ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Lazy Economy Jadi Pendorong Tumbuhnya Layanan Online Food Delivery

Teguh Imam Suyudi
31 January 2019 | 11:00
rubrik: Digital
Sepanjang 2020, Layanan Pesan-Antar Makanan di Asia Tenggara Meningkat

Logo Gojek dan Grab

Share on FacebookShare on Twitter

Spire Research and Consulting, perusahaan riset global yang berpusat di Tokyo, Jepang, belum lama ini melakukan studi terhadap pengemudi dan konsumen di Indonesia untuk mengetahui preferensi terhadap penyedia layanan transportasi online dari berbagai aspek, seperti consumer awareness, frekuensi penggunaan, dan preferensi dalam menggunakan layanan e-money.

Survei dilakukan terhadap 40 pengemudi dan 280 konsumen atau pengguna yang dipilih secara acak di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan di bulan November-Desember 2018.

Satu bagian menarik dari riset itu menyebutkan bahwa untuk layanan online food delivery, Go-Food masih memimpin. Sebanyak 35% responden menyebutkan bahwa Go-Food merupakan layanan yang paling sering mereka gunakan. Sementara 27% responden menyatakan memilih GrabFood.

Tumbuhnya permintaan online food delivery tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan oleh para penyedia platform pembayaran.

Merujuk pada hasil survei, rupanya OVO, aplikasi pembayaran yang digandeng Grab, unggul dalam pembayaran online to offline (O2O), seperti untuk membeli pulsa dan pembayaran di gerai-gerai non-makanan. Sementara Go-Pay, platform pembayaran milik Go-Jek, lebih sering digunakan di pembayaran kedai-kedai makanan-minuman (Go-Food) dan untuk membayar tagihan listrik melalui aplikasi Go-Jek.

Lazy Economy Jadi Pendorong Tumbuhnya Layanan Online Food Delivery
Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO of Spire Research and Consulting dalam acara dengan media di Jakarta, (30/1).

“Karakteristik konsumen Indonesia yaitu termasuk Lazy Economy jadi salah satu faktor pendorong terus tumbuhnya layanan online food delivery ini,” kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO of Spire Research and Consulting dalam acara dengan media di Jakarta, (30/1).

5-10 tahun lalu layanan food delivery  hanya didominasi oleh restoran fast food besar. Tapi dengan adanya layanan online food delivery membuka kesempatan pada restoran, rumah makan kecil untuk menggunakan layanan itu dalam memberikan layanan kepada masyarakat bahkan di lokasi yang jauh sekalipun kata Jeffrey.

BACA JUGA:  Indonesia–UEA Siap Cetak 10 Juta Coder, Wujudkan Generasi Muda Kuasai AI

Berarti, layanan ride hailing yang berkembang ke online food delivery memberi dampak positif bagi masyarakat. Istilahnya unlocking economic potential yang selama ini tertutup.

“Kini para suami tidak usah pusing, misalnya, jika istrinya yang sedang mengandung tiba-tiba ngidam ingin martabak yang ada di Bekasi. Sedangkan mereka tinggal di Jakarta, betapa repotnya jika sang suami harus pergi ke Bekasi untuk membelinya. Cukup order dengan online food delivery, martabak akan diantar langsung ke rumah,” canda Jeffrey saat memberi contoh.

Apa itu Lazy Economy?

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan baru-baru ini oleh platform e-commerce utama Cina Taobao, anak usaha Alibaba Group, tentang apa yang disebut “statistik konsumsi orang malas” di tahun 2018 warga Cina menghabiskan 16 miliar yuan (US$ 2,32 miliar) untuk membeli komoditas dan layanan online. Jumlah itu 70 persen lebih banyak dari tahun 2017, dengan generasi yang lahir pasca-1995 menjadi “paling malas” karena konsumsi mereka meningkat 82 persen secara tahun-ke-tahun.

Para pembeli muda Cina, yang lahir setelah 1995, adalah sebuah demografi yang merupakan sumber utama pertumbuhan bagi ekonomi yang didorong oleh konsumsi Cina saat ini. Dan mereka bersedia membayar untuk membebaskan diri dari tugas-tugas yang membosankan dan menghabiskan waktu.

Jadi yang disebut “lazy economy” mengacu pada tipe baru dari permintaan konsumsi, yang pada dasarnya ingin hemat waktu, hemat tenaga dan nyaman. Seiring laju kehidupan yang semakin cepat, orang semakin banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, bepergian, dan menjalani kehidupan sosial, dan sebaliknya semakin enggan menghabiskan waktu untuk berbelanja ke toko, memasak, dan membersihkan rumah.

Di Cina, serangkaian komoditas dan layanan seperti robot pengepel lantai dan layanan pengiriman makanan telah berkembang untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kehidupan yang lebih santai dan mudah itu. Dan semakin banyak orang bersedia menghabiskan waktu dan uang untuk komoditas dan layanan seperti itu untuk menghemat waktu dan energi mereka.

BACA JUGA:  Gandeng Huawei, BSSN Kembangkan Kapasitas SDM Keamanan Siber

“Lazy economy ” telah berkembang pesat karena memenuhi permintaan konsumsi masyarakat yang beragam dan terus meningkat. Dan banyak ahli mengatakan “lazy economy” akan mengalami booming lebih lanjut mengingat peningkatan konsumsi yang sedang berlangsung.

Melihat apa yang terjadi di Cina, tampaknya hal serupa juga akan terjadi di Indonesia terlebih jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa pada 2018, data dari Badan Pusat Statistik, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi pebisnis, terutama di industri transportasi. Sebab, populasi yang sangat besar itu jelas diiringi dengan angka kebutuhan konsumsi dan mobilitas yang tinggi pula.

Tags: Go-JekGrabLazy Economy
Previous Post

JD.com Sukses Kirimkan Barang Pesanan Pelanggan dengan Drone di Indonesia

Next Post

Keren! Nilai Valuasi Go-Jek Nyaris Tembus USD 10 Miliar, Decacorn Pertama di Indonesia?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Xiaomi dan Inisiatifnya Dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inovasi Digital Jadi Fokus Strategi Komunikasi Indonesia Re di Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Perusahaan Terkemuka Raih Penghargaan TOP CSR Awards 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • IPC TPK Perkuat Konektivitas Intra-Asia, Berikan Layanan Perdana Pelayaran SCJX Feeders

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Red Hat Berambisi Capai Target Net Zero Emisi Gas Rumah Kaca di 2030

Titik Infleksi AI Selanjutnya: Mengubah Agen AI Menjadi ‘Superusers’ di Enterprise

Fauzi
21 May 2026 | 14:39

Oleh: Matt Hicks, President and CEO, Red Hat Jika Anda menyaksikan keynote di hari pertama Red Hat Summit 2026, Anda...

Seiring Jaringan yang Kian Cerdas, Ketahanan Telekomunikasi Akan Bergantung pada AI yang Tepercaya

Fauzi
20 May 2026 | 10:35

Oleh: Athul Prasad, Global Director, AI Industry Solutions, Telco, Media & Entertainment, Cloudera Ketahanan dalam industri telekomunikasi dulu berarti menjaga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto