Reporter: Irawan
Editor: Teguh IS
Mewujudkan target meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik di Jakarta dari sebesar 25 persen di tahun 2019 menjadi 60 persen pada tahun 2029, bukanlah pekerjaan yang mudah. Karena itu, PT JakLingko Indonesia menghadirkan Program 3E agar masyarakat beralih menggunakan transportasi publik.
Direktur Utama PT JakLingko Indonesia Muhammad Kamaludin dalam sesi Penjurian TOP Digital Awards 2021, secara online, 10/11/2021, menjelaskan pengertian Program 3E yang merupakan singkatan dari Efektifitas, Efisiensi, dan Ekonomis.
“Efektifitas, mudah dalam merencanakan perjalanan serta adanya subsidi tarif yang tepat sasaran.”
Efisiensi, jaminan ketepatan waktu, aplikasi menyediakan estimasi waktu untuk mencapai tujuan. Dalam satu aplikasi terhubung dengan berbagai layanan (baik misalnya transportasi atau wisata).”’
“Sementara Ekonomis, harga yang lebih terjangkau untuk tarif terintegrasi serta untuk mengurangi subsidi jangka panjang.”
“Program 3E bertujuan mengurangi kerugian akibat macet di jalan. Macet di jalan telah membuat produktifitas menurun karena fisik dan mental terlanjur lelah di jalan. Selain itu, senilai Rp 29,7 triliun BBM terbakar sia-sia, tingginya biaya kesehatan hingga mencapai Rp 38,5 triliun untuk mengobati aneka penyakit dan stress dan borosnya waktu tempuh,” terang M. Kamaludin.
Baca: Lebih Dekat Mengenal JakLingko, Dari Peran Hingga Inovasinya
Tiga Fase Integrasi
Kepada dewan juri, M. Kamaludin memaparkan bahwa JakLingko Indonesia, sebagai perusahaan integrasi pembayaran baru yang didirikan oleh semua Operator Angkutan Umum, mendapat mandat dari para pemegang saham untuk menyiapkan integrasi sistem tiket (rute, tarif, pembayaran yang terintegrasi) serta pengolahan big data pengguna transportasi Jabodetabek.
Untuk itu, lanjutnya, JakLingko Indonesia pun menghadirkan sejumlah solusi TI yang diterapkan dalam 3 fase untuk tercapainya integrasi yang diharapkan.
Fase pertama adalah fase implementasi, dengan 7 program yang dijalankan, yaitu: Peluncuran Standar Kartu Transportasi JakLingko; Peluncuran Mobile App (QR Tiket) JakLingko; Implementasi, Integrasi dan Peluncuran Central Clearing House System (CCHS); dan Upgrade scanner/validator/reader bertahap pada sebagian gerbang di semua moda transportasi (Transjakarta, MRT Jakarta, LRT Jakarta, KCI).
Program berikutnya di fase implementasi berupa Perencanaan Perjalanan (merencanakan, memesan, dan membayar layanan) semua Transportasi Umum; Uji Coba Terbatas; dan Melakukan Audience dengan BI dan Bank penerbit Kartu Uang elektronik (Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI, Bank BCA dan Bank DKI).
“Semua program di fase pertama ini telah selesai dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2021,” tutur M. Kamaludin.
Fase kedua adalah mobility as a service (Super Apps). Fase yang direncanakan selesai tanggal 31 Maret 2022 ini terdiri dari 6 program.
Implementasi Integrasi Tarif dan perubahan bisnis proses dengan tarif berbasis jarak dan pemotongan saldo di belakang saat tap-out; Pengembangan BCT (Balance Check Terminal) di semua Stasiun dan Halte; dan Pengembangan Top-Up Kartu Transportasi di area operator transportasi umum.
Dilanjutkan dengan Integrasi moda Non-PTO berikut dengan pembayaran elektronik; Integrasi dan Standarisasi Kartu Bank regular menjadi Kartu Transportasi;dan Pengembangan media pendapatan diluar tiket (Non Fare Box/NFB) pada Jaklingko Super App.
Fase ketiga adalah Account Based Ticketing (ABT). Fase ini direncanakan selesai tanggal 31 Agustus 2022. Pada fase ini terdapat 6 program.
Integrasi Kartu Uang Elektronik dengan aplikasi mobile; Mendapatkan Profil Penguna Transportasi; Tarif khusus berdasarkan waktu (harian, mingguan dan bulanan).
Kemudian, Tarif khusus berdasarkan profil (seperti: pelajar, disabilitas, manula, profil tertentu lainnya); dan Pembayaran Park & Ride.
Manfaat Integrasi
Menurut M. Kamaludin, dengan hadirnya integrasi ticketing dan tarif JakLingko, banyak manfaat yang didapat. Baik untuk masyarakat, pemerintah, maupun perbankan.
“Bagi masyarakat misalnya, integrasi akan memberi manfaat: cepat, mudah, murah, aman dan handal, serta terhubung ke semua moda.”
“Bagi Pemerintah, integrasi dapat membuat kebijakan tarif menjadi tepat sasaran. Selain itu dapat mengurangi subsidi jangka panjang, mengurangi kemacetan, data transportasi menjadi terpusat, serta dapat memperbaiki kualitas udara ibukota.”
“Sementara bagi Perbankan, integrasi akan mempercepat hadirnya Cashless Society, meningkatkan volume, memperluas kemitraan, dan lahirnya peluang inovasi,” tutupnya.
Baca: Mengenal JakLingko, Sistem Integrasi Transportasi Jakarta














