El-nino diprakirakan mulai aktif antara Juli-Agustus dan mulai dirasakan dampaknya pada bulan Agustus sehingga menyebabkan mundurnya awal musim hujan 2014/2015 di sebagian wilayah Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia Timur. El Nino yang terjadi dengan skala lemah hingga moderat dan berdampak kekeringan di sejumlah daerah seperti Sulawesi, NTT, Jawa Timur, namun dengan kecenderungan tidak terlalu kering.Masyarakat diimbau mempersiapkan persediaan air misalnya menampung air hujan karena meskipun El Nino tidak sekuat 1997 namun juga dapat menyebabkan kekeringan.
“El Nino skala lemah bila anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik 0,5 derajat celcius, sedangkan moderat suhu antara 0,5-1 derajat celcius dan dinyatakan kuat pada suhu diatas satu derajat celcius. Terctatat hingga pada Agustus mendatang suhu muka laut di Pasifik 0,63 derajat celcius atau dalam kategori El Nino lemah dan pada November 0,91 derajat celcius atau El Nino moderat. Perlu diwaspadai jika Dipole Mode, atau kondisi yang sama di kawasan Samudera Hindia juga dalam posisi positif bersamaan dengan El Nino maka akan memperparah kekeringan. “Tapi sampai sekarang Dipole Mode masih normal,” ungkap Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng saat memberikan penjelasan di depan puluhan media massa, Jumat (13/6) 2014 di Ruang Rapat BMKG yang dihadiri Pejabat Eselon II, III, dan IV.
Sejak bulan Maret hingga awal Juni, suhu muka laut perairan Indonesia masih relatif hangat sehingga persediaan uap air di wilayah Indonesia pada umumnya cukup. Sekedar diketahui, El Nino adalah fenomena cuaca biasa yang secara periodik terjadi dengan rentang waktu antara 2-7 tahun. Meski begitu, ada kecenderungan peningkatan frekuensi terjadinya El Nino.Antara awal tahun 1900-1960, El Nino jarang terjadi sehingga disebut periode nonaktif. Tetapi, sejak tahun 1960-an hingga sekarang, El Nino semakin sering terjadi, disebut periode aktif
Sementara Deputi Bidang Klimatologi, Dr. Widada Sulistya mengatakan bahwa puncak angin timuran (dari arah timur) terjadi pada bulan Juni, Juli, dan Agustus dan terjjadi di wilayah Selatan. Saat ini aktivitas monsun Asia reatif lemah dan ini menyebabkan terjadi peluang penbentukan awan hujan disekitar Sumatera masih tinggi. Sementara nilai indeks monsoon Australia menunjukkan bahwa aktivitas monsun Australia masih kuat. Hal ini tentunya mengindikasikan bahwa pembentukan awan di sekitar Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah semakin berkurang. Perbedaan Anomali Suhu muka laut di wilayah Samudera Hindia sebelah timur Afrika dan Barat Sumatera (dippole Mode bernilai Positif). Kondisi ini mengakibatkan tidak terjadi potensi penguapan uap air yang signifikan di Wilayah Indonesia Bagian Barat . (red/ju)














