Hadirnya moda transportasi terintegrasi bukan lagi sebuah impian bagi warga Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya (Bodetabek). Pasalnya, upaya merealisasikan transportasi yang terintegrasi saat ini terus dilakukan, bahkan sudah mulai berjalan secara bertahap. Hal tersebut dapat kita lihat dari kehadiran moda transportasi seperti Trans Jakarta, KRL Commuter Line, MRT, LRT, dan MiniTrans/MikroTrans, ditambah dengan dukungan oleh PT JakLingko Indonesia sebagai pelaksana konsep integrasi antarmoda transportasi di Jabodetabek.
Untuk mengintegrasikan moda transportasi publik bukanlah perkara mudah. Hal itu lantaran akan melibatkan banyak hal, mulai dari integrasi fisik seperti integrasi antara halte dan stasiun, kemudian integrasi rute, integrasi jadwal, sampai terakhir integrasi pembayaran dan data. Sebagai salah satu komponen penting, peran Jak Lingko akan fokus pada integrasi pembayaran dan data transportasinya.
“Jadi, yang berkaitan dengan tiket yang berkaitan dengan informasi perjalanan itu dipusatkan di JakLingko,” kata Muhamad Kamaluddin, Direktur Utama PT JakLingko Indonesia dalam sesi wawancara dengan Majalah IT Works.
JakLingko sendiri terbentuk dari rapat terbatas antara Presiden dengan Menteri Perhubungan dan Gubernur DKI Jakarta yang menyepakati bahwa akan dilakukan integrasi transportasi di Jabodetabek dan meliputi semua transportasi umum. “Jadi itu melibatkan MRT Jakarta, melibatkan LRT Jakarta, Trans Jakarta, bahkan kereta api Commuter atau KAI Commuter yang beroperasi di Jabotabek, dan juga kereta bandara. Jadi, cakupannya ada lima transportasi. Dan itu diformalkan pertama dalam bentuk Pergub, jadi ada Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 63 Tahun 2020 tentang Penugasan SIstem Integrasi Pembayaran Antarmoda Se-Jabodetabek,” ungkap Kamal.
Dari Pergub itulah, akhirnya dilakukan penandatangan Perjanjian Pemegang Saham pada tanggal 15 Juli 2020 dan menjadi awal pembentukan PT JakLingko Indonesia dengan komposisi saham 20% dimiliki MRT, 20% Trans Jakarta, 20% Jakarta Propertindo, dan 40%-nya Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (PT MITJ).
Berdasarkan perjanjian pokok pemegang saham, PT JakLingko Indonesia langsung bergegas menyiapkan sistem integrasi. Rencananya sistem integrasi tersebut akan diluncurkan tahun ini.
Visi JakLingko
Sekedar diketahui JakLingko terdiri dua kata ‘Jak’ yang identik dengan Jakarta, adapun kata ‘Lingko’ diambil dari jenis pengelolaan pengairan sawah membentuk jarring laba-laba yang terdapat di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Sesuai inspirasi penamaannya, JakLingko mencerminkan sistem transportasi umum yang terintegrasi atau berjejaring seperti jaring laba-laba yang menyambung.
“Visi dari JakLingko Indonesia sendiri adalah untuk menjadi perusahaan teknologi pembayaran dan data kelas dunia dengan kinerja terbaik dan terdepan. Jadi, kami memang mempunyai visi jangka panjang, fokus pada mandat tadi. Dan ini kami menerapkan sesuai dengan best practice di kelas dunia untuk diterapkan di Jakarta,” ujar Kamal.
Untuk merealisasikan visinya, JakLingko mengusung sejumlah misi, antara lain:
- Menyediakan sistem pembayaran dan jasa layanan rekonsiliasi yang aman, efisien berbasis digital.
- Optimalisasi nilai perusahaan melalui bisnis utama yang inovatif untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik dengan penerapan teknologi terdepan.
- Pemberian manfaat yang optimal bagi operator transportasi dan masyarakat pengguna layanan.
- Pengembangan talenta digital yang berwawasan global yang menerapkan nilai-nilai positif.
Terus Berinovasi
Saat ini layanan JakLingko memang masih berbasis kartu. Sementara jumlah penumpang transportasi umum yang sudah menggunakan JakLingko disebut sudah mencapai angka lebih dari 1,1 juta per hari. Untuk dapat meningkatkan lebih banyak jumlah pengguna ke depannya, JakLingko telah menyiapkan sejumlah inovasi. Apa saja?
Dikatakan Muhamad Kamaluddin, JakLingko sudah merencanakan untuk meluncurkan integrasi sistem pembayaran berbasis aplikasi perangkat genggam (mobile) dan kartu baru (smart card) yang akan diluncurkan di akhir tahun 2021.
Selain itu, JakLIngko juga siap untuk mengembangkan Mobility Services. “Jadi, nanti di aplikasi yang akan kami luncurkan, kami akan berikan fitur ke pengguna untuk memilih titik keberangkatan dan titik tujuan. Dari dua titik ini akan diberi rekomendasi transportasi yang tersedia,” kata Kamal.
Nah, setelah muncul rekomendasi moda transportasi yang akan digunakan, disusul kemudian akan muncul rincian biaya serta estimasi kedatangan dan ketibaan di tempat tujuan. Dari pilihan yang disajikan, pengguna akan bisa memilih moda transportasi yang akan digunakan. Setelah itu akan muncul QR Code yang bisa dipakai untuk pembayaran semua moda transportasi yang dipilih.
“Jadi, satu QR Code, bisa dipakai untuk pembayaran semua modanya mulai dari rumah pakai ojek (online), naik Commuter, kemudian lanjut TransJakarta atau apa (pun), semua menggunakan aplikasi itu,” tandasnya.
Jadi, bisa disebutkan bahwa dengan aplikasi ini mode transportasi yang bisa digunakan penumpang akan berkembang lagi. Selain lima moda transportasi pemerintah yang telah disebut, akan terintegrasi juga dengan ojek online dan taksi online.
Selanjutnya, inovasi yang disiapkan JakLingko adalah Account-Based Ticketing yang rencananya akan diluncurkan pada triwulan ketiga 2022. Kamal menjelaskan dengan account-based ticketing, selain bisa mengintegrasikan pembayaran, tarifnya juga akan terintegrasi. “Jadi, apabila sekarang tarifnya beda-beda, misalkan Trans Jakarta Rp5000 tarifnya flat selama tiga jam, kalau MRT Jakarta Rp14.000/tergantung jarak. Itu nanti kedepannya akan ada tarif terintegrasi. Nanti apa pun moda transportasi yang digunakan hitungannya sama. Jadi, itu yang akan membantu mempermudah pengguna transportasi di Jakarta ini,” jelas Kamal.
Apa yang diupayakan JakLingko, tidak lain adalah untuk mengurangi polusi udara serta in-efficiency lainnya yang disebabkan oleh kemacetan. Juga tentunya memberikan kemudahan bagi pengguna layanan transportasi umum di Jakarta dan sekitarnya. Dengan mempermudah pengguna transportasi di Jakarta, target JakLIngko adalah untuk meningkatkan moda share atau share pengguna transportasi publik dibandingkan dengan transportasi pribadi.
“Jadi, makin banyak warga Jakarta yang beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum. Ini yang menjadi target kami ke depannya,” tutup Kamal. (Fauzi)














