Jakarta, ItWorks- Pandemi Covid-19, di satu sisi telah mendorong akselerasi transformasi digital di berbagai institusi, lembaga dan organisasi di Indonesia. Kendati demikian, seiring meningkatnya digitalisasi, ancaman kejahatan siber juga meningkat. Karena itu membangun kesadaran atau awareness akan pentingnya implementasi IT Security juga perlu terus ditingkatkan.
Perkembangan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), telah mendorong adanya transformasi digital, termasuk terkait bidang ekonomi (ekonomi digital). Dalam kondisi ini, kebutuhan SDM yang memiliki keterampilan dan kinerja yang bisa diandalkan untuk dapat mengimplementasikannya sangatlah penting. Terlebih dalam menghadapi era industri keempat (Industri 4.0) yahg sarat tuntan penggunaan teknologi digital dalam berbagai kegiatan.
Sebagai konsekuensi dari kemajuan dan tuntutan di bidang industri 4.0, maka Iinterdependensi atau ketergantungan satu infrastruktur ke infrastruktur yang lain, juga semakin besar yang didukung sistem TIK. Hal ini akan memberikan manfaat yang besar dan sebaliknya menyimpan kerawanan yang besar pula. Contohnya jika terjadi serangan pada infrastruktur power plant, transportasi, dan perbankan, maka pelayanan public akan terganggu.
Serangan Siber
Beberapa Serangan siber yang cukup menarik perhatian dunia belakangan ini antara lain pada 19 Agustus 2021 terjadi serangan terhadap Bursa Kripto Liquid Global di Jepang mengakibatkan aktivitas penyetoran dan penarikan ditutup. Selain itu, pada 10 Agustus 2021 terjadi serangan siber Pencurian Aset Mata Uang Kripto yang dialami oleh Poly Network hingga mengalami kerugian sebesar US$ 600 juta. Kemudian pada 7 Mei 2021 terjadi serangan ransomware yang menargetkan jaringan pipa bahan bakar terbesar di Amerika Serikat dengan meminta tebusan US$ 5 juta.
Sementara itu, berdasarkan hasil monitoring BSSN, tercatat terdapat 927.130.649 (sembilan ratus dua puluh tujuh juta seratus tiga puluh ribu enam ratus empat puluh sembilan) juta anomali trafik atau serangan siber pada Januari-September 2021. Kategori anomali terbanyak yaitu malware, Denial of Service (mengganggu ketersediaan layanan), dan trojan activity (aktivitas trojan). Serangan siber yang menjadi perhatian dan terus mengalami peningkatan yaitu banyaknya serangan grup ransomware dan Denial of Service.
“ Presiden Joko Widodo telah mengingatkan kita, bahwa Indonesia harus siaga menghadapi ancaman kejahatan siber, termasuk kejahatan penyalahgunaan data. Serta dalam bidang pertahanan keamanan, kita harus tanggap dan siap menghadapi perang siber,”ujar Irjen Pol. Dono Indarto, S.IK, M.H – Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi, Badan Siber Sandi Negara (BSSN) dalam pembukaan acara webinar (14/10/2021).
Lebih lanjut dikatakan, keamanan siber merupakan kesatuan dari teknologi informasi yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga menjadi sebuah kepentingan baru bagi para pemangku kepentingan dan juga masyarakat luas. Dalam waktu hampir dua tahun, krisis COVID-19 telah membawa perubahan selama bertahun-tahun dalam cara perusahaan di semua sektor dan wilayah menjalankan bisnis, Selama pandemi, perilaku konsumen telah bergerak secara dramatis memilih channel online, dan
perusahaan serta industri secara cepat juga merespons dengan melakukan transformasi bisnis
secara digital.
Tentunya ini menjadikan Risiko digital yang kita hadapi saat ini lebih kompleks dari sebelumnya.
krisis COVID-19 memengaruhi lanskap keamanan siber, memaksa pemangku kebijakan
diperusahaan untuk beradaptasi dengan tantangan yang datang secara tiba-tiba, tidak terduga
dan belum pernah terjadi sebelumnya.
“Isu-isu seperti Ransomware, Data Privacy, Human element dan lainnya akan menjadi topik bahasan para webinar Cybersecurity Month kali ini. Dengan adanya kegiatan Cyber security Month 2021 seperti ini, kami harapkan dapat menjadi upaya aktif Industri, pemerintah dan ekosistem untuk bisa berperan dan mendukung keamanan siber di Indonesia,” ujarnya Eva Noor CEO PT Xynexis International dalam acara pembukaan webinar IGNITE yang bertujuan meningkatkan awareness tentang keamanan siber, sekaligus memberikan wawasan yang bagi para pemangku kebijakan di Industri.
Ransomware merupakan salah satu jenis serangan siber yang dapat mengakibatkan kerugian finansial yang sangat besar. Puluhan hingga ratusan milyaran rupiah adalah angka yang sering diminta oleh pelaku kejahatan sebagai tebusan untuk mengembalikan data yang mereka serang dengan menggunakan ransomware.
Bahkan kerugian beberapa perusahaan dalam satu negara bisa mencapai angka triliunan rupiah. Oleh karena itu berbagai cara perlu dilakukan oleh setiap perusahaan atau instansi dalam melakukan pengamanan bagi aset informasi penting yang dimiliki.
