Jakarta, ItWorks- Dengan kembali berlangsungnya aktivitas di era new normal (kenormalan baru), pelaku UKM menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman kejahatan siber yang cenderung makin tinggi. Berdasarkan riset Kaspersky, selama paruh pertama 2020, sebanyak 1,6 juta lebih upaya phishing hampir menginfeksi pelaku UKM di Asia Tenggara.
Berdasarkan data statistik dari Kaspersky, upaya phishing terhadaap perusahaan dengan 50 sampai 250 karyawan (UKM) cenderung makin tinggi. Tercatat dalam tiga bulan pertama tahun 2020, Anti-Phishing System perusahaan keamanan Siber global ini telah mencegah 834.993 upaya Phishing terhadap UKM. Angka ini terjadi peningkatan 56% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Upaya phishing kembali meningkat ditunjukkan dengan solusi anti-phishing Kaspersky yang telah mencegah 1.602.523 upaya phishing terhadap perusahaan UKM. Jumlah angka ini merupakan peningkatan 39% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Data menunjukkan, pada paruh pertama tahun ini, Kaspersky telah menggagalkan upaya phishing terbanyak di Asia Tenggara terhadap UKM di Indonesia, Malaysia, dan Vietnam. Singapura mencatatkan jumlah email phishing paling sedikit di kawasan ini, tetapi masih meningkat sebanyak 60,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Menurut telemetri kami, upaya phishing tetap menjadi ancaman yang meningkat bagi UKM di wilayah tersebut dari kuartal pertama hingga kuartal kedua tahun ini. Hal ini dapat dipicu oleh fakta bahwa sebagian besar tindakan penguncian di seluruh Asia Tenggara diterapkan pada akhir Maret, yang kemudian disambut di kuartal dua dengan jutaan pekerja menerapkan system kerja jarak jauh untuk pertama kalinya” papar General Manager Asia Tenggara Kaspersky, Yeo Siang Tiong, dalam rilis pers (24/08/2020) yang diterima Redaksi ItWorks, di Jakarta.
Disebutkan, dalam skala global, Brazil adalah negara dengan jumlah email phishing yang paling banyak dicegah oleh solusi Kaspersky pada kuartal kedua tahun 2020, diikuti oleh Rusia, Perancis, Kolombia, dan AmerikaSerikat. Secara global, topik phishing teratas termasuk aktivitas yang memanfaatkan virus corona sebagai umpan, seperti penipuan penjualan masker, permintaan donasi untuk pendanaan penelitian vaksin, penipuan yang mengeksploitasi ketakutan akan virus corona, bantuan terkait pandemi, dan “kompensasi”.
Tema lain yang dieksploitasi adalah penilaian kinerja karyawan, pesan penting dari HR atau admin, permintaan pemeriksaan kata sandi da npemberitahuan siaran pers yang mendesak, pemberitahuan back-up email, dan lain-lain.
“Para pelaku kejahatan siber memanfaatkan kekacauan saat ini untuk melakukan serangan dengan metode memanipulasi psikologis seperti email phishing. Dengan memasukkan topic hangat dan frasa terkait pandemi COVID-19 dalam pesan mereka, kemungkinan pengguna yang tidak waspada akan mengklik tautan yang telah terinfeksi atau berisi lampiran berbahaya menjadi meningkat pesat. Ancaman juga lebih sulit dilacak melalui jaringan rumah pribadi. Ditambah fakta bahwa kita semua memiliki kondisi mental yang sedang panic, sehingga membuat lebih rentan untuk melakukan kesalahan.Penting bagi UKM menyadari bahwa bekerja dari rumah meningkatkan risiko keamanan siber sehingga penting untuk mengambil langkah utama demi melindungi data dan arus kas yang mereka miliki” tandas Yeo. (AC)














