Saat ini pemanasan dari sistem iklim sudah jelas tanpa perspektif ganda. Atmospher dan samudra telah mengalami pemanasan. Salju dan permukaan es terus berkurang. Tinggi muka laut pun meningkat, dan konsentrasi gas rumah kaca terus mengalami peningkatan.
“Karenanya, isu perubahan iklim menuntut keterlibatan berbagai sektor, perlu pendekatan sistem analisa yang baik, terencana dan komprehensif,” ujar Peneliti Malaysia, DR. Fredolin Tangang didampingi Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dr. Andi Eka Sakya M.Eng dan Kapus Perubahan Iklim BMKG, DR. Edvin Aldrian, saat Working Group Assessment Report 5, Forum Ilmiah Perubahan Iklim IPCC (Intergovermental Panel Climate Change) di kantor BMKG Jakarta.
Menurut Kepala BMKG, secara global kenaikan temperatur akibat perubahan iklim sebesar 0,8 derajat selsius. Namun, untuk wilayah Asia Tenggara peningkatannya cukup tajam, yaitu 3-4 derajat selsius. Dampaknya hujan yang semakin lebat, taufan yang semakin kuat, terjadinya hujan es, angin puting beliung yang hebat, dan angin yang kencang. Ini yang harus diantisipasi karena sebagian besar perubahan iklim ini akibat ulah manusia.
AR5 ini hasil Forum Ilmiah Perubahan Iklim IPCC (Intergovermental Panel Climate Change) pada pertemuan 31th Session of the IPCC di Nusa Dua Bali pada 2009. Pada AR5 ini kajian proyeksi yang mempunyai unsur ketidakpastian ditekan seminimal mungkin. Bagi para ilmuwan, AR5 ini menjadi referensi penelitian yang akan dilakukannya serta pengembangan terhadap penelitian yang telah dihasilkan. Penelitian dalam skala lokal yang dilakukan terkait perubahan iklim di antaranya yaitu penurunan emisi pada saat hari raya Nyepi pada 2013 dan kajian pengurangan tutupan es/lelehan es di puncak Jaya Wijaya Papua.
Andi Eka menambahkan, hasil AR5 menyebut konsentrasi gas-gas rumah kaca CO2, CH4 dan N2O meningkat pada tingkatan yang tidak diketahui dalam kurun waktu sekurang-kurangnya 800 ribu tahun terakhir. Di sisi lain, penurun PH akan menyebabkan air laut lebih asam, tinggi muka air laut pun mengalami peningkatan antara 0,4-0,6 meter untuk wilayah Asia Tenggara.
Sementara itu, Edvin Aldrian menambahkan, dalam AR5 telah dikenalkan banyak aspek baru perubahan iklim. Di antaranya, penggunaan skenario baru IPCC (Intergovermental Panel Climate Change) yaitu Representative Concentration Pathway (RCP) sebagai pengganti dari SRES (Special Report on Emission Scenario). Keterlibatan aktif BMKG dalam acara-acara penting IPCC termasuk sebagai peneliti utama, membuka peluang ilmuwan-ilmuwan untuk lebih banyak ikut serta dalam penelaahan output IPCC. “Selain itu, akan menjadi sara promosi hasil kajian-kajian ilmiah dari laboratorium alam Indonesia,” tambahnya. (*/ju)