“Webinar yang kami selenggarakan ini bertujuan untuk membantu para personil yang memiliki tanggungjawab dalam melindungi informasi penting yang dimiliki organisasinya. Harapan kami, melalui webinar ini bisa mendapatkan tambahan wawasan dan ide baru yang berguna dalam membantu organisasi dalam melakukan pengamanan informasi,” ujar Eva Noor.
Perusahaan atau instansi baik besar maupun kecil, dan dari berbagai sektor, khususnya yang mengelola data pribadi pelanggannya menjadi target utama bagi para pelaku kejahatan siber. Individu personilpun ada yang menjadi target kejahatan. Umumnya kejahatan yang menyasar individu ini memantau akun-akun media sosial yang dimiliki individu tersebut dan mencari kelemahannya.
Untuk mengantisipasi kebocoran data pribadi ini, para pemangku kepentingan yang terkait telah bergerak bersama untuk membantu memberikan solusi yang tepat. Dan webinar yang diselenggarakan ini juga merupakanupaya kami dalam membantu memberikan wawasan dan solusi untuk mengantisipasiadanya kebocoran data pribadi.
Webinar yang di selenggarakan Ignite mendekati penghujung tahun 2021 ini,berujuan penyelenggara Yogiswara Witha, bertujuan untuk menambah wawasan yang lebih luas pada bidang keamanan siber di Indonesia.
“Kegiatan webinar yang menghadirkan beberapa pembicara dibidangnya mengupas berbagai hal dari sisi teknis dan non teknis keamanansiber yang akan dilakukan dalam waktu hampir satu bulan dalam tiap minggunya, dimulai pada tanggal 14 Oktober hingga 11 November 2021 guna membantu pemerintah dalam memberikan kesadaran akan keamanan siber hususnya,” ujar Yogiswara Witha.
Selama lima minggu ke depan dari mulai tanggal 14 Oktober hingga 11 November 2021, setiap hari Kamis, IGNITE – Member of Xynexis Group bersama Palo Alto Networks akan mengadakan webinar terkait beberapa topik populer di bidang Cybersecurity diantara nya Ransomware, Data Privacy, Security Operation Center (SOC), Digital Forensic, dan Security Awareness. Acara ini juga didukungoleh regulator seperti BSSN dan Kominfo dan mewakili sektor swasta Xynexis International dan PT Noosc Security Global
Dengan banyaknya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan, diharapkan akan dapat mendorong SDM dibidang keamanan siber untuk dapat memiliki kompetensi yang lebih baik dalam bidang keamanan siber. Serta tertarik untuk memilih keamanan siber sebagai bidang karirnya dan membantu lebih banyak untuk bisa menjadi pemimpin dalam industri ini.
Dengan terwujudnya hal tersebut diharapkan dapat menambah value SDM pada keamanan siber serta makin kompeten dan strategis posisi tersebut dalam penanganan gangguan keamanan yang makin berkembang pesat.
Dalam pelaksanaan webinar cyberweek 2021, Ignite menggandeng Palo Alto Networks berkolaborasi dan menjadi bagian dari kegiatan CyberSecurity Month. Seperti dalam laporan yang telah disampaikan oleh Unit 42, divisi Threat Intelligence dari Palo Alto Networks, besaran tebusan rata-rata ransomware mengalami peningkatan yang sangat signifikan sebesar 171% year-on-year dan besaran tebusan tertinggi yang pernah dibayar oleh korban ransomware juga naik dua kali lipat.
“Melihat ancaman ransomware yang tidak akan berhenti dan semakin canggih, maka dari itu harus ada terobosan kerjasama dengan pihak-pihak terkait baik pemerintah, swasta dan akademisi untuk memberikan strategi keamanan siber yang akan membantu organisasi untuk lebih siap menghadapi ancaman serupa di masa datang,” ujar Adi Rusli (12/10), Country Manager Palo Alto Networks Indonesia dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan data cyber security ventures, diprediksi terdapat peluang pekerjaan di bidang keamanan siber sekitar 3,5 juta pada beberapa tahun kedepan. Hal ini menjadi peluang besar bagi para sumber daya manusia di bidang IT untuk mengembangkan diri di bidang keamanan siber.
Semakin banyak perhatian dan awareness berbagai institusi untuk mendorong dan bisa berperan dalam membangun keamanan siber, maka kompleksitas masalah di berbagai sektor terkait kamsiber di Indonesia lebih memungkinkan cepat tertangani.
Ignite memberikan awareness, education, dan empowerment kepada para SDM di bidang keamanan siber. Serta akan bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam pelaksanaannya. Baik dari pemerintahan, industri, komunitas, dan akademisi melalui program yang menginspirasi dan memiliki dampak yang positif.
Program-program yang akan dilaksanakan disesuaikan dengan tujuan Ignite, antara lain memberi wawasan mengenai keamanan siber pada berbagai macam sasaran, mendorong SDM dan pemangku jabatan untuk memilih keamanan siber sebagai bidang yang cukup strategis dalam usaha menangkal berbagai masalah dalam keamanan siber. (AC)















