YouGov dan Terrapin melakukan penelitian di 12 pasar di Asia Pasifik selama kurun waktu Mei 2020, mencakup hampir 3.400 yang terdiri dari siswa pelajar, orang tua dan pendidik untuk mengetahui pemahaman mereka akan e-learning semenjak terjadinya pandemic, termasuk 215 siswa dan orang tua di Indonesia, dan mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat lebih melibatkan para siswa dan mendukung proses pembelajaran.
Berikut hasil penelitian tersebut:
Teknologi pada pendidikan menjadi norma dalam setahun terakhir ini – dengan hasil yang beragam
Di seluruh Asia Pasifik, di lebih dari 80% siswa dan 95% pendidik tingkat penggunaan teknologi meningkat selama setahun terakhir ini, sementara 68% siswa dan 85% pendidik menghabiskan lebih banyak uang untuk teknologi selama setahun terakhir ini dibandingkan tahun sebelumnya. Tren ini akan berlanjut dengan 66% siswa dan 86% pendidik berencana akan meningkatkan pengeluaran pembelanjaan teknologi pembelajaran di tahun mendatang.
Pendidik dan siswa memiliki pendapat yang berbeda mengenai dampak kelas online terhadap hasil kinerja pendidikan. Pendidik secara relatif lebih positif terkait dengan kinerja mengajar online mereka, tercatat sebesar 59% pendidik yakin bahwa kinerja mengajar mereka meningkat, dan 24% percaya bahwa kinerja mereka tetap terkendali. Namun, penilaian para siswa lebih beragam: sekitar sepertiga siswa menilai bahwa kinerja belajar mereka meningkat, sedangkan sepertiga lainnya yakin bahwa tidak ada perubahan dalam kinerja belajar mereka selama periode online learning, dan sisa sepertiga-nya yakin bahwa kinerja belajar mereka menurun.
Aksesibilitas dan kemudahan keuntungan utama dalam online learning
Di antara para siswa, kemudahan mendapat akses (63%) dan fleksibiltas (50%) disebut sebagai keunggulan utama dalam online learning, termasuk kemampuan mengakses berbagai konten dan materi dari seluruh dunia. Selain itu, 62% siswa dan 67% pendidik memuji kemudahan bekerja tanpa harus pergi ke tempat bekerja.
Sementara itu, 64% dari pendidik menyoroti keuntungan dari sentralisasi materi pengajaran dalam satu sumber online yang mudah diakses seperti Microsoft Teams for Education, seiring dengan 50% mengapresiasi bahwa e-learning mendorong proses pembelajaran yang kolaboratif, dan memungkinkan pembelajaran dan bimbingan yang personal.
Murid dan pendidik tahu apa yang mereka inginkan – tetapi baru mulai memanfaatkan solusi-solusi yang tersedia
Siswa dan orang-tua mereka memilih “sangat penting” agar teknologi menyediakan solusi keamanan (50%), privasi (52%), performa yang fleksibel (26%), dan nilai yang berkelanjutan (29%). Hanya 17% yang memilih “sangat penting” untuk memiliki solusi teknologi dengan biaya yang rendah.
Pendidik juga tertarik pada fitur keamanan khusus untuk pendidikan (75%) dan privasi data (79%), tetapi juga menyebut fitur kolaborasi (64%), alat penilaian siswa (63%), kemudahan dalam penggunaan (59%), dan fitur aksesibilitas (52%) sebagai “sangat penting”.
Namun, meskipun 72% siswa menggunakan laptop seperti Lenovo Yoga dan 29% menggunakan tablet seperti Lenovo IdeaPad untuk mengakses pembelajaran online, hanya sedikit yang menggunakan rangkaian solusi pembelajaran secara lengkap: 38% siswa yang menggunakan aplikasi konferensi video seperti Microsoft Teams, 20% yang menggunakan cloud-based document sharing, dan 14% menggunakan remote-access files. Sekitar 15% siswa memiliki akses ke sistem manajemen pembelajaran online.
Hampir 95% pendidik menggunakan laptop seperti Lenovo ThinkPad untuk kegiatan mengajar sehari-hari. Sementara 76% menggunakan aplikasi konferensi video, 56% menggunakan cloud-based document sharing, dan 36% menggunakan remote access files, sekitar 66% menggunakan sistem manajemen pembelajaran online. Selain itu, 34% telah menggunakan platform virtual reality seperti Lenovo ThinkReality.
Siswa dan pendidik menemukan cara untuk menghadapi kendala teknis, namun gangguan, keterlibatan dan isolasi adalah hambatan.
Jarak secara fisik tidak menghalangi siswa atau guru untuk mendapatkan dukungan teknisi yang mereka butuhkan saat e-learning: meskipun banyak sekali tim teknis sekolah yang tidak mampu menangani banyaknya permintaan, para siswa dan guru menemukan sumber alternatif untuk mendapatkan dukungan teknis. Siswa lebih cenderung (33%) bertanya kepada teman kelas, teman, atau anggota keluarga yang lebih muda untuk membantu dari pada bertanya kepada tim teknisi sekolah (15%). Demikian pula 47% pendidik menyampaikan permasalahan teknis nya ke tim teknisi sekolah, namun 32% mencoba mencari solusinya sendiri, 31% bertanya kepada rekan guru yang lain, dan setidaknya 11% bertanya kepada anak remaja terdekatnya.
Sekitar 14% pendidik telah menggunakan device-as-a-service (DaaS. DaaS menawarkan model berbasis langganan termasuk laptop, desktop, tablet, dukungan teknis, software, dan layanan manajemen.
Siswa dan pendidik menemukan hambatan yang paling besar dalam pembelajaran online pada bidang sosial. Lebih dari 60% siswa dan pendidik menunjukkan bahwa mereka mengalami hubungan sosial yang melemah selama online learning. Empat faktor utama yang disebut sebagai tantangan oleh siswa dan orang tua adalah gangguan di rumah (58%), kurangnya motivasi untuk menghadiri kelas online di rumah (48%), kurangnya umpan balik dan interaksi secara langsung dengan guru/teman sekelas (46%) dan isolasi sosial atau sulitnya bertemu orang lain (41%).
Sementara aplikasi konferensi video menyediakan banyak cara untuk interaksi secara real-time, menghadiri semua kelas mereka melalui layar terbukti menjadi tantangan bagi para siswam 75% pendidik menyebutkan “siswa terganggu atau kehilangan konsentrasi selama sesi pengajaran” sebagai salah satu hambatan utama dalam e-learning.
Baca: Gandeng Zenius, Lenovo Gelar Kompetisi Video Materi Kreatif untuk Guru














