. Untuk menggunakan Alipay, misalnya, membutuhkan nomor ponsel dan rekening bank Cina. Teknologi mobile payment dapat bekerja di luar negeri melalui kemitraan dengan pedagang dan perusahaan lokal, seperti First Data di Amerika Utara.
Namun, sama seperti toko-toko mewah yang mempekerjakan staf berbahasa Mandarin untuk melayani wisatawan Cina, lebih banyak tujuan wisata merasa perlu untuk menerima Alipay dan WeChat Pay.
“Ke depan, kami akan mendukung upaya lebih banyak pedagang lokal untuk terhubung dengan wisatawan Cina dan meningkatkan pertumbuhan bisnis mereka,” kata Chen Jiayi, kepala operasi bisnis untuk bisnis lintas batas Alipay, dalam sebuah pernyataan.
Bahkan ketika ekonomi Cina melambat, Ctrip memprediksi ada 7 juta pelancong keluar negeri untuk merayakan Tahun Baru Cina. Jumlah itu naik sedikit dari prediksi tahun lalu sebesar 6,5 juta.
Selain itu, data menunjukkan lebih banyak orang dari kota-kota kecil tertarik bepergian ke luar negeri. Kota-kota di Cina dibagi menjadi beberapa tingkatan, dengan Beijing dan Shanghai di antara tingkat pertama dan Nanjing serta Chengdu di antara yang kedua.
Survei Nielsen menemukan lebih banyak turis dari kota-kota tingkat kedua daripada turis kota-jota tingkat pertama yang mengunjungi Eropa tahun lalu dan menghabiskan rata-rata $ 6.006 untuk perjalanan keluar, naik dari $ 472 pada 2017.
Sumber: cnbc.com














