Jakarta, ItWorks- Kementerian Sosial (Kemensos) RI menjalin sinergitas dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk pengembangan sains dan teknologi. Terutama terkait sistem pengelolaan data berbasis pengindraan jarak jauh dengan dukungan teknologi informasi dalam upaya percepatan pembangunan kesejahteraan sosial.
“Kerja sama dengan LAPAN untuk mendukung penyediaan data berbasis penginderaan jarak jauh guna mendukung penyusunan kebijakan serta pelaksanaan program sesuai salah satu prinsip pembangunan yaitu tematik, holistik, integratif serta spasial,” ujar Menteri Sosial Tri Rismaharini saat penandatanganan kerja sama pada (19/04), di kantor LAPAN, Rawamangun, Jakarta Timur.
Kerjasama Kemensos dan LAPAN untuk system data dan informasi ini sangat strategis untuk pelaksanaan program penyelenggaraan kesejahteraan sosial agar bisa berjalan lebih baik, efektif, serta efisien. “Data dan informasiberbasis penginderaan jarak jauh dari LAPAN mempermudah pengambilan keputusan secara cepat dan tepat terkait mitigasi bencana, bantuan sosial dan dukungan analisis kondisi lingkungan,” ujar Mensos Tri Rismaharini dilasnir dalam siaran pers Humas Kemensos, baru-baru ini.
Selama ini, Kemensos mengelola Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) terkait data penduduk dengan status sosial ekonomi terendah, sehingga dengan data penginderaan jauh bisa memperkaya DTKS dan bisa lebih akurat. “Data penginderaan jauh membantu pemetaan wilayah kemiskinan, kondisi lingkungan keluarga miskin tinggal, serta pemetaan potensi yang bisa dikembangkan,” ungkap Mensos.
Data berbasis penginderaan jauh, juga bisa digunakan dalam pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT), yaitu pemetaan lokasi KAT, melihat ketersediaan akses, serta kondisi sebelum dan sesudah program pemberdayaan.
Secara teknis menggunkaan pemanfaatan titik koordinat dengan jarak hingga setengah meter. Data permukaan bisa dipotret dengan citra satelit hingga jarak setengah meter terkait kondisi untuk menjadi data sebagai bahan pengambilan kebijakan.
Kepala LAPAN, Thomas Djamaludin menyatakan bila citra satelit kurang menangkap data permukaan, pengambilannya akan menggunakan peswat tanpa awak atau drone.
“Untuk di Papua yang berawan citra satelit kurang menangkap, maka akan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone, ” ujar Thomas. (AC)














