Spire Research and Consulting, perusahaan riset global yang berpusat di Tokyo, Jepang, belum lama ini melakukan studi terhadap pengemudi dan konsumen di Indonesia untuk mengetahui preferensi terhadap penyedia layanan transportasi online dari berbagai aspek, seperti consumer awareness, frekuensi penggunaan, dan preferensi dalam menggunakan layanan e-money.
Survei dilakukan terhadap 40 pengemudi dan 280 konsumen atau pengguna yang dipilih secara acak di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan di bulan November-Desember 2018.
Satu bagian menarik dari riset itu menyebutkan bahwa untuk layanan online food delivery, Go-Food masih memimpin. Sebanyak 35% responden menyebutkan bahwa Go-Food merupakan layanan yang paling sering mereka gunakan. Sementara 27% responden menyatakan memilih GrabFood.
Tumbuhnya permintaan online food delivery tak lepas dari gencarnya promosi yang dilakukan oleh para penyedia platform pembayaran.
Merujuk pada hasil survei, rupanya OVO, aplikasi pembayaran yang digandeng Grab, unggul dalam pembayaran online to offline (O2O), seperti untuk membeli pulsa dan pembayaran di gerai-gerai non-makanan. Sementara Go-Pay, platform pembayaran milik Go-Jek, lebih sering digunakan di pembayaran kedai-kedai makanan-minuman (Go-Food) dan untuk membayar tagihan listrik melalui aplikasi Go-Jek.

“Karakteristik konsumen Indonesia yaitu termasuk Lazy Economy jadi salah satu faktor pendorong terus tumbuhnya layanan online food delivery ini,” kata Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO of Spire Research and Consulting dalam acara dengan media di Jakarta, (30/1).
5-10 tahun lalu layanan food delivery hanya didominasi oleh restoran fast food besar. Tapi dengan adanya layanan online food delivery membuka kesempatan pada restoran, rumah makan kecil untuk menggunakan layanan itu dalam memberikan layanan kepada masyarakat bahkan di lokasi yang jauh sekalipun kata Jeffrey.
Berarti, layanan ride hailing yang berkembang ke online food delivery memberi dampak positif bagi masyarakat. Istilahnya unlocking economic potential yang selama ini tertutup.
“Kini para suami tidak usah pusing, misalnya, jika istrinya yang sedang mengandung tiba-tiba ngidam ingin martabak yang ada di Bekasi. Sedangkan mereka tinggal di Jakarta, betapa repotnya jika sang suami harus pergi ke Bekasi untuk membelinya. Cukup order dengan online food delivery, martabak akan diantar langsung ke rumah,” canda Jeffrey saat memberi contoh.
Apa itu Lazy Economy?
Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan baru-baru ini oleh platform e-commerce utama Cina Taobao, anak usaha Alibaba Group, tentang apa yang disebut “statistik konsumsi orang malas” di tahun 2018 warga Cina menghabiskan 16 miliar yuan (US$ 2,32 miliar) untuk membeli komoditas dan layanan online. Jumlah itu 70 persen lebih banyak dari tahun 2017, dengan generasi yang lahir pasca-1995 menjadi “paling malas” karena konsumsi mereka meningkat 82 persen secara tahun-ke-tahun.
Para pembeli muda Cina, yang lahir setelah 1995, adalah sebuah demografi yang merupakan sumber utama pertumbuhan bagi ekonomi yang didorong oleh konsumsi Cina saat ini. Dan mereka bersedia membayar untuk membebaskan diri dari tugas-tugas yang membosankan dan menghabiskan waktu.
Jadi yang disebut “lazy economy” mengacu pada tipe baru dari permintaan konsumsi, yang pada dasarnya ingin hemat waktu, hemat tenaga dan nyaman. Seiring laju kehidupan yang semakin cepat, orang semakin banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, bepergian, dan menjalani kehidupan sosial, dan sebaliknya semakin enggan menghabiskan waktu untuk berbelanja ke toko, memasak, dan membersihkan rumah.
Di Cina, serangkaian komoditas dan layanan seperti robot pengepel lantai dan layanan pengiriman makanan telah berkembang untuk memenuhi permintaan masyarakat akan kehidupan yang lebih santai dan mudah itu. Dan semakin banyak orang bersedia menghabiskan waktu dan uang untuk komoditas dan layanan seperti itu untuk menghemat waktu dan energi mereka.
“Lazy economy ” telah berkembang pesat karena memenuhi permintaan konsumsi masyarakat yang beragam dan terus meningkat. Dan banyak ahli mengatakan “lazy economy” akan mengalami booming lebih lanjut mengingat peningkatan konsumsi yang sedang berlangsung.
Melihat apa yang terjadi di Cina, tampaknya hal serupa juga akan terjadi di Indonesia terlebih jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta jiwa pada 2018, data dari Badan Pusat Statistik, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi pebisnis, terutama di industri transportasi. Sebab, populasi yang sangat besar itu jelas diiringi dengan angka kebutuhan konsumsi dan mobilitas yang tinggi pula.














