Jakarta, ItWorks- Terpilih sebagai Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) untuk periode 2020-2024, Rommy Fibri Hardiyanto langsung memetakan berbagai permasalahan dalam LSF. Mulai dari minimnya anggaran LSF yang harus diptimalkan, dampak Pandemi Corona yang menyisakan banyak persoalan, hingga tren perkembangan dunia digital yang dinilai menjadi tantangan terbesar bagi LSF ke depan.
“Tantangan terbesar LSF itu digital, karena semua orang bicaranya bagaimana film di dunia digital. , Selama empat tahun yang lalu, LSF belum sampai ke sana. Bagaimana menangani dunia digital yang isinya film. Tapi ke depan inilah jadi tantangannya “ kata Rommy Fibri Hardiyanto kepada wartawan, (11/5/2020), di Gedung Film Pesona Indonesia, Pancoran, Jakarta Selatan.
Menurutnya, kalau flatformnya sudah jelas konvensional, itu sudah clear buat LSF, seperti film bioskop, TV, CD. Namun kalau flatform-nya digital, LSF tidak bisa jalan sendirian, tetapi harus kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta berbagai regulasinya yang terkait.
Ditambahkan, tayangan di TV harus disensor oleh lembaga yang berwenang sebagaimana yang ditetapkan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) adalah LSF. Semua program tayangkan TV dikirimkan ke LSF untuk disensor, tapi kalau flatform-nya digital, masih perlu dibicarakan siapa yang menyensor. “Apakah flatform-nya sendiri yang menyiarkan yang menyensor ?,” Karena itu, ke depan LSF memang harus banyak berkoordinasi secara intensif dengan Kominfo. Inilah yang perlu kita siapkan regulasinya,“ ujar Rommy.
Disebutkan, di dalam UU Perfilman hanya menyebutkan bahwa semua film yang akan dipertunjukkan di Indonesia harus mendapatkan lulus sensor dari LSF. “Hanya itu saja, tanpa ada turunannya. Sementara itu, perkembangan digital sangat global dan kompleks.
Sementara terkait anggaran, dikatakan anggaran untuk LSF sekitar Rp 50 Milliar. Cukup tidak cukup tentu relatif. Dengan anggaran yang ada, pihaknya akan mengoptimalkan, dimana ada kegiatan yang sifatnya full anggaran dari LSF, tapi ada juga kegiatan yang sifatnya berbentuk kerjasama, dimana LSF hanya parsial sebagai partisipasi.
Terkait pandemi Corona, kata Rommy, secara otomatis LSF tidak banyak bekerja karena film-film bioskop tidak tayang, begitu juga TV banyak menayangkan rerun program yang sudah tayang beberapa waktu lalu. “Tapi LSF tetap membuka pelayanan untuk penyensoran, faktanya memang tetap ada penyensoran, tapi berkurang, “katanya.
Dalam kepengurusanya, ia akan ditemani Ervan Ismail sebagai wakil ketua LSF. Sebelumnya, Rommy dan 16 anggota LSF lainnya telah resmi dilantik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. (AC)














