Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kominfo, Basuki Yusuf Iskandar mengatakan salah satu hal penting untuk mendorong kapasitas talenta digital di Indonesia adalah melalui kemandirian dalam belajar.
“Kemandirian belajar yang dimaksud dapat dilakukan dengan bantuan internet, misalnya. Kemandirian untuk belajar perlu kita tumbuhkan,” kata Basuki Yusuf Iskandar, dalam diskusi virtual “Akselerasi Talenta Digital Indonesia di Era Next Normal” yang diadakan oleh Dewan Pertimbangan TIK Nasional, 23/7.
Ia juga menyoroti kondisi permintaan dan ketersediaan sumber daya manusia dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi, proyeksi Kominfo ada 431.899 lulusan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia untuk tahun ini.
Sedangkan, kebutuhan industri terhadap tenaga kerja TIK berjumlah 323.662 orang, angka tersebut mempertimbangkan profesi dengan kebutuhan keterampilan menengah-tinggi, atau setara dengan S1 ke atas.
Proyeksi WEF kebutuhan SDM bidang TIK di Indonesia secara global rata-rata 600.000 orang per tahun.
Salah satu yang menjadi tantangan adalah kualitas SDM di Indonesia adalah kesenjangan ekspektasi industri dengan lulusan perguruan tinggi maupun sekolah kejuruan.
Untuk itu, Kominfo sejak beberapa tahun terakhir mengadakan program beasiswa Digital Talent Scholarship, untuk membekali talenta digital di Indonesia. Program ini bisa diikuti oleh lulusan perguruan tinggi maupun sekolah menengah kejuruan.
Melalui program ini, peserta juga berkesempatan untuk mengikuti sertifikasi. Program Digital Talent Scholarship ini juga bermaksud untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam revolusi industri 4.0.
Selain mengenai talenta digital, transformasi digital juga berperan penting dalam industri 4.0. Indonesia diharapkan bisa melalui transformasi digital terlebih dulu sebelum masuk ke revolusi industri terbaru agar lebih siap.
Baca: Program Digital Talent Scholarship untuk Mengurangi Kesenjangan Digital di Indonesia














