Jakarta, Itech- Peranan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi, diukur melalui Total Factor Productivity (TFP) yang biasa digunakan oleh berbagai negara di dunia dengan variabel selain modal dan tenaga kerja, juga teknologi yang dipakai.
BPPT menilai peran teknologi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah, karena hanya mencapai 26,3%, padahal standar negara maju sebesar 49%. Nah, untuk melompat menjadi seperti negara maju diperlukan pertumbuhan peran teknologi sampai separuh dari pertumbuhan ekonomi, yakni 3,5%, dari angka selama ini hanya 1,76%.
Kajian tersebut selain secara nasional juga dihitung oleh timnya berdasarkan masing-masing provinsi dan koridor seperti koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara serta Maluku-Papua. Jawa memiliki pertumbuhan TPF terbesar dengan kontribusi sebanyak 47,9% dari pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Socia Prihawantoro yang menjadi Ketua Tim Penyusun buku ‘Peranan Teknologi dalam Pertumbuhan Koridor Ekonomi Indonesia’ dalam bedah buku itu di Gedung BPPT di Jakarta, Rabu (17/12).
Menurut Ugay Sugarmansyah, besarnya peranan teknologi dalam pertumbuhan ekonomi nasional masih belum merata jika melihat TFP antar koridor dalam fase kebangkitan ekonomi. Dari koridor ekonomi yang dapat dianalisis, disimpulkan bahwa pertumbuhan kapital berperan sebagai pemicu utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun peran itu memiliki kecenderungan menurun seiring meningkatnya peranan teknologi.
Dikatakan, aspek teknologi mencakup pula elemen orgaware, iklim bisnis yang kondusfi mencakup kemudahan birokrasi mutlak diperlukan sebagai supporting system dari peranan teknologi dalam pembangunan ekonomi. “Iklim birokrasi yang buruk di daerah misalnya, membuat pengusahan kesulitan memulai bisnisnya. Padahal starting bussines biasanya memiliki ide inovasi yang luar biasa,” tutur Direktur Pusat Pengkajian Kebijakan Inovasi Teknologi, Derry Pantjadarma. (*)














