Kerja sama dalam program peringatan dini Tsunami (Tsunami Early Warning System/TEWS) antara Indonesia dan Jerman berakhir setelah dimulai pada 2005.
Terobosan penting dalam kerjasama ini adalah dengan berhasilnya dibangun sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS), yang telah mampu mengeluarkan informasi dalam waktu lima menit.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya pada acara peresmian berakhirnya kerja sama di Jakarta, mengatakan setelah kerja sama berakhir, InaTEWS diserahkan ke BMKG dan pemeliharaannya dilakukan sesuai dengan rencana induk tsunami.
Tantangan ke depan setelah kerjasama ini berakhir ini adalah bagaimana memelihara InaTEWS dan menjaga keberlangsungan operasionalnya. Bukan hanya menjaga keberlangsung operasionalnya, juga meningkatkan akurasi sistem yang dibangun.
Dipaparkan Eka, dalam tahapan kerja sama yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur pengamatan gempa bumi dan tsunami di Indonesia, InaTEWS diresmikan pada 22 November 2008. Kerja sama berlanjut pada program penguatan kapasitas sumberdaya manusia yang fokus pada penyelenggaraan pelatihan peningkatan kapasitas operator dan keahlian bidang lainnya yang mendukung operasional InaTEWS.
Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia Thorsten Hutter mengatakan, kerja sama yang dilakukan berawal dari terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 di Aceh yang mengakibatkan lebih dari 200.000 korban jiwa. “Kita ingin mencegah bencana yang sama di masa depan,” kata Thorsten.
Masih menurut Andi Eka, yang merasakan manfaatnya bukan masyarakat pesisir Indonesia, tapi seluruh masyarakat di semua negara di kawasan Samudra Hindia. Indonesia bersama India dan Australia adalah tiga negara yang memiliki peringatan dini ini di kawasan Samudra Hindia. (ant/ju)













